Hari Remaja Internasional dan Gangguan Mental yang Mengintai

Ilustrasi: Dwi Reynaldi

Hari Remaja Internasional atau International Youth Day diperingati setiap 12 Agustus merupakan perayaan tahunan yang dicetuskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran remaja.

Memperingati Hari Remaja Internasional, permasalahan utama yang sering kali tidak disadari rentan terjadi pada remaja adalah gangguan mental. Remaja merupakan fase peralihan dari anak-anak menuju ke dewasa sehingga akan terjadi banyak perubahan. Mulai dari perubahan secara fisik, hormonal, kognitif atau kecerdasan, emosi dan perilaku.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional remaja usia di atas 15 tahun mencapai  sekitar  9,8%  dari  jumlah  penduduk Indonesia. Terdapat peningkatan dibandingkan pada tahun 2013 yang hanya sebesar 6%.

Gangguan mental emosional yang terjadi pada remaja ditandai dengan gejala-gejala  depresi  dan  kecemasan. Depresi sebagai salah satu bentuk gangguan mental yang sering terjadi pada remaja biasa diakibatkan oleh beberapa hal seperti tekanan dalam bidang akademik, perundungan (bullying), faktor keluarga, dan permasalahan ekonomi.

Depresi pada remaja  memiliki persentase sebesar 6,2%. Depresi berat akan menyebabkan kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri atau self harm hingga melakukan tindakan bunuh diri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sebanyak 15% anak remaja di negara berkembang berpikiran untuk bunuh diri. Hal ini menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian terbesar ketiga di dunia bagi remaja. Di Indonesia sendiri Kasus bunuh diri mencapai 10.000 atau setara dengan setiap satu jam terdapat kasus bunuh diri.

Masyarakat Indonesia haruslah mempunyai pemahaman untuk lebih peduli tentang isu-isu kesehatan mental di sekitarnya. Masyarakat seringkali memberi stigma negatif terhadap penderita gangguan mental dengan menyebutnya sebagai orang gila, bahkan aib yang harus ditutupi.

Hal ini menyebabkan penderita gangguan mental menjadi semakin tertekan dan sulit terbuka untuk mendapatkan pengobatan. Maka sudah sepantasnyalah kita menghilangkan stigma negatif tersebut dan mulai mengubah pola pikir kita bahwa kesehatan mental sama halnya dengan kesehatan fisik yang jika tidak ditangani, sekecil apapun gangguan mental dapat mengancam kehidupan seseorang.

Reporter: Ega Dwi Lestari
Editor: Bunga Yunielda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *