Features

Saksi Transmigrasi di Desa Nusantara

Samidi, 68 Tahun. ukhuwahnews/Maya.

Mbah Samidi, begitu biasa cucu-cucunya memanggil. Senyum lebar sampai terlihat gigi dari bibir Mbah Samidi, semakin menambah karisma dirinya sebagai tetua di Desa Nusantara, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan (Sumsel). Rambut putih dan beberapa giginya tanggal termakan usianya yang menginjak 68 Tahun, ujar Mbah Samidi, namun menurut KTP, ia lahir pada Tahun 1948, dia masih ingat pernah melihat orang-orang pribumi di tempat kelahirannya Pacitan, Jawa Timur, disuruh kerja paksa atau Romusha, pada masa kependudukan Jepang di Indonesia, yang masanya tercatat didalam sejarah antara Tahun 1942-1945.

Pada saat usia 15 Tahun, Samidi muda merantau sendirian ke Kota Surabaya, mencari kehidupan yang lain mungkin lebih baik, namun nasibnya masih sama menjadi petani. Kemudian  di perantauan itulah dia bertemu dengan Misnatun, gadis asal Surabaya dan menikah dengannya. Kemudian, lelaki berjanggut putih ini ingat ketika kesempatan bertransmigrasi sangat dianjurkan pemerintahan Presiden Soeharto. Pemerintah memberikan penawaran lahan yang memiliki potensi yang lebih mumpuni, memahami bakatnya bercocok tanam, ia dengan senang hati mendaftarkan dan mengikuti proses menjadi transmigran.

Mengajak istri dan kedua anaknya, Mbah Samidi menyeberangi Selat Sunda dengan menumpang kapal, lalu disambung menaiki kereta api menuju Kota Lahat, Sumsel.

 “Naik sepur,” ujar Mbah Samidi.

Sampai di dataran dingin, Lahat, Sumatera Selatan, ia tinggal di daerah pertanian yang mumpuni, lahan yang subur tidak membuat Mbah Samidi puas. Kemudian, pada Tahun 1991-an, dia mendatangi Kecamatan Air Sugihan, yang pada waktu itu sebagai daerah belukar, dengan tekstur tanah gambut, ia menjadi saksi akan bermukimnya warga transmigran di Desa Nusantara.

Ia menjadi pendatang kedua, atau susulan, setelah  kebanyakan dari pendatang pertama meninggal menderita penyakit muntaber, akibat keadaan ukuran kadar air yang mengandung keasaman yang tinggi, potensial hidrogen (pH) airnya bisa mencapai kadar empat, yang seharusnya angka normalnya, tujuh.

Kepada kami, beberapa Peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Tajuk duduk bersebelahan Mbah Samidi, Kamis (24/11/16), dengan tangannya, ia menunjuk rumah miliknya sekarang yang dulunya ketika ia datang, rumput ilalang sudah mencapai atap rumah. Lahan-lahan yang saat ini sudah terawat rapi, dahulu adalah tempatnya bersarang babi hutan dan gajah.

Mbah Samidi dan warga transmigran membuka lahan dengan bercocok tanam, padi dan umbi-umbian.  Ia dan warga transmigran-lah yang menjadi tameng untuk merawat tanah tersebut, mengusir hama mempertahankan mata pencariannya. Pernah menuju musim panen, pertanian Mbah Samidi dan warga sekitar hancur dan gagal panen akibat hama babi tersebut, hingga membuatnya menjadi rugi besar.

Pertanian padi di Desa Nusantara, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan (Sumsel). . Ukhuwahnews/Maya.

Namun dengan keteguhan, prinsipnya untuk menjadi petani mandiri, memanfaatkan dan membuat terobosan dimanapun ia bertanam, ia akan tetap berusaha untuk anak, cucunya dimasa yang akan datang.

“Dulu itu sulit nian,” kata Mbah Samidi menutup matanya, mencoba mengingat lagi usahanya membuka lahan pertanian.

Menurut Mbah Samidi, jika ditanya mengenai lahan pertanian yang menjadi sengketa pada saat ini, ia tidak mengerti apa-apa.

“Lah, Saya ini petani, tidak tahu apa-apa. Hanya saja menurut pengalaman saya, pada zaman Gubernur Sumsel, Romli Hasan Basri saat itu, mengatakan dalam suatu forum di Dinas Transmigran Kota Lahat, Sumsel, dalam satu desa, tanah berjarak satu kilometer dari pemukiman warga merupakan cadangan bagi warga transmigrasi, juga sesuai dengan pembinaan yang ia dapatkan di daerah Surabaya dulu,” tuturnya.

Pada waktu dulu, dalam satu kepala keluarga, warga transmigran dijanjikan diberikan lahan untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, berkisar satu hingga dua hektar. Hingga saat ini, warga transmigran yang tinggal di daerah lahan gambut tetap bisa memanfaatkannya sebagai lahan pertanian. Namun tidak semuanya menjadi lega, masih tersimpan kekhawatiran pada warga transmigran, akan digusurnya pemukiman mereka dan digantikan dengan pabrik-pabrik yang mengambil mata pencarian mereka, begitupun yang dirasakan Mbah Samidi.

Berkah dari perjuangan Mbah Samidi dan warga transmigran di Desa Nusantara telah membuahkan hasil, kini tidak hanya padi apalagi sawit yang menjadi pertanian utama, namun jeruk, kopi, dan tanaman lain juga dapat tumbuh di lahan gambut.

Kebun Jeruk sedang berkembang di Desa Nusantara, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan (Sumsel). ukhuwahnews/Maya.

Usia tuanya, dengan penyakit liver yang menggerogoti, ia tetap tersenyum ramah dan menerima siapa saja yang ingin mendengar nasehatnya. Lahan gambut yang merupakan tempat yang jika dilihat tidak layak ditinggali, menjadi sumber nafkah bagi orang-orang seperti Mbah Samidi.

Tidak jauh dari kami duduk, seorang wanita bertubuh mungil bolak-balik dari belakang rumahnya, saya menunjuk wanita tersebut, bertanya pada Mbah Samidi, benar itu istrinya.

“Ya, itu istri saya, yang tubuhnya pendek,” canda Mbah Samidi, hingga terlihat beberapa giginya yang sudah copot.

Segera saya akhiri wawancara, setengah berlari mencari wanita tersebut. Rupanya, anak perempuannya, Sulika mengerti bahwa kehendak saya untuk berbincang dengan Mbah Misnatun. Mbah Misnatun duduk di kursi rotan panjang, saya duduk disebelahnya, namun ia sempat buru-buru ingin ke belakang untuk memasak.

“Saya bantu ya, mbah,” ujarku.

“Eh, jangan. Ya sudah, ayo duduk sini saja,”

Mbah Misnatun menggunakan jilbab berwarna ungu sudah pudar, wanita kelahiran Surabaya, Tahun 1955 ini mengikuti kemanapun langkah suaminya dengan setia. Anaknya yang pertama bernama Sumiati tinggal di Surabaya, anak kedua membangun rumah di belakang gubuk tuanya, kata Mbah Misnatun, bernama Ali Bahrudin, juga anak ketiganya yang berumur lima Tahun, ia bawa ke Desa Nusantara saat pertama kali bermukim disana, saat ini Sulika menikah dengan Rokim, tinggal disebelah rumah Mbah Misnatun.

Khas sekali tawa Mbah Misnatun, mengingat pernah suatu waktu jika musim kemarau, pada Tahun 1996-an seingatnya, ia harus menghemat air hujan yang ia tampung sebagai simpanan, atau  membeli air galon yang tidak sebanding dengan penghasilan keluarganya. Pernah jika panen padi gagal, ia dan keluarga harus makan makanan cadangan, berupa jagung yang dicampur dengan nasi seadanya.

Mbah Misnatun menyaksikan bagaimana sulitnya hidup di daerah transmigrasi, sempat ia mendapat penyakit tumor di perutnya, namun Alhamdulillah, Mbah Misnatun mengucapkan syukur, ia sudah sembuh. Namun, sampai saat ini ia tetap khawatir karena suaminya, Mbah Samidi tidak kunjung sembuh dari sakit liver, bahkan baru beberapa minggu kemarin, ia pulang dari rumah sakit di Palembang.

“Saya sudah sembuh, ya gantian bapaknya. Mbah Samidi itu sudah tidak kuat lagi dibawa begawe, kalau maksa gawe dimarahin anaknya, nanti sakit lagi,” ujar Mbah Misnatun sambil tertawa kecil.

Mbah Misnatun setengah tertawa, bercerita selayaknya seorang ibu, di pagi hari ia harus memasak, memberi makan ternak, syukur kalau tidak lelah, ia akan pergi ke sawah. Menghadapi semua keadaan di Desa Nusantara, ia akan tetap mendampingi suami dan anak-anaknya, lalu melanjutkan kegiatannya menanak nasi.

 *Mae

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah