Editorial

Situs Berharga Kerajaan Palembang Darusalam, Terasingkan

Salah satu situs Ki Gede Ing Suro tempat bersejarah peninggalan Kerajaan Palembang Darussalam. Rabu (14/06/2017). UkhuwahNews/Aji Sultan Malik.

Terletak di Negeri Sriwijaya, bangunan dengan tiga pondasi  utama berdiri kokoh di Jalan Ratu Sianum Lorong Haji Umar RT 19, Kelurahan 1 Ilir  Kecamatan Ilir Timur II Kota Palembang. Tembok bangunan berwarna coklat kemerah-merahan ini khas seperti candi, walaupun warnanya tidak apik lagi karena ulah lumut yang mewabah disekitar dinding. Pemakaman Ki Gede Ing Suro baru ditemukan sekitar tahun 1970 yang saat itu pemakaman masih tertimbun oleh tanah dan belum tersusun rapi. Penyusunan dan penggalian makam memakan waktu hingga 10 tahun, hal ini dikarenakan penyusunan batu sangat sulit karena pemisahan antara batu asli dengan batuan kerikil biasa. Pemisahan dilakukan untuk menjaga keaslian artefak peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebut.

Bangunan ini terdiri dari 34 makam yang berada diatas candi, dihiasi oleh ukiran khas Hindu serta Salip Yunani. Masing-masing makam tersebut tersebar di 7 bangunan candi yang tersusun dari batu bata asli sejak 16 Masehi hingga sekarang. Ki Gede Ing Soro yang wafat pada tahun 1578 masehi ini merupakan tokoh utama dibalik berdirinya Kesultanan Palembang Darusalam. Beliau dimakamkan diantara ketujuh bangunan candi tersebut, 6 candi lainnya ialah makam pengikut atau kerabat dekat Ki Gede Ing Suro. Konon Ki Gede Ing Suro tidak memiliki keturunan sehingga makam tersebut dipenuhi oleh kerabat seperjuangan. Terdapat juga makam putra Kaisar Ming Tampualam dari Kerajaan China yang diberi gelar Naga Kuning, kemudian di islamkan oleh Ki Gede Ing Suro lalu namanya diganti menjadi Abdullah.

“Makam Abdullah tepatnya berada di sebelah makam Ki Gede Ing Suro,” kata Anang selaku petugas kebersihan sekaligus penjaga makam.

Keunikan situs kuno ini mengundang daya tarik mahasiswa, untuk mengetahui sejarah dibalik berdirinya kerajaan Palembang Darussalam di Kota Palembang. Setiap harinya pemakaman ini sering dikunjungi oleh wisatawan untuk berfoto dan berziarah.

“Banyak orang yang datang kesini untuk melihat makam, kebanyakan dari mereka mahasiswa yang ingin mengetahui sejarah makam ini,” tambah Anang bercerita disamping makam Ki Gede Ing Suro

Di depan Makam Ki Gede Ing Suro terlihat tulisan berlapis cat emas yang telah dimodifikasi, serta tampak halaman luas terbentang, yang dipercayai sebagai tanah leluhur nenek moyang masyarakat melayu. Nisan yang terbuat dari kayu telah lapuk serta tulisan nisan yang sudah memudar dimakan usia.

Belakangan, situs sejarah tidak diperhatikan oleh masyarakat, karena mereka tidak tahu persis sejarah tentang keagungan sosok Ki Gede Ing Suro. Jalan masuk menuju pemakaman diapit oleh perumahan warga, membuat situs kuno ini terlihat terasingkan. Kemudian lokasi pemakaman berdekatan dengan PT. Pusri tak berpengaruh banyak untuk kemajuan pemakaman tersebut, padahal setiap harinya pembuangan limbah pabrik dari PT. Pusri berupa cairan zat kimia, membuat bangunan menjadi keropos, juga bau menyengat dan sangat mengganggu masyarakat sekitar.

“Setiap hari masyarakat mengalami sesak napas akibat limbah pabrik, ditambah lagi bau pesing yang tercium sangat menganggu warga sekitar,” jelas Saini salah satu penjaga makam Ki Gede Ing Suro.

Sebenarnya Situs warisan dunia ini sangat menguntungkan jika dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat Palembang “Kita yang rugi, sudah ada situs warisan dunia tapi malah diacuhkan oleh tuan rumahnya sendiri, dan marilah kita jaga dan lestarikan bersama sama agar Palembang lebih dikenal orang bukan saja nasional bahkan internasional,” tutup Saini.

Reporter : Mls

Editor : Mae

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah