Hari Buku Nasional : Angka Buta Aksara Terus Meningkat

google image

Buta aksara merupakan sebutan untuk seseorang yang kemampuan membaca dan menulisnya belum cukup. Masalah ini dimiliki oleh sebagian besar negara di dunia. Permasalahan ini memang sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Sebab, buta aksara sangat berhubungan dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan keterbatasan suatu masyarakat. Tidak terkecuali negera kita, Indonesia.

Dilansir dari data kemendikbud, melalui survei BPS 2019 angka buta aksara di Indonesia adalah sebanyak 1,78 persen. Namun, di masa pandemi 2020 ada kenaikan tipis menjadi 1,93 persen. Artinya, masih ada sekitar 5.237.053 penduduk Indonesia yang buta huruf, tidak bisa membaca aksara. Hingga kini, pemerintah masih berupaya memberantas kasus buta aksara yang melanda Indonesia.

Beberapa tahun terakhir untuk menanggulangi kasus buta aksara ini pemerintah lebih memfokuskan untuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar atau yang disingkat 3T. Banyak sekali daerah yang tidak mudah dijangkau, krisis literasi ini tentu sangat berpengaruh bagi kemajuan Indonesia dan menjadi PR besar bagi pemerintah yang perlu diperjuangkan.

Disamping itu, secara umum penderita buta aksara lebih dinominasi oleh perempuan dibanding laki-laki. Sebab, keseteraan gender masih harus diusahakan agar perempuan Indonesia tidak menderita buta aksara. Namun, taukah kamu penyebab utama dari kebutaan ini ialah banyaknya masyarakat daerah yang hanya bisa berbahasa daerah tanpa tahu berbahasa Indonesia. Sehingga kasus buta aksara dipedesaan dua kali lipat lebih besar dibanding kasus buta aksara di perkotaan. Sedangkan faktor lainnya adalah kurangnya pengetahuan dari orang tua dan keterbatasan di bidang ekonomi.

Dilansir dari akun youtube Kemendikbud RI, pemerintah telah memiliki empat strategi untuk mengatasi angka buta aksara di Indonesia. Pertama, melakukan pembaharuan data penderita buta aksara yang valid berdasarkan survei atau sensus oleh BPS. Kedua, memfokuskan layanan pendidikan membaca khususnya pada daerah yang memiliki kasus buta aksara tinggi sehingga penuntasan dapat berjalan efektif.

Ketiga, mengembangkan jejaringan dan sinergi melalui berbagai kemitraan seperti kegiatan KKN, organisasi maupun komunitas yang dapat membantu program khusus dalam mengatasi permasalahan ini, setelah itu perlunya pembimbingan kepada masyarakat untuk meningkatkan minat literasinya agar kemapuan membaca lebih meningkat. Terakhir, perlunya inovasi pelayanan program yang perlu disesuaikan, mengingat kegiatan pembelajaran sekarang dilakukan secara daring baik untuk sekolah formal dan juga nonformal.

Kemendikbud menargetkan kasus  buta aksara dapat dituntaskan pada tahun 2023 nanti, selain itu kemendikbud juga menggerakkan program membaca dengan menyesuaikan terhadap  kebudayaan lokal setempat agar masyarakat dapat tertarik dan berminat dalam belajar membaca.

Reporter : Siti Alicia Zahirah
Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *