Tetap Berjualan- Meski Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) telah acapkali melakukan penertiban pedagang liar di selkitar panggung Bawah Proyek Jembatan Ampera, serta telah diberikan tempat khusu berjualan pakaian bekas, namun beberapa pedagang masih kembali berjualan di tempat yang dilarang tersebut, pada Kamis (1/12/2016). Ukhuwahnews.com/Ellyvon Pranita

Tetap Berjualan- Meski Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) telah acapkali melakukan penertiban pedagang liar di selkitar panggung Bawah Proyek Jembatan Ampera, serta telah diberikan tempat khusu berjualan pakaian bekas, namun beberapa pedagang masih kembali berjualan di tempat yang dilarang tersebut, pada Kamis (1/12/2016). Ukhuwahnews.com/Ellyvon Pranita

Palembang-Ukhuwahnews.com | Meski seringkali dilakukan penertiban oleh Satuan Polisis Pamong Praja (Satpol PP), namun pedagang kaki lima tetap membuka lapak di sekitaran panggung bawah Jembatan Ampera sebelah hilir atau yang sering disebut bawah proyek atau bapro Palembang, Jumat (2/12/2016)

Salah satunya Maryani seorang pedagang jajanan kuliner pempek yang tetap berjualan di tempat tersebut meski acapkali diperingati oleh petugas.

Kata dia, Satpol PP itu menertibkan yang berjualan dengan payung, maka Maryani memutuskan tetap berjualan dengan tidak menggunakan payung lagi sebab dirasakannya tidak ada tempat baik lagi untuk berjualan selain di bapro.

Meski demikian, dikatakan Maryani bahwa sejak ditertibkannya dan dilarangnya pedagang pakaian bekas berjualan disana, pendapatannya pun berkurang.

“Sejak pedagang baju bekas itu dipindah dan tidak diperbolehkan berdagang disini, jadi tidak ramai lagi pengunjung dan pembeli, sulit menghabiskan barang dagangan ini sebelum pulang,” kata dia.

Menurutnya, ia bersama pedagang yang lain juga seringkali was-was dan tetap waspada jika suatu saat tiba-tiba Satpol PP melakukan penertiban lagi, namun yang jelas disanalah ladang mereka mencari nafkah, sulit untuk berpindah.

Dari pantauan Antara Sumsel, para pedagang yang tidak di perbolehkan berjualan di Halaman BKB dan sekitaran Panggung Bapro satu persatu mengambil lapak di pinggiran tepi Sungai Musi, di luar pagar pembatas seng pembangunan LRT bahkan beberapa diantaranya masih tetap memasuki arena sekitar Panggung Bapro tersebut.

Sementara, Kepala UPTD Wisata Monpera, Benteng Kuto Besak dan Panggung Bapro, Agusti menyatakan penertiban pedagang baik di halaman BKB dan juga sekitaran Panggung Bapro tersebut ialah untuk mencapai tujuan dari pemerintah daerah menjadikan Palembang yang Elok Madani Aman Sejahtera atau EMAS 2016.

Maka dari itu, kata Agusti, penertiban dan pelarangan yang dilakukan tersebut sudah sesuai dengan aturan yang dibuat pemerintah daerah setempat, untuk pedagang pakaian bekas pun sudah diberikan tempat alokasi berdagang bagi mereka.

Meski, secara pribadi ia juga sangat menyadari jika disekitaran objek wisata itu baiknya ada pedangang kulinernya.

“Jika sesuai dengan peraturan yang ada hanya diijinkan paling tidak 10 lapak penjual saja disekitar objek wisata, tapi yang ada para pedagang lain banyak sekali yang ribut dan berkomentar, jadi lebih baik dilarang sama sekali untuk semuanya berdagang disana kecuali diatas air mungkin ia seperti warung apung,” katanya di Palembang, Jumat.

Reporter : Von

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah