Fakultas Ilmu Politik

Sosial Perspektif Imam Syafi’i, UIN RF Sudah Universal

Materi- Prof. Dr. Hussein Mokhtari, Rektor Universitas Mazahib Islamiyah, Teheran sedang memaparkan materinya, dalam Konferensi Internasional di Gedung Academic Center UIN RF, Senin (22/05/17). Ukhuwahfoto/Sobarudin.

 

UIN-Ukhuwahnews.com | Dalam konteks mencari ilmu, Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UIN RF) Palembang yang sudah bersifat universal harus terbuka, tidak bisa berkecimpung dalam tradisi sendiri. Demikian ungkap Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Dr. H. Suyitno, M.Ag, dalam acara Konferensi Internasional dengan tema Ilmu Sosial Kontemporer dalam Perspektif Imam Syafi’I, di Gedung Akademik Center (AC) UIN RF, Senin, (22/05/17).

Suyitno menegaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini murni sebagai bidang keilmuan, dimana mahasiswa belajar untuk dapat membandingkan ilmu sosial yang diajarkan Imam Syafi’i di Iran.

“Disini kita dituntut belajar bagaimana kita bisa menyatukan antara paham Sunni disini dalam perspektif Indonesia dengan paham Sunni di Iran yang termasuk minoritas namun tetap mempertahankan nilai kehidupan sosialnya, sehingga mendapat perhatian nantinya,” tambahnya.

Dalam hal ini materi disampaikan oleh prof. Dr. Husein Mokhtari, prof. Dr. Nasarudin Umar, MA., Ayatullah Husseini Sharoudi bekerjasama dengan University of Islamic Denomination-Tehran menjelaskan sebagaimana Sejarah Imam Syafi’i, keilmuannya serta bagaimana mahzab sunni tetap hidup hingga saat ini.

Menurut Siti Qoriah, Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab ini berpendapat seminar ini bagus untuk di konsumsi mahasiswa karena Imam syafi’I adalah mazhab yang terbesar dianut oleh Indonesia.

“Seminar juga adalah salah satu cara kita untuk menambah ilmu pengetahuan yang tidak kita dapat di kuliah,” ujarnya.

Berbanding hal dengan Fikri, Mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam ini berpendapat jelas pihak univesitas sudah mengundang Imam Syiah.

“Kalau memang mau mengkaji perspektif imam syafi`I kita harus mengundang imam ahli sunnah bukan imam syiah,”tuturnya.

Menurut Fikri, bisa saja Imam Syiah ini mendoktrin para peserta seminar, dimana dari perkataan mereka bahwa kebenaran itu diukur dari manusia.

“Pemikiran manusia itu berbeda, itulah kita harus memandang pemikiran tersebut dari Allah, pandangan Allah itu bersumberkan dari hadis yang shahih dan biasanya manusia membuat keputusan berdasarkan dengan nafsu. Kalau memang ada perbedaan pendapat akan diterima yang terpenting ada dalil hujjah nya “ pungkasnya.

Fikri berharap semoga tidak ada lagi acara-acara yang megundang imam syiah, karena ini sangat membahayakan, karena penganut syiah juga pandai beritikah dan beretorika.

Reporter : Uci

Editor : Janero

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah