Opini

SARJANA BUKAN BERARTI KERJA

Bekerja adalah harapan bagi semua orang, termasuk juga seorang sarjana yang telah menyelesekan stadinya selama kurang lebih 4 ( empat) tahun di perguruan tinggi (Universitas). Harapan terbesar untuk bekerja mulai muncul saat predikat sarjana mulai di dapatnya tentusaja pekerjaan yang mudah dan sesuai dengan  apa yang di harapkan adalah tujuan bagi semuanya.

Setelah lulus Ujian Nasional (UN) Siswa-Siswi SMA, MA, MAN dan SMK mulai berrame-rame mendaftarkan diri untuk melanjutkan jenjang pendidikanya di Universitas baik dari Desa maupun perkotaan mendaftarkan diri di Universitas yang telah di pilihnya dengan tujuan meningkatkan pendidikan yang  lebih tinggi dengan harapan setelah lulus perguruan tinggi agar lebih mudah mendapatkan suatu pekerjaan yang di inginkanya.

Setelah beberapa tahun mengenyam pendidikan di bangku kuliah dan Mendapat predikat lulusan terbaik dari suatu universitas bukan menjadi jaminan untuk bisa langsung bekerja. Indeks prestasi (IP) tinggi di atas 3,5 pun bukan jaminan bagi para sarjana segera mendapatkan pekerjaan. Mereka harus keluar masuk kantor mengantarkan lamaran dengan harapan ada lowongan pekerjaan untuk mereka.

Namun selain pendidikan yang mumpuni dalam mencari pekerjaan juga di butuhkan  pengalaman, kejujuran dan sekil ( kemampuan) dalam bidang  yang akan di gelutinya, sebagai penunjang pendidikan yang sudah di dapatkanya, untuk memiliki sekil selain kukiyah kita juga harus mengikuti organisasi yang ada di dalam kampus maupun di luar kampus agar kita mempunyai kemampuan tersebut. (Hadi Suprapto, Agus Dwi Darmawan Vivanews)Terbukti bahwasanya pada saat ini pengangguran di Indonesia kususnya lulusan perguruan tinggi ( Universitas) mencapai 14,24% bahkan jumlah ini bisa berubah.

Kemungkinan besar pengangguran bisa juga terjadi di karenakan kurangnya lolongan kerja yang di buka pemerintah dan sikap memilih-milih pekerjaan yang di lakukan oleh sebagian orang sehingga dengan nenunggu pekerjaan itu mejadi ngangurnya para sarjana kususnya, kemungkinan juaga ada beberapa alasan-alasan kenapa para lulusan sarjana menganggur.

Alasan pertama adalah apa yang dinamakan dengan pengangguran siklis yaitu orang menganggur terpaksa. Golongan lulusan sarjana ini ingin bekerja dengan tingkat upah yang berlaku, tetapi sayangnya pekerjaan tidak tersedia.

Yang kedua adalah pengangguran friksional yang diakibatkan oleh perputaran normal  tenaga kerja. Orang-orang muda ( fresh graduetion ) yang memasuki angkatan kerja dan mencari pekerjaan. Tanpa diikuti dengan skill yang mumpuni atau pengalaman kerja yang tidak memadai, sehingga kalah dalam kompetisi kerja, dan masih banyak hallain yang menyebabkan seseorang menjadi penganguran.

Sedangkan jenis pengangguran yang ketiga adalah pengangguran struktural, yang didefinisikan sebagai pengangguran yang disebabkan ketidak sesuaian antara struktur angkatan kerja berdasarkan jenis keterampilan, pekerjaan, industri, atau lokasi geografis dan struktur permintaan akan tenaga kerja.

Dengan terus bertambahnya sarjana dan tidak adanya lowongan kerja yang di buka baik dari pemerintah maupun perusahaan-perusahaan semakin susahnya seorang sarjana untuk bekerja dan menyalurkan ilmu-ilmu yang sudah di perolehnya jadi jelas bisa di simpulkan bahwasannya sarjana bukan sarat mutlak untuk mendapatkan suatu pekerjaan.

Oleh : Iwan Rosadi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah