Cerpen

The Secret

-Oleh : Alfiansyah-

“Tak usah berpura-berpura.”

Foto: Internet

Wanita itu menajamkan matanya. Lalu, ia melirik ke arah tangan kanan Deni yang terluka. Lantas, dengan sengaja Ia menambah goresan luka di tangan sebelah kiri Deni dengan belati yang dari tadi dipegang oleh wanita itu. Deni pun menjerit kesakitan dan tak ada satu pun yang mendangar teriakannya, karena di situ hanya ada mereka berdua; Deni dan wanita yang mengenakan cadar tanpa balutan hijab dengan baju kaos hitam serta celana jeans koyak-koyak di tengah ruko kosong dan sepi.

Aaakhh,” teriak Deni kesakitan.

Wanita itupun kembali meluncurkan aksinya. Tak segan-segang ia melukai wajah tampan Deni. Tangan Deni yang lemas itupun hanya bisa menadah darah yang bercucur deras dari wajahnya. Ia mencoba merangkak menuju meja hijau yang terlihat kusam akibat bercak darah yang menempel.

 Di atas meja tersebut, hanya ada sebilah bambu dan potongang jari-jari manusia yang telah membusuk. Deni pun mencoba meraih bambu tersebut dengan perlahan dan lesu. Namu tiba-tiba tangannya terhampas dengan keras. Wanita itu terus menerjangnya dengan karung goni yang dibawa oleh wanita misterius itu. Lantas membuat baju kemeja biru muda yang dikenakan Deni kotor .

***

Wanita misterius itu bernama Rini. Ia adalah sorang autis yang terlahir dari saudagar kaya raya. Namun semejak ibunya meninggal karena sakit, Ia dibuang oleh ayahnya pada usianya ke 2 tahun. Ya, ayahnya mebencinya sejak Ia terlahir di dunia. Sejak Ia lahir dengan teriakan seorang bayi pada umumnya, ayahnya senang bukan main. Hingga seorang bidan keluar dari pintu kamar pasisen, lalu menghampiri ayah Rini dan berkata,”Maaf pak, anda harus bersabar, karena anda deberikan Tuhan anak yang luar biasa dari anak normal pada umumnya.”

“Maksud anda ?,” tanya ayah Rini dengan penuh kebingungan.

“Anak bapak terlahir autis pak. Tapi jangan khawatir, biasanya anak-anak seperti anak bapak punya banyak kelebihan dibandingkan anak normal, ” jawab bidan tersebut sambil menenangkan ayah Rini yang masih tidak menerima atas kelahiran putrinya.

Ayahnya yang masih belum menerima atas kelahiran Rini, mempunyai niat  untuk membuang Rini yang baru saja lahir dari rahim ibunya. Namun niat buruk tersebut mendapatkan perlawanan keras dari ibunya. Apa yang akan dilakukan ayahnya terhadap Rini, diketahui oleh ibunya. Dan semanjak kejadian tersebut, selalu ada pertengkaran antara ayah dan ibunya.

Masa-masa pun berjalan begiu saja dengan warna-warni pertengakaran di rumahnya. Selalu ada ejekan dari paman dan keluaraga ayah Rini, terhadapnya. Hingga Rini menginjak usia 2 tahun, ibu Rini jatuh sakit. Tak ada bantuan sedikit pun dari ayahnya terhadap ibu Rini. Dibiarkan begitu saja. Dan sampai akhirnya, ibu Rini pun meninggal dunia.

Di usia Rini yang menginjak 2 tahun, Rini selalu mendapatkan perlakuan yang kasar dari ayahnya. Saat ia menangis sekalipun, ia selalu dibentak hingga dipukul dengan benda-benda tumpul. Tak ada perlakuan yang sepesial dari ayahnya.

Hujan begitu deras, petir menyambar beberapa pohon cemara yang berabaris dijalan raya. Ayah Rini dari tadi bersiap-siap untuk mebuang Rini di tengah lebatnya hujan dan gelapnya malam. Ayahnya tetap tidak memperdulikanya. Dia keluar dari rumah, menebus rintik-rintik deras air yang turun dan kilauan petir yang sesekali juga menerangi gelapnya malam pada waktu itu. Rini pun ditinggalkan oleh ayahnya begitu saja di rumah kosong yang berlumut dengan sebotol susu basi dan kalung perak beberbentuk hati yang terdapat ukiran bertuliskan “Rini”. Ya, kalung itu adalah pemberian dari ibunya saat Rini berusia satu tahun.

Malam pun berganti pagi. Suara ayam berkokok mulai terdengar. Rini yang masih kecil pun hanya sendiri. Ia memeperhatikan setiap dinding-dinding yang penuh dengan coretan. Sesekali Ia bersin, karena suasana yang lembab dan dingin. Tiba-tiba sesorang nenek tua dengan karung goni masuk dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat seroang bayi kecil yang kesepian.

“Bayi siapa ini ?.. Orang tua mana yang tega membuang amanah dari Tuhan?,” tanya Lastri dengan terkejut sambil melempar karung goni yang tengah dipeganganya hingga barang bekas di dalamnya berserakan di lantai.

Lalu, nenek yang pekerjaan sehari-harinya adalah seorang pemulung dan kerap di panggil Lastri itu, menggendong dan segera membawa bayi kecil itu pulang ke gubuk yang terbuat dari seng dan tampalan kardus milik nenek tua itu. Lastri pun segera merawat bayi kecil; Rini dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri. Ia seperti baru dikaruniai seorang anak dari rahimnya sendiri. Dan memang benar, Lastri belum mempunyai anak sebelum dan sesudah Ia menjadi janda. Hidupnya sebatang kara. Tak ada satu orang pun yang peduli dengan nasibnya yang serba kekurangan. Ia seprti itu karena ditinggal suamianya yang berselingkuh dengan wanita lain; 30 tahun silam. Tetapi, Lastri tetap tegar. Ia bekerja keras untuk manafkahi dirinya sendiri. Hingga akhirnya, Ia menemukan Rini sebagai anak angkat sekaligus teman pelipur hatinya.

Saat Lastri menggendong bayi kecil itu dengan penuh kasih sayang, Ia melihat kalung perak dengan tulisan “Rini” di liontin berbentuk hati yang terpasang di leher Rini. Lantas, Nenek Lastri tetap menamakan dengan Rini. Lastri pun berjanji akan tetap menyanyangi Rini dan merawatnya samapai akhir hayatnya, walaupun Lastri hanya bertopang hidup pada hasil barang bekas yang ia dapatkan di jalanan.

Usia delapan tahun adalah usia yang menyedihkan bagi Rini, di mana Ia harus kembali  hidup sebatang kara. Nenek Lastri yang selalu menyayangi, merawat, serta mebelanya ketika dibully oleh teman-teman sebayanya harus mengehembuskan nafas terakhirnya di usia Rini yang baru menginjak delapan tahun. Lastri jatuh sakit karena umurnya yang sudah tua; 70 tahun. Hingga akhirnya nenek Lastri meninggal dunia.

Tak ada yang bisa diperbuat oleh Rini. Bahkan proses penguburan nenek Lastri pun, Rini hanya menemani tanpa melakukan apapun dengan ketidak berdayaannya. Namun di dalam hatinya, Ia hanya bisa menyesalkan segala karunia yang diberikan Tuhan pada dirinya. Ia ingin hidup yang sama, seperti orang normal pada umunya. Ia selalu menjerit dan menagis dalam benaknya yang paling dalam.

“Tuhan tidak adil, kenapa aku harus terlahir seperti ini : harus kesepian, dicaci, dan tak ada satu orang pun yang mnyenyangiku, kecuali nenek Lastri. Tapi, kenapa pula harus kau amabil nyawanya. Kenapa aku sendiri ? Kenapa orang harus membeda-bedakan ku dengan yang lain ? Tuhan benar-benar tidak adil,” teriaknya dalam hati sambil melihat proses penguburan nenek Lastri.

Hidupnya terus berjalan beriringan dengan penghinaan dan ejekan yang didapatkannya. Hingga ia tumbuh dewasa , ia mencoba untuk mengenakan cadar tanpa hijab untuk menutupi kekurangannya. Namun, Ia tetap sendiri.

Rini tetap melanjutkan pekerjaan nenek Lastri sebagai pemungut barang bakas. Tak ada pendidikan, tak ada pekerjaan yang layak Ia dapatkan. Rini sudah terbiasa dengan kehidupan yang menyedihkan seperti ini.

Ketika trik matahari yang membakar dedaunan dan membuat aspal jalan berasap, dengan cadar yang selalu dikenaknnya, Rini tetap bekerja sambil melihat kesombongan orang-orang di sekelilingnya.

Ketika ia lelah melintasi jalan yang berdebu, Ia duduk di bangku taman kota yang sepi untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba, seorang laki-laki yang mengenakan masker berwarna merah tua mencoba untuk duduk di samping Rini. Di tangannya hanya ada sebuah novel dengan cover berwarna biru. Leleki itu pun memperhatikan Rini seolah ada yang aneh. Rini tidak memperdulikannya. Baginya, itu adalah hal biasa yang sering dilakukan orang-orang untuk melihat ataupun menghina Rini sebagai anak idiot, cacat dan lain sebagainya.

Tetapi, tiba-tiba lelaki itu menaruh bukunya di kursi yang masih ada space kosong. Lalu, Ia mencoba memulai obrolan dengan Rini sambil membuka masker yang dikenakannya. Terlihat wajah tampan dengan kumis tipis dari lelaki itu. Rini pun hanya diam, karena Ia tidak ingin jika ada orang yang tau dengan kepribadiannya. Ia kemudian memperhatikan rintik-rintik hujan yang tanpa sengaja turun dan mebasahai pakaian mereka berdua. Lelaki itu tetap kembali mencoba memulai obrolan dengan Rini yang terlihat seperti wanita misterius.

“Hai..,” sambil melambaikan tangan tepat beberapa senti meter dari wajah Rini.

“Kok sendirian ? Lihat baju kamu basahkankan. Ayo ikut aku berteduh,” ajaknya sambil menarik tangan Rini yang sudah mulai keriput akibat kedinginan dan mengambil novel yang ditaruhnya di kursi tadi.

Rini pun menuruti ajakan lelaki itu. Mereka berteduh di sebuah ruko tua yang sepi dari keramaian. Rini diam memeperhatikan jalanan yang tidak ada satupun yang lewat. Lelaki itu memperkenalkan dirinya kepada Rini.

“Aku Deni, kamu ?,” tanya Deni sambil mencoba untuk berjabat tangan dengan Rini.

Jawab dong,” dengan sedikit kesal karena tidak ada sedikit jawaban yang keluar dari mulut Rini.

“Kamu ini gimana ? Udah aku tolongin, tapi gak mau jawab apa yang aku tanyain. Bisu atu tuli. Lu nggak tau gua siapa ? DASAR GEMBEL !,” bentak Deni dengan hinaan sambil melempar novel yang dipegangnya ke dapan wajah Rini.

Terkejut mendangar apa yang telah diucapkan oleh Deni, Rini mencobah keluar dari ruko menuju jalanan yang sepi. Namun, tiba-tiba Deni menarik tangan Rini.

“Hey mau kemana? Kamu masih ada urusan sama aku. Aku tau kalo kamu itu autis miskin dan kamu bakal tau apa yang akan aku lakukan sama kamu,” tarik laki-laki itu.

Rini tidak bisa melakukakan apa-apa, karena kondisinya yang autis, dia tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki-laki yang menurutnya lebih kejam dari orang-orang yang pernah ditemuinya. Deni pun menarik kedua tangan Rini dengan kecang untuk diajak ke ruang kosong yang memang sudah disiapkan olehnya. Tangan dan kaki Rini diikat denga tali tambang. Rini si gadis autis memang benar-benar merasa seperti boneka yang dipermainkan oleh tuannya.

Kemudian dari ruangan yang sama, Deni mengeluarkan dan menujukan kepada Rini organ-organ tubuh manusia yang sebagiannya telah dijual ke luar negeri. Ya, Deni adalah salah satu anggota agen jual beli organ tubuh. Dia meculik wanita dan anak kecil di jalanan untuk diambil organ tubuhnya dengan berbagai macam modus.

“Sekarang kamu ngertikan maksud aku, IDIOT ?,” tanyanya dengan maksud memberitahu Rini, karena Dia adalah korban selanjutnya.

“Kau tunggu sini. Aku mau mencari pisau untuk menyembelihmu,” ucapnya sambil menunjuk ruangan itu.

Deni pun keluar dari ruang tersebut untuk mencari pisau di ruangan lain. Namun Rini hanya bisa memejamkan matanya sambil berdoa kepada Tuhan untuk keselamatannya.

Ternyata, pisau yang dicari oleh Deni berada di bawah kursi rapuh yang ada satu meter di samping kanan Rini. Mata Rini pun mencoba mengarah ke piasu tersebut. Lalu, Ia menyeret tubuhnya perlahan menuju kursi itu. Sambil memperhatikan sekelilingnya; takut jika Deni akan datang, Ia meraih pisau tersebut dengan mulutnya  hingga cadar yang dikenakan menjadi coklat, dan dipotongnya tali tersebut dari tangan dan kainya mebuat dagu Rini terluka.

 Setelah kaki dan tangannya lepas dari jeratan tali tambang, Ia bersembunyi terlebih dahulu di balik lemari yang terdapat potongan-potongan organ tubuh manusia. Dagu dan cadarnya penuh dengn debu dan darah.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari ujung ruangan dan ternyata Deni sudah datang tanpa membawa apapun. Rini pun sudah siap untuk melawan Deni dengan kayu yang didapatnya dari samping lemari, temapat persembunyiannya.

Deni pun terkejut atas lepasnya Rini dari jeratan tali. Ia mencari Rini di setiap sudut ruangan. Tiba-tiba dari arah belakang, kepala Deni dipukul Rini dengan kayu yang dipegannya. Deni pun mencoba melawan.

“Akhh.. Apa ? Berani sekali kau,” teriak Deni sambil menarik kayu yang dipegang Rini dan dilemparnya ke sudut ruangan.

Rini mencoba mengambil belati yang slipkannya dilingkar pinggan jeans koyak-koyak yang dikenakannya. Lalu, samabil berjalan mundur Ia mengeluarkan belati tersebut dan meluncurkannya ke arah tangan kanan Deni, hingga berdarah dan membuat luka yang dalam. Deni kesakitan, darahnya menambah kotor ruangan. Deni pun masih mampu berjalan terbata-bata.

Dengan mata yang tajam, Rini kembali menambah goresan luka di tangan sebela kiri Deni dengan belati yang dari tadi dipegang olehnya. Deni pun kembali menjerit kesakitan dan tak ada satu pun yang mendangar teriakannya, karena di situ hanya ada mereka berdua.

Rini kembali meluncurkan aksinya. Tak segan-segan Ia melukai wajah tampan Deni. Tangan Deni yang sudah mulai lemas itupun hanya bisa menadah darah yang bercucur deras dari wajahnya. Ia mencoba merangkak menuju meja hijau yang terlihat kusam akibat bercak darah yang menempel.

 Di atas meja tersebut, hanya ada sebilah bambu dan potongang jari-jari manusia yang telah membusuk. Deni pun mencoba meraih bambu tersebut dengan perlahan dan lesu. Namu tiba-tiba tangannya terhampas dengan keras. Rini, menerjagnya dengan karung goninya  yang dihempaskan deni diruangan itu. Baju deni pun kotor penuh dengan darah.

Deni terlihat tidak berdaya lagi. Akhirnya, Rini pun dapat lansung keluar dari ruangan itu. Namun, hal yang tak terduga terjadi kepada Rini, tubuhnya tergeletak. Dan ternyata ada pisau tertancap di kepalanya. Deni pun bangkit menghabisi nyawa Rini.

“HAHAHA..Itu akibatnya kamu berani macam-macam sama aku,” teriaknya sambil meludahi wajah rini.

Mendengar laporan dari salah satu pelintas jalan di sebrang ruko tersebut, bahwa kerap terdengar suara jeritan dari dalam ruko, membuat polisi dan kawanannya harus sigap datang memergoki pebuatan yang telah dilakukan Deni. Deni pun tetangkap basah karena telah melakukan tindakan pembunuhan dan terdapat bukti bahwa Deni pernah melakukan tindakan jual-beli organ tubuh manusia. Untuk menghukum kesalahannya, akhirnya Deni dijatuhkan hukuman mati. Semua terasa impas.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah