Bukan Sekedar Kain, Batik Ternyata Penyumbang Devisa Negara

Proses pembuatan batik.
sumber foto: Amazon.com

Halo sahabat ukhuwah, memperingati Hari Batik Nasional. Kali ini kita akan mengulas lebih dalam apa saja yang mampu menjadi daya tarik batik selain sebagai bahan pakaian. Usut punya usut batik ternyata menjadi penyumbang devisa negara, yuk simak lebih lanjut pada artikel berikut.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan Batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 lalu.

Dewasa ini, kain batik semakin beragam corak dan motifnya dari setiap daerah, ini lah yang membuat masyarakat semakin inovatif untuk menjadikan kain khas Indonesia tersebut sebagai tren fesyen unik.

Dikutip dari cekaja.com, selain mencari keuntungan, pengrajin batik Indonesia di luar negeri juga memiliki keinginan untuk memperkenalkan batik ke dunia. Dunia perlu tahu bahwa kain batik asli Indonesia sangat bagus, indah, unik, dan berkualitas.

Tidak diam begitu saja, sebagai warisan budaya yang sangat berharga, pemerintah juga ikut mendukung para pengrajin batik untuk mengekspor produknya ke mancanegara.

Sebagai warisan budaya yang istimewa, tentunya kita harus bangga dengan batik yang kita miliki. Karena saat ini banyak tokoh-tokoh bergengsi di dunia yang telah mengenakan dan mengoleksi kain khas Indonesia ini. 

Popularitas kain batik di kancah dunia menjadikan batik banyak diburu oleh pembeli dari luar negeri. Bahkan, batik mampu menyumbang devisa hingga Rp734 miliar setelah penjualannya di luar negeri.

Mengutip dari Media Indonesia, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menuturkan Batik Nusantara memiliki pasar ekspor yang besar seperti di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Ia juga menambahkan, industri batik turut mendorong pertumbuhan di sektor industri tekstil dan pakaian jadi pada triwulan I tahun 2019 dengan mencatatkan posisi tertinggi yakni mencapai 18,98%.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan Amerika Serikat masih menjadi negara terbesar ekspor Batik dari Indonesia, pun demikian penjualan Batik ke Negeri Paman Sam itu terus meningkat tiap tahunnya.

Amerika Serikat (AS) sebagai negara tujuan ekspor menyumbang kontribusi terbesar dari total penjualan ke luar negeri di kuartal I-2013 menjadi US$ 21,18 juta dari kuartal I-2012 sebesar US$ 17,46 juta.

Melansir Detik Finance, negara ekspor batik kedua terbesar adalah Jerman dengan nilai penjualan dari US$ 2,68 juta (2012) menjadi US$ 4,52 juta (2013). Sedangkan Korea Selatan berada di urutan ketiga dengan nilai ekspor US$ 3,94 juta (2012) menjadi US$ 1,8 juta (2013).

Tren fesyen batik tidak hanya digunakan saat acara-acara resmi saja, sudah banyak masyarakat yang menggunakan batik untuk pakaiannya sehari-hari. Bahkan batik pun bisa dijadikan buah karya yang memiliki nilai estetika serta nilai jual yang tinggi.

Misalnya sepatu, tas, bross hijab, bandana, dan lain sebagainya. Inilah yang membuktikan betapa perlunya kreativitas dan inovasi agar Batik semakin eksis ditengah masyarakat lokal maupun mancanegara.

Dengan hadirnya batik sebagai warisan leluhur Indonesia, kita patut bersyukur dan bangga karena kain ini berdampak luas untuk segala aspeknya.

Selain itu juga, industri batik merupakan salah satu sektor yang sangat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar pengrajin batik.

Dengan maraknya eksistensi batik di kancah global, diharapkan hal tersebut dapat mendorong semangat para perajin dan industri batik nasional termasuk pemerintah untuk terus mengembangkan industri batik, sehingga batik dapat terus dikenal di seluruh lapisan masyarakat.

Penulis: Ellysa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *