Gulo Puan, Kudapan Khas Palembang Jauh Sebelum Pempek Dikenal

Penjual gulo puan Abu Bakar tengah melayani pembelinya. Ia berjualan gulo puan di kawasan Masjid Agung Palembang, Jumat (16/4). Ukhuwahfoto/Aditya Kenedy.

Selain pempek, makanan khas Palembang yang masih ada sampai sekarang yaitu Gulo Puan. Dan dapat kita jumpai saat solat Jumat di Masjid Agung Mahmud Badaruddin I Kota Palembang. Dilansir dari laman indonesia.go.id dalam bahasa Daerah Sumatera Selatan (Sumsel) Puan berarti susu, sesuai dengan namanya Gulo Puan berarti gula susu.

Penjual Gulo Puan, Abu Bakar menjelaskan bahwa bahan utama untuk membuat Gulo Puan yaitu susu peras murni dari Kerbau dan gula pasir. Dimasak lama menggunakan api kecil, kemudian tekstur dari Gulo Puan ini lembut berpasir, warnanya kecoklatan, serta rasanya manis dan gurih.

Selama 20 tahun, Abu Bakar berdagang Gulo Puan di Masjid Agung Mahmud Badaruddin I  Palembang. Abu menjual Gulo Puan dengan harga 160 ribu perkilonya, dan berjualan dari jam sepuluh pagi sampai selesai solat jumat.

 “Alasannya saya jual ini karena pertama, makanan ini sudah langka, ini sudah ada sejak jaman kerajaan dulu. Kebanyakan orang yang lahir pada tahun 70an keatas banyak yang tidak tahu dengan makanan ini. Kedua karena turunan dari bapak, jadi sekarang saya yang meneruskan berjualan,” ujarnya. Jumat (9/4/21).

Abu Bakar menceritakan, Gulo Puan merupakan makanan para bangsawan, warisan Raja Kesultanan Palembang Darrussalam. Abu Bakar juga mengatakan Gulo Puan sudah ada sebelum pempek menjadi ciri khas Kota Palembang.

“Gulo Puan cemilan kesukaan Raja, memang dulu itu sebagai ciri khas Palembang,  ini makanan lama sebelum pempek ya ini dulu,” katanya.

Abu menjual gulo puan di lapak sederhananya yang beralaskan koran. Gulo puan memiliki warna coklat keemasan dan dijual perkilo dengan harga 160 ribu. Ukhuwahfoto/Aditya Kenedy.

Selanjutnya, Abu menambahkan bahan utama untuk membuat Gulo Puan bersumber dari daerah Pulau Layang Ogan Komering Ilir (OKI), sekaligus OKI menjadi tempat produksi utama Gulo Puan.

“Kadang ngambil langsung kesana, kadang diantar kesini. Dalam seminggu mereka tiga kali produksi. Tapi menjelang bulan puasa agak kurang, karena susunya sering dibikin kue. Saya bisa untuk membuatnya, tapi terkendala bahannya agak susah, karena jarak dari Palembang Ke Pulo Layang itu jauh, takut susunya basi,” pungkasnya.

Reporter : Vandea Helga Fany
Editor : Muhamad Firdaus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *