Opini

Sadarlah! Bumi Sepintu Sedulang!

Lubang bekas galian tambang timah membelah daratan hijau di daerah Pulau Bangka, Selasa (16/1/2018). Dampak tidak adanya tindak lanjut dari lubang galian timah tersebut, dapat menyebabkan berkurangnya daerah resapan air di Pulau Bangka.

Lubang bekas galian tambang timah membelah daratan hijau di daerah Pulau Bangka, Selasa (16/1/2018). Dampak tidak adanya tindak lanjut dari lubang galian timah tersebut, dapat menyebabkan berkurangnya daerah resapan air di Pulau Bangka.

1 Januari 2018 lalu aku melaksanakan kegiatan rutinku setelah menyudahi kegiatan perkuliahan semester 5 di kampus hijau Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Mudik!!!! agenda yang rutin aku laksanakan, bukan karena sebuah kewajiban apalagi karena rindu, tetapi hanya sekedar menjenguk tanah kelahiranku yang sedang sakit-sakitan. Tak tanggung-tanggung, penyakit kronis tengah menggerogoti pulau yang mempunyai julukan sepintu sedulang itu.

Yaa pulau bangka, daerah yang ikut terkenal karena tulisan fenomenal Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi ditambah dengan pesona seribu satu pantainya menjadi daya tarik tersendiri pulau yang dulunya masih menjadi bagian pulau Sumatera.

Beruntung, di penerbangan ini aku mendapat kursi di samping jendela. Segera aku persiapkan peralatan memotret ku untuk mengabadikan keindahan pulau Bangka dari atas pesawat. Jarak tempuh antara Palembang-Bangka hanya 30 menit, singkat memang.

Tetapi tak sesingkat ingatanku yang terus membayangkan lubang-lubang bekas galian tambang yang membelah tanah kelahiranku.

Lubang-lubang itu nampak jelas dari atas pesawat, begitu luas, begitu banyak, begitu memprihatinkan. Hatiku tersentak, adakah warga bangka yang tahu akan hal ini?? Aku rasa, pasti tau lah, mustahil rasanya tidak ada satupun warga bangka yang tak pernah naik pesawat.

Jika bangka dikenal dengan pulau 1001 pantai, maka tidaklah berlebihan jika aku tambah julukannya menjadi pulau dengan 1001 lobang. Dari tahun ke tahun, permasalahan tambang ini memang menjadi masalah classic bagi Bangka maupun Belitung yang telah bersatu menjadi satu Provinsi yakni Bangka Belitung (BABEL).

Menurut data yang dihimpun dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Babel mencatat sebanyak 41,8 persen atau 275.682 hektar kawasan hutan Produksi dikuasai oleh 9 perusahaan Hutan Tanaman Industri, 1,1 juta hektar dikuasai 1.343 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan 250.000 hektar dikuasai pemilik Hak Guna Usaha (HGU) sawit sedangkan total luas daratan Provinsi Babel hanya 1,6 juta hektar, disini sangat terlihat sekali ketimpangan penguasaan lahan di Provinsi Babel.

Bukan hanya di darat, di pesisir laut rakyat atau nelayan dipaksa berhadapan dengan perusahan pemilik IUP laut, hampir semua pesisir laut di provinsi Babel dikelilingi oleh IUP laut, data WALHI Babel mengungkapkan ada 298 IUP laut yang luasnya mencapai 595.381 hektar.

Lantas mau dikemanakan nasib generasi penerus Babel? Anak, cucu, cucung? Apakah mereka hanya akan menikmati hamparan pasir putih yang dimuntahkan dari perut bumi, hanya karena menginginkan harta karun didalamnya? Mata mereka tak akan lagi melihat kehijauan hutan, melainkan “kolam renang” buah dari keserakahan manusia.

Miris memang, tetapi lebih miris lagi masyarakat babel yang mempunyai sikap acuh. Bahkan ada yang bersyukur, karena bekas galian tambang ada yang disulap menjadi destinasi wisata, luarbiasa!!. Jarang sekali terdengar aksi menuntut permasalahan tambang ini, saat ku tanyakan pada temanku, dia hanya menjawab “selagi beras dirumah masih ada, perut masih kenyang, sayur dikebun masih subur, untuk apa mengurusi masalah itu? Masih banyak kerjaan lain, ” katanya santai. Sudah berapa kali kutanyakan hal ini, tapi jawaban mereka masih sama, hampir tak peduli, atau mungkin aku saja yang tak tahu isi hati mereka.

Hanya kawan-kawan WALHI lah yang rutin menyuarakan masalah ini, itupun tak cukup lantang untuk menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur mengakar ini. Rasanya ingin ku tampar semua masyarakat Babel agar mereka sadar. Tapi itu hanyalah angan, mustahil bisa menampar 1.372.813 orang yang menghuni Babel saat ini. Aku hanya bisa berharap, sedikit tulisan ini bisa menampar mereka, bisa menyadarkan mereka, betapa pulau Bangka Belitung telah dikuasai oleh tambang.

Penulis : Nopri Ismi

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah