Kabar Sumsel

Walhi Sumsel : Aktivitas Tambang Picu Kematian Prematur

Suasana diskusi sekaligus nonton bareng film dokumenter Pesta Demokrasi Berlumur Batubara di 4sore food station Palembang, (30/5/2018). Ukhuwahfoto/Nopri Ismi

Suasana diskusi sekaligus nonton bareng film dokumenter Pesta Demokrasi Berlumur Batubara di 4sore food station Palembang, (30/5/2018). Ukhuwahfoto/Nopri Ismi

“Pihak Green Peace sendiri mengatakan bahwasannya aktivitas tambang yang kemudian merembet kepada aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)  dapat menyebabkan kematian prematur, ” ujar Febri perwakilan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Selatan (SUMSEL)  saat menghadiri acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter “Pesta Demokrasi Berlumur Batu Bara” di 4sore food station Palembang,  Rabu (30/5/2018).

Febri menjelaskan kematian prematur adalah kematian dini yang dialami oleh anak-anak setelah dilahirkan oleh seorang ibu,  “saat bayi itu dilahirkan secara otomatis radiasi dari aktivitas PLTU sudah mulai merenggut nyawa anak itu, ” tegasnya.

Penyebab lain dari aktivitas tambang adalah berkurangnya cadangan air bersih bagi masyarakat di sekitarnya,  “apabila musim hujan daerah tambang akan dilanda banjir,  hal ini dikarenakan banyaknya pohon yang ditebang, ” lanjutnya.

Febri juga memaparkan beberapa fakta lainnya diantaranya adalah sebagian warga Lahat yang dulunya adalah seorang petani kini sudah beralih menjadi buruh,  “hal ini dikarenakan lahan mereka yang dulunya persawahan dan perkebunan kini sudah mereka jual dan berubah menjadi lobang-lobang besar bekas aktivitas tambang,” bebernya.

Taslan perwakilan dari komunitas Sangkakalam yang juga ikut hadir dalam diksusi tersebut mengatakan aktivitas tambang tidak bisa dipandang sederhana,  “tambang hampir sama halnya seperti penggusuran,  akan tetapi lebih banyak yang mereka ambil, tak hanya alam mereka juga mengambil rumah dimana disana ada kehidupan,  tempat berkembang dan lain sebagainya,” paparnya.

Diakhir diskusi,  Walhi menjelaskan bahwasannya mereka terus mengadakan pergerakan untuk menekan aktivitas tambang di Sumsel dengan menuntut perubahan kebijakan serta penciutan izin tambang,  “sekali lagi,  kita manusia tidak bisa makan batu bara,  dan kita tidak bisa memakan buah sawit, ” tutup Wahyu salah satu anggota Walhi Sumsel selaku moderator dalam acara tersebut.

Reporter : Nopri Ismi

Editor : Alfiansyah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah