Hari Kontrasepsi Internasional: Momentum Tepat Tingkatkan Pengetahuan KB

Ilustrasi: Merdeka.com

Penulis: Wiardini Yuli (Anggota LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah)

Tepat hari ini, setiap tahunnya pada 26 September ditetapkan sebagai Hari Kontrasepsi Internasional. Kontrasepsi merupakan salah satu bagian dalam pengelolaan program Keluarga Berencana (KB).

Perencanaan keluarga bertujuan untuk mewujudkan kehidupan reproduksi yang sehat dapat dijalankan dengan konkrit diantaranya dengan penggunaan alat kontrasepsi. Jika kesehatan reproduksi dapat dijaga dengan baik, maka kualitas hidup keluarga secara umum juga dapat ditingkatkan.

Dilansir dari laman resmi NHS, pada 2 Januari 2019, alat kontrasepsi bisa menghentikan kehamilan dengan cara memisahkan sel telur dan sperma, menghentikan produksi telur, menghentikan gabungan sperma dan telur (telur yang telah dibuahi) yang menempel pada lapisan rahim.

Sejarah Hari Kontrasepsi Sedunia

Hari Kontrasepsi Sedunia pertama kali diperingati pada tanggal 26 September 2007 oleh sepuluh organisasi KB Internasional untuk meningkatkan kesadaran tentang kontrasepsi dan untuk memungkinkan pasangan membuat keputusan yang tepat tentang memulai sebuah keluarga, sehingga setiap kehamilan diinginkan.

Hari Kontrasepsi Sedunia didukung oleh koalisi 15 LSM Internasional, organisasi pemerintah, masyarakat ilmiah, dan medis yang berkepentingan untuk menyebarkan pengetahuan yang benar tentang kesehatan seksual dan reproduksi.

Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia tidak dijadikan perayaan seremonial tetapi dimanfaatkan untuk terus menyampaikan kembali Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK). Penyediaan layanan kontrasepsi dan integrasi konsep pelayanan yang berbasis komunitas, telah berhasil menurunkan angka kelahiran, angka kematian ibu dan berkontribusi pada peningkatan partisipasi perempuan di bidang ekonomi. Kampanye yang sangat kuat melembagakan dua anak cukup, telah pula membentuk norma sosial sebagai ukuran keluarga yang ideal.

Program KB di Indonesia

Di Indonesia peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia dijalankan sebagai momentum meningkatkan komitmen  dan dukungan stakeholder, provider medis, mitra kerja dan masyarakat untuk percepatan pencapaian program pembangunan keluarga, kependudukan dan Keluarga Berencana secara menyeluruh.  Selain dari segi dukungan, Hari Kontrasepsi Sedunia juga akan menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan  pengetahuan  dan  wawasan  seluruh masyarakat Indonesia di semua lini, terkait seperti apa pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan aplikasi Klik KB. Diharapkan, kehadiran Klik KB dapat mempermudah dan memperluas jangkauan kepesertaan KB hingga ke seluruh wilayah di Indonesia.  Aplikasi Klik KB memudahkanmu untuk konsultasi dengan bidan dan ahlinya seputar alat kontrasepsi dan layanan kesehatan lainnya.

Saat ini, Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19 yang kemudian berdampak pada seluruh aspek kehidupan termasuk penyelenggaraan pelayanan KB.

Berdasarkan data statistik rutin BKKBN, capaian peserta KB baru mengalami penurunan secara signifikan dari 422.315 pada bulan Maret 2020 menjadi 371.292 dan 388.390 pada bulan April dan Mei 2020.

Di samping itu terdapat beberapa tantangan dalam pelayanan KB pada masa pandemi ini diantaranya keterbatasan akses terhadap pelayanan di fasilitas kesehatan, kebutuhan alat pelindung diri (APD) yang memadai dan memenuhi standar bagi petugas pelayanan KB, serta penerapan pelayanan KB di era new normal dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Adanya pandemi Covid-19 kemudian juga berdampak pada peningkatan kehamilan tidak diinginkan (KTD) di beberapa wilayah sebagai akibat dari penurunan kesertaan KB dan peningkatan angka putus pakai kontrasepsi.

Berdasarkan uraian kondisi di atas, perlu menjadi perhatian bahwa pencapaian program keluarga berencana sangat ditentukan oleh kesertaan masyarakat terutama dalam hal ini Pasangan Usia Subur (PUS) dalam ber-KB.

“Di samping peningkatan jumlah Peserta KB Baru, komitmen dari Peserta KB Aktif juga perlu diperhatikan agar tidak menyebabkan peningkatan angka putus pakai dalam ber KB. Hal tersebut tentunya perlu didukung dengan sarana dan prasarana KB yang memadai serta tenaga pelayanan KB yang kompeten,” tulis pihak BKKBN di laman resminya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *