Lebaran Kedua Masyarakat Jawa Setelah Hari Raya Idul Fitri

Sumber : Pinterest

Banyak sekali tradisi yang ada di daerah–daerah Indonesia. Namun, ada satu tradisi menarik setelah Hari Raya Idul Fitri yakni Lebaran Ketupat, tradisi yang tumbuh di masyarakat Jawa.

Dilansir dari nu.or.id, masyarakat Jawa terbiasa melaksanakan lebaran ketupat, yang kerap dianggap sebagai pelengkap hari kemenangan.

Masyarakat Jawa umumnya mengenal dua kali pelaksanaan lebaran, yaitu Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. Idul Fitri dilaksanakan tepat pada 1 Syawal, sedangkan lebaran ketupat dirayakan satu minggu setelahnya (8 Syawal) sebagai simbol dari rasa syukur. 

Mbah (Nenek) Satuni (89) warga Dusun Sumbusari Kecamatan Mesuji Raya, yang merupakan asli orang Jawa Timur mengatakan, tradisi lebaran ketupat sudah ada sejak zaman nenek moyang, dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal).

“Kalau masyarakat jawa itu lebaran dua kali, ada lebaran Idul Fitri ada lebaran ketupat, tetapi kebanyakan orang sekarang tidak mengerti, ngertinya dimana ada lebaran Idul Fitri disitu ada ketupat, kalau di kami tidak, kami harus nunggu seminggu dulu baru ada lebaran ketupat,” ujarnya pada Rabu, (19/5/2021).

Mbah menambahkan, di Jawa tradisinya yasinan, jadi seluruh masyarakat desa itu berkumpul di satu tempat. Tapi tidak berlaku di Dusun Sumbusari, masyarakat di sini merayakan di rumah masing–masing.

“Bisa bertemu lagi dengan keluarga saat lebaran ketupat, jika ada yang datang kerumah akan disuguhi ketupat bersama sayur lodeh maupun ayam. Tidak ada kue lebaran, biasanya kalau orang Jawa yang lebih rame malah di lebaran ketupat,” kata mbah Satuni.

Lebih lanjut Mbah Satuni (89) menjelaskan, persiapan menyambut lebaran ketupat adalah dengan menyiapkan janur untuk membuat ketupat.

“Kan sekarang banyak yang buat janur dari pohon kelapa. Kalau memakai janur kelapa gading, waktu pengukusan ada rasa khas sendiri bagi ketupat itu,” ungkap mbah yang berasal dari kabupaten Lumajang.

Salah satu kebiasaan orang Jawa ketika lebaran ketupat adalah mengalungkan ketupat di leher hewan peliharaan agar hewan tersebut selalu sehat dan membawa keberkahan. Ukhuwahfoto/IST.

Tidak hanya itu, mbah juga mengungkapkan tradisi lain saat lebaran ketupat, yaitu mengikatkan ketupat pada hewan peliharaan yang sedang hamil.

“Jadi ketupat ditaruh di kandang, maksudnya berbagi dengan hewan peliharaan. Ada juga yang taruh di depan pintu itu sebagai syarat, supaya leluhur kita juga merasakan lebaran ketupat ini, dan boleh juga kita makan setelah stok ketupat habis,” tuturnya.

Namun, seiring berjalannya waktu tradisi ini mulai terlupakan. Salah satu penduduk Dusun Sumbusari, Nurhayati (42) mengatakan bahwa di dusunnya yang mayoritasnya masyarakat Jawa sudah jarang merayakan lebaran ketupat. Hanya orang–orang yang tahu dan paham saja yang merayakan.

“Harusnya tradisi ini dibudayakan dan dibiasakan kembali karena bagus, dan anak–anak zaman sekarang. Jangan cuma kenal teknologi, tetapi juga menghargai, mempelajari, serta mengetahui tradisi dari kebiasaaan yang sudah diterapkan dari zaman dulu,” pungkasnya.

Reporter : Vandea Helga Fany
Editor : Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *