Ngidang, Tradisi Makan Bersama Khas Bumi Sriwijaya yang Tergeser oleh Zaman

Sumber foto: ist

Palembang memiliki banyak tradisi yang penuh makna dari peninggalan Sang Leluhur. Selain terkenal akan sejarahnya, Bumi Sriwijaya ini pun kaya akan budaya yang hingga saat ini masih terjaga meskipun tergeser oleh modernisasi. Sebagian dari kita cukup asing mendengar istilah “Ngidang” pada saat jamuan makan bersama atau dalam perayaan acara besar masyarakat Palembang.

Ngidang atau ngobeng adalah tata cara penyajian makanan saat ada acara seperti sedekah, pernikahan, khitanan dan lain-lain. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dan memuliakan tamu serta dapat mempererat silaturahmi karena dari delapan orang untuk satu hidangan ini bisa saling berkomunikasi dan menerapkan tolong menolong dalam mengantarkan lauk-pauknya.

Mengutip dari sumsel.idntimes.com, pada era millineal saat ini, budaya ngobeng-ngidang biasa hanya dilakukan saat mengenang wafatnya Sultan Mahmud Badaruddin II pada 26 November 1852 yang meninggal saat pengasingan Ternate. Warga Palembang pun sudah tidak banyak lagi yang melestarikan tradisi tersebut. Dengan itu, budaya ngobeng-ngidang menjadi acara rutin yang diselenggarakan setiap tahunnya.

Asal Muasal Ngidang

Tradisi ini dimulai pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam yang berasimilasi atau berbaur dengan budaya lokal. Dalam budaya Arab, semua hidangan dijadikan dalam satu tampah, sementara di Palembang sendiri lauk-pauk semua terpisah tidak dijadikan satu.

Delapan orang duduk lesehan bersila mengelilingi hidangan yang telah disajikan diatas selembar kain persegi. Kain persegi ini bermakna sebagai alas hidangan yang disajikan agar tidak mengotori rumah alias menghargai tuan rumah yang telah menjamu makan. Hidangan yang disajikan ialah nasi minyak, nasi putih hingga lauk-pauk khas Palembang, kemudian delapan orang tadi menyantapnya dengan tangan bersama-sama.

Dalam tradisi Ngidang, terdapaat juga aturan-aturan siapa saja yang duduk dalam satu lingkaran tersebut. Peraturan ini biasanya dapat dilihat dari strata sosial, usia, dan jenis kelamin. Misalnya peraturan laki-laki harus berkumpul dengan laki-laki, yang tua satu lingkaran dengan yang tua juga, begitupun sebaliknya.

Dewasa ini, tradisi Ngidang sudah jarang kita temui karena banyaknya akulturasi budaya sehingga masyarakat lebih memilih cara Prasmanan. Terkhususnya lagi kaum milenial yang lebih menyukai mengambil hidangan sendiri-sendiri dalam sebuah meja panjang dan menikmati satu piring makanan itu sendirian pula.

Dalam Ngidang, terdapat istilah-istilah lain didalamnya yakni Ngobeng. Istilah ini diperuntukkan kepada petugas khusus yang membawa makanan yang melayani secara langsung para tamu. Mereka tak henti-hentinnya dilayani oleh Ngobeng. Mulai dari mencuci tangan, menghantarkan lauk-pauk, hingga ingin menambah nasi atau akrab didengar ‘mubuh’ dalam sebutan Palembang. Tradisi ini juga mengajarkan kita untuk mengambil makanan seperlunya agar tidak mubazir.

Baca Juga: Delik Omeli Suami Berujung Bui

Hikmah yang dapat dipetik dari Tradisi Ngidang
Kebersamaan

Kebersamaan ini tercipta ketika semua kalangan tua hingga kaula muda berbaur dalam satu tempat dan makan bersama. Komunikasi antar mereka dapat menciptakan suasana hangat keakraban antar sesama sehingga silaturahmi pun tetap terjaga. Selain itu, tamu undangan lainnya juga bisa saling berjumpa dan mendapatkan kerabat baru

Menumbuhkan rasa gotong royong

Dalam proses penyajian, Ngidang dilakukan secara estafet atau mengoper makanan dari orang ke orang. Banyak orang membentuk barisan untuk mengiring makanan hingga sampai tempat hidangan. Dalam proses memasak juga beberapa hari sebelum acara, para perempuan sekitar biasanya berkumpul dan gotong royong untuk memasak di dapur.

Tidak Mubazir dan Santun

Ketika disajikan banyak hidangan yang terlihat lezat, tradisi Ngidang juga melatih kita untuk mengambil makanan seperlunya saja agar tidak mubazir.

Kita akan merasa tidak enak jika ingin mengambil makanan yang jauh dari jangkauan, maka dari itu lah dilatih menjaga etika dan sopan santun untuk meminta tolong diambilkan hidangan tersebut. Selain itu, biasanya para tetua lebih didahulukan mendapatkan makanan daripada para kaula muda.

Toleransi

Ketika kita menghadiri acara dan mengikuti tradisi Ngidang, tentunya naluri kita sebagai tamu akan tergerak untuk membersihkan dan merapikan hidangannya seusai makan. Dalam bahasa Palembang, ini dikenal sebagai ‘beringkes’ atau berkemas setelah menghabiskan makanan.

Toleransi ini juga ditujukan untuk taun rumah dan tamu undangan agar bersikap saling menghormati dan menghargai. Tuan rumah memperlakukan tamunya selayaknya raja, tamu undangan pun harus bersikap sebagai tamu yang baik pada umumnya.

Reporter: Ellysa Meliana
Editor: M. Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *