Keutamaan Dan Indahnya Berbagi Pada Hari Raya Kurban

Sapi merupakan salah satu dari hewan yang bisa dijadikan kurban, dan akan disembelih pada hari raya Idul Adha. Sumber foto: (BogorDaily.net)

Penulis: Maiza Fikri, M.M., CHRM., CCP (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah)

Kumandang tasbih, tahmid serta kalimat tauhid yang dilantunkan para jemaah haji di tanah suci Mekkah mengayun merdu kedalam hati sanubari kita yang berada di tanah air Indonesia. Rasanya ikut merasakan kegembiraan mereka yang beribadah haji disana.

Labbaika allahumma labbaik (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang)

لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ

Labbaika laa syariika laka labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu)

Namun, kita tidak perlu bersedih tidak bisa melaksanakan ibadah tersebut. Karena kita akan ikut dalam kegembiraan pada saat tanggal 10 Zulhijah tepat dimana hari raya Idul Adha. 

Sebagaimana diketahui, amalan yang paling baik dikerjakan saat hari raya Idul Adha ialah menyembelih hewan kurban. Amalan tersebut tidak kalah banding nya dengan ibadah yang dilaksanakan oleh para jemaah ibadah haji.

Ketika kita mendengar kata Idul Adha atau Lebaran Haji tentu yang kita ingat terlebih dahulu ialah saat dimana seluruh umat muslim berupaya mengumpulkan rupiah untuk memburu hewan kurban.

Hewan inilah yang nantinya disembelih di hari raya Idul Adha, dan bagi yang belum berkesempatan untuk melaksanakan ibadah kurban tentu yang ada dipikiran akan mendapatkan daging dari perayaan Idul Adha tersebut.

Memang  itu menjadi hal yang wajar, tetapi terkadang kita hanya antusias dalam perayaannya saja tanpa paham mengenai makna, kandungan ataupun manfaat dari hari raya Idul Adha itu sendiri.

Sumber foto: Cermati.com

Sebenarnya apa saja sih yang harus dipersiapkan menuju Idul Adha dan apa saja dalil serta sejarahnya?

Dilansir dari Umrohpedia berikut dalil dan apa saja yang perlu dipersiapkan menuju hari raya Idul Adha:

Perintah untuk berkurban

Perintah berkurban telah diturunkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya yang disampaikan dalam beberapa ayat Al quran yang diturunkan dalam surat yang berbeda-beda. Salah satu ayat yang menyampaikan pesan kepada umat Islam untuk berkurban adalah dalam surat Al-Kautsar ayat 2:

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah”. (Al-Kautsar: 2).

Sementara dalam surat Al-Maidah dalam ayat 27, Allah menurunkan wahyu tentang kurban yang dilakukan putra Adam, Qabil dan Habil.

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, ‘Sungguh, aku pasti membunuhmu!’ Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa” (Al-Maidah: 27).

Perintah berkurban juga diturunkan Allah dalam surat As-Saffat ayat 102. Ayat ini berisi tentang Nabi Ibrahim yang bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.

Ketentuan ibadah kurban

Mengutip dari pedoman ataupun tuntunan yang disyariatkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga para ulama Nahdatul Ulama untuk menjadi hewan kurban domba atau kambing setidaknya harus berusia lebih dari satu tahun.

Bisa juga dijadikan hewan kurban saat domba sudah berganti giginya. Sedangkan untuk kambing minimal harus berusia lebih dari dua tahun.

Sapi dan kerbau juga harus mempunyai usia lebih dari dua tahun untuk menjadi hewan kurban. Yang ingin berkurban unta harus memastikan usia hewan berpunuk tersebut telah lebih dari lima tahun. 

Selain dari usia dan jenisnya, hewan kurban juga harus dalam kondisi sehat dan tidak cacat. Sebelum membeli, pastikan dulu hewan kurban tidak dalam kondisi matanya buta, sakit, kakinya pincang dan terlalu kurus atau gemuk.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari al-Barra bin Azib radliyallâhu ‘anh: “Ada empat macam hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban,

“Pertama yang matanya buta, yang fisiknya dalam keadaan sakit, yang kakinya pincang, dan yang badannya kurus lagi tak berlemak.” (Hadits Hasan Shahih, riwayat al-Tirmidzi: 1417 dan Abu Dawud: 2420).

Cacat hewan seperti putus telinga atau ekornya juga tidak sah dijadikan hewan kurban. Sebab cacat ini mengakibatkan daging hewan kurban berkurang.

Disamping Idul Adha dinamakan hari Raya Haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berkurban, yaitu dengan menyembelih hewan kurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT. Selain itu, Idul Adha juga berarti menyembelih “hawa nafsu”.

Lalu apa hubungannya Hari Raya Idul Adha dengan menyembelih hawa nafsu? “Adha” sendiri memiliki makna penyembelihan. Tidak hanya menyembelih hewan kurban, tetapi juga menyembelih sesuatu yang buruk dari diri sendiri.

Dalam surat Al-A’raaf ayat 179, disebutkan bahwa manusia memiliki sifat seperti binatang ternak. Hal ini dapat dilihat dari hawa nafsu yang dimiliki manusia. Sehingga hal tersebut patut disembelih layaknya menyembelih hewan ternak.

Pada akhirnya adapun hikmah yang dapat kita ambil dalam nikmat berkurban ataupun Lebaran Kurban ialah setiap muslim yang berkurban akan mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Ismail Alaihissalam.

Hal ini membuahkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan kecintaan kepada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Ismail pun berubah menjadi seekor domba, atau Kambing mapun untuk tujuh orang muslim dengan berupa hewan sapi atau kerbau maupun unta.

Semoga kita menjadi muslim dan mukmin yang pandai bersyukur akan nikmat Allah SWT yang telah diberikan. Amiin Yaa Rabbal Alaamin.

Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *