Rosita dan Gerabah Buatannya

Rosita (58) sedang membuat pot bunga dari tanah liat, Rabu (13/3/2019). Rumah kerajinan gerabah miliknya berada di Kec Sungai Lais Lr. Keramik Palembang. Ukhuwahfoto/Indra Sucipta.

Palembang – Ukhuwahnews.com | Terik matahari tak membuat Rosita (58), seorang pengrajin gerabah menyelesaikan pekerjaannya. Tangannya yang terlanjur berlumur tanah liat itu, tetap memutar-mutar kerajinannya hingga membentuk sebuah pot bunga, Rabu (13/3/2019).

Rosita sudah akrab dengan profesinya sebagai pengrajin gerabah sejak tahun 80-an. Bukan hanya guci, setiap hari, dia juga membuat berbagai macam jenis gerabah lainnya, seperti celengan, wadah berbentuk geluk, dan lain sebagainya.

Awalnya, wanita asli Sunda itu mengenal gerabah dari sang suami, Wardi (67) yang juga merupakan orang Sunda. Suaminya memang memiliki latar belakang keluarga pengrajin gerabah. Sejak kecil, sudah dikenalkan dengan gerabah oleh keluarga, hingga akhirnya keahlian tersebut turun ke Wardi.

**

Untuk bahan, biasanya, ibu lima orang anak ini membelinya dari penjual tanah liat keliling. “Kami dapatkan seharga 60 ribu rupiah per gerobak,” ujar Rosita sambil memutar-mutar tanah liat yang hampir menyerupai pot bunga. Lanjutnya, satu gerobak tersebut bisa menghasilkan kurang lebih 50 gerabah.

Rosita mengatakan, proses pembuatannya, bisa memakan waktu satu minggu. Mulai dari pengadonan, penjemuran, sampai pembakaran. Biasanya, pembakaran dilakukan mulai dari pukul 6 pagi hingga pukul 9 malam. Tetapi, katanya, jika cuaca sedang tidak bagus, bisa memakan waktu hingga satu bulan.

Apabila sudah jadi, gerabah bisa dipesan konsumen secara langsung. Per kodi, gerabah dijual berkisar 100 ribu rupiah. Sedangkan satuan, dijual seharga 10 ribu hingga 20 ribu rupiah. Pemasarannya pun sudah sampai ke luar kota, seperti, Lahat, Pagar Alam, Prabumulih, Jambi, hingga yang paling jauh Bengkulu.

Namun, tidak hanya menunggu pesanan dari konsumen, sebagian gerabah juga dibawa langsung ke pasar-pasar oleh sang suami untuk dijual.

Selama satu bulan, Rosita mendapat keuntungan berkisar 3 juta rupiah. Menurutnya, pendapatan tersebut sudah mencukupi kebutuhan keluarganya. “Alhamdulillah melalui usaha gerabah ini, saya sudah bisa menyekolahkan kelima anak saya sampai tamat SMA,” ungkapnya yang saat itu mengenakan daster putih motif bunga-bunga merah jambu dan biru dengan handuk kuning yang dikalungkan di lehernya.

Kini, empat anak Rosita sudah berkeluarga, sedangkan yang satunya masih bekerja sebagai kuli bangunan. Akan tetapi, sangat disayangkan, menurutnya, karena kesibukan masing-masing, tidak satu pun anaknya tertarik meneruskan usaha gerabah yang sudah menjadi turun-temurun ini.

 

Reporter : Indra Sucipta, Jaiwan Nada Rismin

Editor : Alfi BS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *