Mari Kenali Gejala Burnout Syndrome selama WFH

Ilustrasi by Reza Arya

Penulis : Jeniedya (Pengurus LPM Ukhuwah)

Hingga saat ini, Pandemi Covid-19 masih saja membuat banyak orang harus melakukan pekerjaan mereka dari rumah atau biasa kita kenal dengan istilah Work From Home (WFH). Awalnya, kebijakan ini disambut gembira oleh banyak pihak, tetapi lambat laun kondisi ini membuat mereka merasa tertekan. Kondisi inilah yang dikenal dengan sebutan burnout syndrome.

Menurut ahli psikolog, Herbert Freudenberger Burnout syndrome adalah kondisi kelelahan mental dan fisik yang disebabkan oleh kehidupan profesional seseorang. Baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan burnout sebagai sebuah sindrom yang dikonsepkan sebagai hasil dari stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola. Mungkin sebagian orang masih menganggap hal ini normal, akan tetapi jika hal ini dibiarkan maka akan berakibat hilangnya minat untuk bekerja dan menurunnya produktivitas dalam bekerja.

Dilansir dari halodoc.com, meskipun bukan termasuk penyakit fisik, Burnout Syndrome tidak boleh di anggap sepele karena jika terus dibiarkan maka seseorang yang mengalami syndrome ini rentan terkena penyakit fisik seperti demam dan flu. Tapi pada umumnya burnout ini disebabkan karena ketidakmampuan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan, bayangan pekerjaan yang tidak jelas, serta pekerjaan yang terlalu monoton.

Setiap orang menunjukkan gejala burnout yang berbeda-beda, tergantung dengan individunya dan lingkungan sekitarnya. Namun, apabila mulai merasa semangat kerja menurun, sulit berkonsentrasi, dan malas maka harus mulai berhati-hati. Ada beberapa gejala yang yang menandakan seseorang terkena burnout.

Pertama, perubahan kondisi fisik, burnout bisa mempengaruhi dan menyebabkan perubahan pada kondisi fisik. Sindrom ini menimbulkan rasa lelah, lemas, sering sakit, menurunnya nafsu makan dan gangguan tidur di malah hari atau insomnia.

Kedua, perubahan emosional, selain perubahan pada kondisi fisik, burnout juga bisa memengaruhi kondisi emosional seseorang. Biasanya, penderita burnout sering kali merasa gagal dan sering meragukan diri sendiri, merasa sendirian, hilangnya motivasi dan menjadi lebih sensitif.

Ketiga, perubahan pada perilaku, kondisi ini menyebabkan seseorang sering melepaskan tanggung jawab, menjauhkan diri dari rekan kerja, menunda-nunda pekerjaan, makan berlebihan, tidak tepat waktu dan tidak mengerjakan tugas atau pekerjaan yang diberikan.

Salah satu penyebab burnout adalah pekerjaan yang terlalu monoton atau itu-itu saja sehingga seseorang tidak merasa tertantang dan malah menimbulkan rasa bosan. Jika tidak ditangani dengan cepat, burnout dapat merusak kesehatan mental yang lebih luas, maka dari itu apabila sudah mengalami gejala-gejala burnout maka harus segera mengambil tindakan.

Dilansir dari artikel Kompas.com, ada empat cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi burnout. Kita perlu berinteraksi dengan orang lain. Pada umumnya, seseorang hanya membutuhkan teman untuk bercerita dan tidak selalu membutuhkan solusi. Maka dari itu, dengan berinteraksi atau kontak sosial seseorang akan lebih mudah untuk melepaskan stress.

Kemudian, mengubah cara pandang terhadap pekerjaan. Ketika sedang berada ditengah kesibukan bekerja, cobalah untuk menemukan nilai baru dari pekerjaan itu sendiri. Misalnya, bagian daripekerjaan yang disenangi dan dampak pekerjaan kita bagi orang lain.

Lalu, Mengevaluasi proritas hidup. Burnout dapat menjadi indikasi sesuatu yang kita anggap penting, tapi ternyata tidak memberikan hasil yang sesuai harapan. Bisa jadi, pada kondisi ini saatnya kita memikirkan kembali mimpi, target, atau harapan dalam kehidupan.

Dan terakhir, berolahraga dan diet sehat. Salah satu cara mengatasi burnout yaitu dengan berolahraga ringan. Sebab, dengan berolahraga ringan setidaknya selama 10 menit, dapat memperbaiki mood hingga 2 jam. Saat berolahraga, fokuskan pikiran pada sensasi yang dirasakan oleh tubuh. Hindari larut dalam pikiran kita sendiri. Tak hanya berolahraga, konsumsi makanan yang sehat juga dapat meningkatkan suasan hati.

WFH memang rentan terkena burnout syndrome, akan tetapi hal tersebut dapat dicegah apabila menerapkan beberapa cara agar terhindar dari burnout syndrome.

Langkah pertama, mengatur kembali batasan jam kerja, jangan terlalu berlebihan dalam bekerja, buatlah batasan jam kerja sehingga bisa meluangkan sedikti waktu untuk beristirahat.

Langkah kedua, melakukan aktivitas yang positif, apabila telah selesai bekerja, cobalah untuk melakukan hal positif seperti berolahraga atau kegiatan positif lainnya.

Ketiga, kita harus mengubah pola pikir, bekerja dari rumah tidak bisa disamakan dengan bekerja dari kantor, karenanya harus memaklumi apabila hasil pekerjaan tidak maksimal.

Terakhir, melakukan perencanaan kerja, buatlah perencanaan kerja yang terstruktur, sehingga apabila waktunya istirahat maka harus berhenti untuk sementara waktu.

Walaupun Work From Home (WFH) lebih santai, namun hal tersebut juga bisa membuat kita mengalami stres kerja yang pada akhirnya melahirkan burnout syndrome. Maka dari itu, koreksi lagi pola WFH yang akan diterapkan agar tidak mengalami burnout syndrome tersebut.

Editor : Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *