Hari Keluarga Berencana dan Meningkatnya Angka Pernikahan Dini

google image

Tepat hari ini, setiap tahunnya pada 29 Juni ditetapkan sebagai hari Keluarga Berencana (KB) Nasional. Memperingati hari KB ini, angka pernikahan dini di Indonesia meningkat drastis. Yuk simak lebih lanjut pada artikel berikut.

Sejarah Ditetapkannya Hari Keluarga Berencana

Pada tanggal 29 Juni 1992, presiden Indonesia saat itu, Soeharto menetapkan Hari Keluarga Nasional di Provinsi Lampung. Gerakan ini pertama kali digagas oleh Prof. Dr. Haryono Suryono yang merupakan ketua Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada saat itu.

Alasan dipilihnya tanggal 29 Juni sebagai hari peringatan ini bukan tanpa alasan. Saat itu, merupakan momen berkumpulnya keluarga untuk saling mendekatkan diri setelah para pejuang yang melawan penjajah kembali ke keluarganya. Hal tersebut sebagai tanda kesadaran masyarakat untuk menciptakan keluarga yang bahagia melalui program KB.

Pada saat itu, pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai keluarga sangatlah rendah. Keinginan untuk mencari keluarga baru akibat keluarga lama yang gugur dalam peperangan menciptakan angka pernikahan dini yang sangat tinggi sehingga angka kematian ibu dan anak ikut meningkat kala itu.

Angka Pernikahan Dini

Pernikahan dini sudah menjadi persoalan yang sangat besar bagi Indonesia sendiri, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), Leny Rosalin mengatakan bahwa angka pernikahan dini di Indonesia tertinggi kedua di ASEAN.

Berdasarkan data pada tahun 2018, pernikahan dini ditemukan diberbagai daerah di Indonesia. Dari 627 juta penduduk Indonesia, sebanyak 1.184.100 perempuan berusia 20-24 tahun telah menikah di usia 18 tahun. Jumlah terbanyak terdapat di daerah Jawa yaitu sebesar 668.900 perempuan. Tak hanya itu, pada tahun 2020 wabah Covid-19 membawa masalah baru terkait angka pernikahan dini di Indonesia.

Dilansir dari BBC.com, tercatat pada bulan Januari-Juni 2020, sebanyak 34.000 surat permohonan dispensasi pernikahan dini di bawah usia 19 tahun diajukan dan 97% diantaranya dikabulkan. Jumlah tersebut meningkat dari tahun lalu yang hanya 23.700. Surat permohonan tersebut diajukan karena usia salah satu calon masih belum memenuhi kriteria usia menikah sesuai hukum yang berlaku.

Sebagaimana diketahui, hukum di Indonesia mengatur batas usia minimal menikah adalah 19 tahun sebagaimana yang sudah tertera di UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan UU Nomor 1 Tahun 1974.

Pentingnya Program KB

Dikutip dari Alodokter.com ada beberapa manfaat mengikuti program KB, berikut pentingnya menerapkan program Keluarga Berencana.

1. Cegah kehamilan yang tidak direncanakan

Pasangan suami istri yang tidak menjalankan program KB beresiko mengalami kehamilan yang tak direncanakan. Hal itu akan berdampak buruk pada Ibu yang berusia di atas 35 tahun. Kehamilan tersebut akan beresiko tinggi untuk kesehatan ibu dan bayi.

Begitu pula dengan kehamilan yang terlalu dini setelah melahirkan. Pada saat kondisi ibu belum sepenuhnya pulih setelah melahirkan hanya akan membuat kesehatan ibu dan bayi menurun.

2. Menjaga kesehatan ibu dan bayi

Program KB sendiri akan berdampak baik untuk kesehatan ibu dan bayi. Selain itu, program KB juga akan memberikan pengarahan mengenai langkah-langkah menjaga kesehatan ibu dan juga bayi.

3. Menurunkan angka kematian ibu dan bayi

Dengan mengikuti KB, kesehatan ibu dan bayi akan di arahkan. Dengan begitu, dapat mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Terutama pada kehamilan yang beresiko tinggi mengalami komplikasi, seperti pada wanita berusia lebih 35 tahun, wanita yang memiliki penyakit kronis tertentu, dan wanita yang baru saja melahirkan.

Reporter : Jeniedya
Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *