Editorial

Seandainya

seandainya

Sampai saat ini seharusnya aku memiliki seorang sahabat yang sangat aku sayangi. Seorang sahabat yang mengerti aku luar dalam. Seorang sahabat yang selalu ada di saat suka maupun duka. Seorang sahabat yang memiliki banyak kesamaan denganku. Bahkan tanggal lahir kami pun sama tanpa disengaja.

Ya, seandainya kejadian itu tidak memisahkan kami. Seandainya saat itu kami tidak bermusuhan. Seandainya saat itu aku lebih bisa mengontrol emosiku. Seandainya saat itu aku percaya dengan kata-katanya. Mungkin sampai saat ini kami masih melakukan itu semua bersama-sama.

Ah, kalau perlu dijabarkan, banyak sekali kata seandainya yang ingin aku utarakan. Tapi walaupun aku sudah berusaha keras untuk menerima semua keadaan ini, kata seandainya masih terus berkecamuk dalam kepalaku.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Seandainya semua bisa diulang kembali, mungkin sampai saat ini aku masih bisa bersama dengan sahabatku. Seandainya aku dapat melihat takdir yang akan mendatangi kami. Seandainya…
Ah, lagi-lagi aku menggunakan kata seandainya.
***
Saat aku berumur 8 tahun, aku memiliki tetangga baru tepat di samping rumahku. Kata mamaku mereka pindahan dari Jogja dan pindah ke Palembang karena urusan pekerjaan. Awalnya aku tak perduli dengan tetangga baruku itu. Tapi saat aku melihat anak perempuan seusiaku yang ikut turun dari dalam mobil kijang berwarna silver itu, aku mulai tertarik dengan tetangga baruku itu.

Tanpa aku sangka anak perempuan itu mendekatiku. Rambutnya menari-nari tertiup angin sepoi-sepoi di sekitar kami. Aku semakin terkagum-kagum dengan anak perempuan itu. Jalannya pelan dan sangat anggun walaupun dia masih kecil.

“Gina…,” anak perempuan itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah padaku.

“Alisa…,” aku menyambut uluran tangannya sambil tersenyum lebar.

Sejak saat itulah aku dan Gina bersahabat. Kami selalu satu sekolah dari SD, SMP, bahkan sekarang saat kami sudah SMA pun, kami tetap satu sekolah. Kami selalu bersama-sama kemana pun kami pergi. Bahkan orang-orang pun menjuluki kami ‘si kembar’. Memang wajahku memiliki sedikit kemiripan dengan wajah Gina.

Aku yang dulunya pendiam dan agak susah bergaul dengan lingkungan sekitarku, lambat laun mulai bisa membuka diri sejak kehadiran Gina di sisiku. Sebelum Gina hadir di kehidupanku, aku tak lebih dari seorang perempuan dingin yang selalu menekuk wajahnya.

Gina orang yang ceria dan penuh semangat. Sejak berteman dengannya, aura positifnya itu ikut menular dan merasuki tubuhku. Aku sudah mulai bisa tersenyum kepada orang yang belum aku kenal. Bersikap ramah pada teman-temanku, dan tak canggung lagi untuk mengikuti organisasi di sekolah.

Semua berkat Gina.
Tapi ternyata setelah bertahun-tahun kami bersahabat, akhirnya ujian itu menghampiri persahabatan kami. Saat itu kami baru beberapa minggu duduk di bangku SMA. Kami sangat bangga dengan status kami sebagai anak SMA dan sudah melepaskan status lama kami sebagai anak SMP.

Aku sangat senang saat mengetahui bahwa aku sekelas lagi dengan Gina. Gina pun senang bukan kepalang. Di kelasku terdapat 40 murid dari SMP yang berbeda-beda. Jadi wajar saja kalau banyak wajah-wajah baru yang tidak familiar untukku.

Aku mengedarkan pandanganku untuk melihat wajah-wajah teman baruku. Saat itulah tak sengaja aku melihatnya. Melihatnya yang tengah tertawa dengan anak laki-laki di kelasku. Mereka terlihat begitu akrab dan seperti teman lama. Padahal aku tahu mereka baru berkenalan saat kegiatan MOS yang baru berakhir kemarin.
Tanpa sadar aku memperhatikannya sambil tersenyum.

“Ngeliatin apa, Lis?” Tanya Gina yang sukses membuyarkan lamunanku.
Cepat-cepat aku menoleh dan menggeleng pelan.

“Gak ngeliatin apa-apa kok, Gin.” Jawabku sambil tersenyum tipis.

“Masa sih?” Tanya Gina tak yakin.

“Beneran…” kataku sambil mengangkat kedua jariku membentuk huruf v.

Walaupun masih nampak tidak percaya, Gina memilih mengangguk dan melanjutkan kegiatannya membaca novel. Melihat Gina yang kembali asyik membaca novel, aku kemudian menoleh lagi ke anak laki-laki itu. Mukaku langsung memerah saat tahu ternyata anak laki-laki itu menoleh ke arahku sambil tersenyum manis.
Tapi hal itu baru aku sadari sekarang. Apa benar saat itu aku yang dia lihat?
***

“Aku kayaknya suka sama Anza, deh…” kataku malu-malu.
Gina langsung menutup novel yang dia baca dan menatapku sambil tersenyum lebar.
“Kamu suka sama Anza? Wah, berarti dugaan aku bener dong.” Katanya senang. Lalu Gina langsung memelukku erat saking senangnya.

Saat ini kami sedang santai-santai di kamarku. Hal ini sering kami lakukan bersama sepulang sekolah. Entah itu untuk mengerjakan PR bareng atau hanya sekedar main. Tak jarang pula aku yang main ke rumah Gina.

“Dugaan kamu?” tanyaku tak mengerti. Aku melepaskan pelukan Gina dan menatapnya meminta penjelasan. “Emangnya kamu udah tahu kalo aku suka sama Anza?”

“Aku udah tahu kamu suka sama Anza karena kamu sering banget ngeliatin dia. Aku juga tahu, pas kita pertama masuk kamu lagi ngeliatin dia, kan? Kamu aja yang waktu itu ngeles sama aku.” Jelas Gina yang sukses membuatku tersipu malu.

“Ehm, jangan bilang ke siapa-siapa, ya, kalo aku suka sama Anza. Apalagi kalo orangnya sendiri yang tahu. Wah, bisa malu aku kalo ketemu dia.”

“Iya, iya, sejak kapan sih aku bocorin rahasia kamu?”

Aku tidak pernah menyangka bahwa sejak saat itulah aku tidak dapat mempercayai Gina seutuhnya. Bukan karena Gina membocorkan rahasiaku. Bukan. Sampai saat ini rahasiaku semuanya aman di tangan Gina.

Tapi aku tidak mempercayainya karena hal lain yang sangat aku sesali.
Saat itu aku iseng-iseng mendengar percakapan antara Anza dan empat orang teman laki-lakinya. Sejak aku meyakini perasaanku terhadap Anza, aku selalu berusaha untuk mencari tahu tentangnya. Seperti saat ini. Saat istirahat aku mengikuti Anza ke perpustakaan. Anza memang sangat rajin membaca. Tak heran kalau Anza menjadi bintang di kalangan guru dan siswi di kelasku.

“Aku mau nembak Gina…” kata Anza semangat pada teman-temannya.
Aku langsung menjatuhkan buku yang aku pegang saat mendengarnya. Anza dan teman-temannya menoleh sebentar sebelum akhirnya melanjutkan perbincangan mereka. Dengan cepat aku pergi dari perpustakaan sambil menangis. Tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang aku temui di koridor sekolah.

“Kamu kenapa, Lis?” Tanya Gina sarat kekhawatiran.

Aku mengangkat kepalaku dan menatap Gina. Entah kenapa saat ini aku sangat membenci Gina. Dengan kasar aku mendorong tubuh Gina sehingga Gina terjatuh ke kursinya. Aku meluncurkan cacianku pada Gina yang tidak bersalah.

Entah kenapa aku ingin sekali marah pada Gina. Padahal aku tahu, Gina sama sekali tidak bersalah. Bahkan Gina sendiri tidak tahu masalah apa yang aku hadapi. Tapi aku kesal, kenapa Gina yang Anza pilih? Kenapa bukan aku?

Semenjak saat itu aku menjauhi Gina. Bahkan aku sengaja pindah duduk ke belakang. Kebetulan ada satu bangku kosong karena pemiliknya mengundurkan diri dari sekolahku dan memilih untuk bersekolah di tempat lain.

Aku tahu Gina selalu berusaha mengajakku untuk berbicara. Tapi aku terlalu egois untuk membiarkan Gina mengutarakan pikirannya. Aku semakin kesal saat tahu Anza sudah menembak Gina. Tapi kata teman-temanku yang hobi ngegosip, Gina menolak Anza. Tapi aku juga tidak tahu apakah kabar itu benar atau tidak.

Aku sudah kepalang benci dengan Gina. Dan aku tidak tahu, beberapa hari kemudian Gina meninggal dunia karena kecelakaan.

Saat hari pemakaman Gina, aku tidak berani untuk mendekat. Aku merasa, akulah yang harus bertanggung jawab atas kematian Gina. Karena kalau saja aku mau mendengar perkataan Gina— kalau saja aku percaya kata-katanya—mungkin sampai saat ini Gina masih hidup. Sampai sekarang aku masih menyalahkan diriku atas kematian Gina.
Secara tidak langsung aku adalah pembunuh yang sudah membunuh sahabatku sendiri.
Sudah hampir dua tahun sejak kepergian Gina. Hatiku rasanya sepi, seperti ada yang hilang. Semenjak kematian Gina, perlahan-lahan perasaanku terhadap Anza mulai mengikis seeblum akhirnya hilang tak berbekas. Anza terlihat sangat terpukul setelah kematian Gina.

Setelah tiga bulan kematian Gina, Anza tiba-tiba jatuh pingsan saat upacara bendera. Karena tidak juga bangun dari pingsannya, akhirnya pihak sekolah berinisiatif membawa Anza ke rumah sakit. Tapi Anza menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit. Anza menyusul Gina yang telah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini.

Aku baru tahu kalau ternyata diam-diam Gina juga mencintai Anza. Aku baru tahu hal ini saat aku tak sengaja membaca buku diary Gina. Di sana Gina bercerita betapa sedihnya dia saat aku memusuhinya. Dia sadar kalau aku marah padanya.

Aku langsung menangis sambil memeluk diary Gina. Bodohnya aku yang menjadi penghalang hubungan Anza dan Gina. Padahal Gina menolak Anza karena memikirkan perasaanku. Andai saat itu aku berbesar hati menerima takdir. Mungkin sampai saat ini aku masih bisa melihat mereka berdua.

Selama ini aku masih menyalahkan diriku dan tidak berani mengunjungi makam Gina. Tapi akhirnya, hari ini aku bulatkan tekadku untuk menjenguk sahabatku itu. Aku membawa buket bunga mawar kuning sebagai tanda persahabatan kami.

Rasanya sakit saat sadar bahwa Gina sudah tiada. Sakit saat tahu di bawah gundukan tanah ini tersembunyi raga teman terbaikku. Setelah menaruh buket mawar yang kubawa di dekat nisan Gina dan mengirimkannya doa, aku beranjak dari makam Gina.
Aku bisa kehilangan seorang teman seperti itu dengan kematianku. Tetapi tidak dengan kematiannya. (George Bernard Shaw)

*By : Adwinda Febilia

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah