Mengenal Soekitman, Polisi yang Menjadi Saksi Pembantaian G30SPKI

Lubang buaya tempat pembuangan para Jenderal.
Sumber foto: Liputan6.com

Halo sahabat Ukhuwah, untuk mengingat kembali peristiwa penghianatan G30SPKI. Pada artikel kali ini kita akan mengulas sekaligus mengenal Soekitman, sang saksi hidup aksi propaganda pembantaian terhadap tujuh Jenderal tinggi Indonesia.

AKBP Soekitman mengaku melihat langsung ketujuh jendral TNI yang dibantai oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) G30S/PKI dan penemu lokasi pembuangan jenazah para Jenderal Pahlawan Revolusi Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Siapa Soekitman

Dilansir dari Wikipedia, Soekitman lahir di Kelurahan Cimanggu, Kota Pelabuhan Cimanggu, Jawa Barat. Di usia 18 tahun, ia merantau ke Jakarta dan lulus ujian seleksi masuk Sekolah Polisi Negara SPN Kramat Jati, Jakarta Timur pada 1961, dan menyelesaikan pendidikannya pada Januari 1963.

Soekitman terakhir berdinas di Kepolisian selaku Kepala Sub Bagian (Kasubag) Regiden Polda Metro Jaya, dan pensiun pada 1998.

Kronologi menurut cerita Soekitman

Dilansir dari Liputan6, pada 30 September 1965 malam, Soekitman tengah menjalankan tugas, menjaga markas Seksi Vm Kebayoran Baru, Wisma AURI di Jalan Iskandarsyah, Jakarta.

Tak terasa waktu telah melewati hari 1 Oktober 1965 pada pukul 03.00 WIB. Tiba-tiba, terdengar suara tembakan diikuti rentetan letusan senjata. Suaranya terdengar tak jauh dari pos jaga.

Soekitman yang penasaran langsung mengayuh sepeda kumbangnya dan mencari sumber suara letupan senjata. Dipikirannya, telah terjadi perampokan di salah satu rumah warga. Suara tembakan itu ternyata berasal dari rumah seorang Jenderal TNI Angkatan Darat, yaitu D.I Panjaitan. Dari cerita Soekitman di rumah itu sudah ramai diduduki pasukan.

Belum sempat mendekat, Soekitman di hadang dan diculik oleh pasukan yang berseragam loreng dan berbaret merah.

Soekitman di todong senjata dan diperintah untuk mengangkat tangan serta memberikan senjata miliknya. Ia pun menuruti perintah tentara itu, Soekitman diseret dan dilemparkan ke dalam truk.

Walau kaki dan tangan terikat serta penutup mata, Soekitman merasa ia ditempatkan di samping posisi sopir truk.

Dengan daya ingatnya, Soekitman berupaya mencari tau kemana dirinya akan dibawa dengan cara mengingat jalan yang dilaluinya. Truk pembawa Sekitman berhenti, ia dipaksa turun kemudian penutup matanya dibuka. Di sebuah ruangan terang dipakirkan.

Pada saat itu, Soekitman mendengar orang bicara “Yani wes dipateni (Yani sudah dibunuh)”. Seorang tentara kemudian menghampirinya. Tahu sanderanya seorang polisi, Soekitman kemudian diseret ke dalam tenda.

Kala itu keadaan remang-remang. Seluruh sudut ruangan tak lepas dari pengamatan Soekitman. Ia menggambarkan suasana saat di lokasi ada orang yang terlentang dengan banyak darah, ada juga yang duduk di kursi dengan bersimbah darah segar. Seseorang bernama Lettu Dul Arief memerintah agar Soekitman ditawan di depan rumah.

Saat hari sudah terang, Soekitman melihat sekelompok orang yang mengerumuni sebuah semur sambil berteriak, “Ganyang kabir, ganyang kabir!’’.

Tubuh-tubuh manusia kemudian dimasukan ke dalam sumur itu, disusul dengan berondongan peluru.

Setelah mengeksekusi, para tentara itu mengangkuti sampah dan menutupi sumur tersebut. Di atas sumur kemudian ditancapkan pohon pisang. Diharapkan dengan cara begitu perbuatan kejam mereka sulit dilacak.

Soekitman bisa melihat jelas siapa saja yang terlibat pada peristiwa itu. Ia juga sempat melihat Letkol Untung, yang memimpin kejadian kelam dalam sejarah militer di Indonesia.

Salah satu anggota Cakrabirawa menghampiri Soekitman.

“Kamu tidak usah takut. Kita sama-sama prajurit. Beli kaus singlet pun kita tidak bisa. Sementara para jenderal yang menamakan diri Dewan Jenderal, jam dinding di rumahnya saja terbuat dari emas dan mereka akan membunuh Presiden pada tanggal 5 Oktober. Kamu kan tahu Tjakrabirawa tugasnya adalah sebagai pengawal dan penjaga Presiden,” kata Soekitman mengulangi apa yang diucapkan si anggota Tjakrabirawa tersebut.

Sekitar satu-dua jam kemudian terdengar siaran radio yang mengumumkan siapa yang mendukung G30S akan dinaikkan pangkatnya. Satu tingkat untuk prajurit, sementara yang aktif akan memperoleh kenaikan dua tingkat. Mereka yang merasa terlibat kemudian bersalam-salaman, karena merasa gerakan mereka sukses.

Saat suasana lebih tenang, Soekitman dipanggil oleh Lettu Dul Arief dan menanyakan senjata miliknya. Ia kemudian menceritakan apa yang terjadi ketika berada di daerah Kebayoran. Akhirnya senjata tersebut ditemukan tetapi dalam keadaan patah.

Merasa Soekitman bukan musuh tapi teman senasib, pada Jumat sore itu Soekitman diajak menuju Halim bersama iring-iringan pasukan. Sesampainya di Gedung Penas, pasukan diturunkan di lapangan, sementara Soekitman masih bersama Dul Arief.

Pada malam harinya orang yang mengawasi tawanan malah mengajak Soekitman untuk mengambil nasi. Selesai mengambil nasi, mereka segera kembali ke Gedung Penas untuk membagikan kepada para pasukan.

Ketika kembali menuju Gedung Penas Soekitman sempat turun untuk membeli rokok. Ia sempat berpikir untuk pulang saja. Namun, niatan tersebut kemudian dilarang oleh Kopral Iskak yang menjadi sopir, dengan alasan dirinya juga pulang ke Tanah Abang. Ternyata Iskak adalah sopir Letkol Untung.

Soekitman akhirnya tertidur dan baru bangun esok harinya. Ketika itu, pasukan semakin banyak dan sudah berganti pakaian.

Karena merasa pusing, Soekitman kemudian masuk ke kolong truk dan berbaring. Kepalanya ia ikat dengan menggunakan scraft yang sebelumnya digunakan oleh para pemberontak. Ia kemudian benar-benar tertidur pulas.

Sore harinya saat ia terbangun, dia mendapati dirinya hanya sendirian. Semua anggota pasukan tidak kelihatan satupun, truk juga masih berjejer. Keadaan yang lengang dirasa sebagai keuntungan untuk Soekitman untuk bisa pergi.

Ditemukannya korban pembantaian

Foto lawas Soekitman.
Sumber foto: Liputan6.com

Paginya pada 1 Oktober, datang pasukan tentara yang kemudian diketahui mencari jejak anggota yang terlibat G30S/PKI.

Pasukan itu mengenakan tanda pita putih, karena tidak ada siapa-siapa lagi, Soekitman pun diperiksa. Soekitman menceritakan tentang apa yang dialaminya. Setelah selesai, hal itu disebarkan ke berbagai pihak yang dianggap perlu mengetahuinya.

Minggu pagi, Soekitman dijemput dan dihadapkan kepada Pangdam V Jaya yang waktu itu dijabat oleh Mayjen Umar Wirahadikusumah. Ia kemudian dibawa oleh Mayor Mubardi, ajudan Jenderal Ahmad Yani ke Jalan Lembang, Jalan Saharjo, dan ke Cijantung. Di sana Soekitman menghadap Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Soekitman diminta menunjukkan lokasi pembantaian. Dia dikawal pasukan RPKAD, sampai di lokasi, pasukan pemberontak masih banyak yang berkeliaran. Mereka diberi ultimatum, jika tidak menyerah akan segera ditembak. Akhirnya RPKAD dapat menguasai keadaan dan bisa menemukan sumur yang digunakan untuk menyembunyikan jenazah para Pahlawan Revolusi itu.

Sejak hari Minggu, pukul 22.00, Soekitman sudah berada di bawah pengawasan Sarwo Edhie. Dirinya dilarang untuk berbicara apa pun kepada orang lain pada hari Senin, jenazah para Pahlawan Revolusi berhasil diangkat dari sumur dan segera dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Pada akhirnya pada keesokannya Soekitman dipulangkan.  

Penulis: Wisnu Alfin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *