Kabar Sumsel

Sultan Mahmud Badaruddin IV: Sriwijaya Pernah Dominasi Nusantara

Kegiatan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia (ILMIBSI) di Gedung Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN RF Palembang, Selasa, (3/4/18). Ukhuwah fot/ Erna Rustiana

UIN RF – Ukhuwahnews.com | Kota palembang adalah kota tertua berumur 1832 tahun setelah Medan di Indonesia jika berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang ditemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang.

Sultan Mahmud Badaruddin IV Fawaz Diradja mengatakan, 16 Juni 683 Masehi menjadi patokan hari lahir Kota Palembang.

“Pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan Ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi. Tanggal itu djadikan patokan hari lahir kota Palembang,” ujarnya.

Putra bungsu Sultan Mahmud Badaruddin III menceritakan, dominasi Kerajaan Sriwijaya di Nusantara dan Semenanjung Malaya menjadi dikenal dengan julukan “Bumi Sriwijaya”.

“Sejarah Palembang pernah menjadi Ibu Kota Kerajaan Bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara. Kerajaan Sriwijaya yang mendominasi Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9 membuat kota ini dikenal sebagai juukan “Bumi Sriwijaya,” tambahnya.

Berbicara tentang sejarah Palembang tidak terlepas pembahasan mengenai kuliner khasnya, seperti pempek yang telah ada sejak abad ke-16, pada saat Sultan Mahmud Badaruddin II sedang berkuasa.

“Di masa Kesultanan Palembang, pempek disebut dengan kelesan, kelesan itu adalah makanan adat yang akan ditemui di Rumh Limas yang memilik siat dan kegunaan tertentu, makanan ini disebut kelesan, karena pempek di keles atau artinya tahan bila disimpa lama,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Sumsel, Sudirman Teguh.

Sudirman mengatakan, makanan tradisional Palembang tersebut mulai dijajakan pada tahun 1916 di perkampungan.

“Pempek pertama kali dibuat oleh orang asli Palembang namun dijual oleh pedagang Tionghoa yang memang saat itu sudah masuk ke Palembang. Pada tahun 1916 pempek baru mulai dijajakan di kampung-kampung terutama kawasan Masjid Agung dan Masjid lama Palembang yang dikenl sebagai kawasan keraton,” tutupnya.

Husaini, Mahasiswa peserta musyawarah wilayah Ikatan Lembaga Mahasiswaa Ilmu Budaya dan Sastra Se-Indonesia (ILMIBSI) dari Universitas Lancang Kuning Riau, mengapresiasi kegiatan ini, karena dapat menambah wawasan yang akan diceritakan setelah ia pulang dari Palembang.

“Hari ini bisa mengenal berdirinya Palembang yang langsung dijelaskan oleh Sultan Mahmud Badaruddin IV. Dibahas juga mengenai kuliner khas palembang pun di bahas disini, asal kata pempek yang awalnya saya belum tahu menjadi tahu. Ini sebuah ilmu baru dan pengalaman yang bisa saya ceritakan sepulang saya dari sini.

Reporter: Erna Rustiana, Monalia Aninda Aryani

Editor: Muhammad Rajab

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah