Kabar Sumsel

Retaknya Percintaan Antara Manusia dan Harimau

Taufik Wijaya (kiri) dari Mongabay Indonesia, Dr. Tarech Rasyid (tengah), dan Asep (kanan) Perwakilan dari SZL Saat Menjadi Pemateri dalam Acara Diskusi Peringatan Global Tiger Day 2018 di OTW Food Street Palembang, (29/7/2018). Ukhuwahfoto/Nopri Ismi

Palembang – Ukhuwahnews.com | “Zaman dahulu di daerah Ogan Komering Ilir, saat air surut pagi hari, sering sekali harimau terlihat naik ke tangga rumah warga. Tapi harimau tidak pernah menerkam. Sedangkan sekarang kalau ada harimau langsung ditembak,” kenang Tarech Rasyid.

Dosen UIN Raden Fatah Palembang itu melanjutkan, seharusnya manusia dan alam mempunyai hubungan yang erat.”Tetapi sekarang malah mempunyai jarak, alam dijadikan objek untuk dikeruk demi kekayaan pribadi. Ketika manusia berhubungan baik dengan alam, dan dilandaskan perasaan cinta. Secara otomatis kita juga mencintai sang pencipta,” katanya saat menghadiri acara diskusi dalam rangka Global Tiger Day 2018 Palembang, Minggu (29/7/18).

Taufik Wijaya dari Mongabay Indonesia bercerita, bahwa dulu manusia dan harimau itu punya hubungan. Bukti konkretnya bisa dilihat dalam arca atau artefak yang ditemukan di daerah Lahat, Sumatera Selatan, yang termasuk dalam kawasan Lanskap Pasma.

“Dari zaman Megalitikum memang ikatan antara manusia dan Harimau sudah ada sejak 2000 tahun lalu, terbukti dengan arca manusia yang sedang memangku Harimau, Gajah dan lainnya dari peradaban Pasemah bukit  barisan Lahat,” ujar Tw, sapaan akrabnya.

Menurut Tw, jangan ada lagi statement kalau manusia mau menyelamatkan harimau. Malah sebaliknya, katanya, harimau lah yang dari dulu menyelamatkan manusia.  “Kalau mereka (Harimau) mau, sudah sejak dulu Puyang (Harimau) menghabisi manusia. Tetapi karena mereka sayang kepada kita, Puyang tidak melakukan hal tersebut. Kini malah manusia menjadi sombong,” katanya.

Tw mengatakan bahwa sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, kekayaan alam memang diperuntukkan untuk semua makhluk hidup. Dan pernyataan itu semua juga tercantum dalam Prasasti Talang Tuwo, semua kekayaan di bentang alam untuk makhluk hidup. Mulai dari makanan, pemanfaatan lahan dan lain sebagainya.

“Jadi naif lah kalau kita mau melindungi harimau. Kalau mau melindungi harimau, kita harusnya jangan menggunakan listrik. Karena semua listrik ini berasal dari batubara. Dan Lahat yang merupakan salah satu habitat satwa termasuk harimau, hancur karena batubara. Jadi kalau mau melindungi harimau, kita harusnya tidak menjadi bagian dari pengrusakan dan mestinya menjaga etika dengan alam,” tutur Tw.

Berbicara mengenai etika, perwakilan dari Zoological Society of London (ZSL), Asep bercerita mengenai etika manusia dan Harimau. Jadi ada cerita dari sebuah desa, kata Asep, ada dua pendatang yang mengaku suami istri, dan diberikan tempat tinggal dan lahan di ujung desa. Tetapi secara terus menerus rumah pasangan tersebut dikelilingi oleh harimau, dan pada akhirnya Kepala Desa setempat curiga kalau pasangan tersebut, bukanlah suami istri. Kemudian pasangan tersebut dinikahkan.

“Efeknya, harimau tidak pernah lagi meneror rumah pasangan tersebut. Hal ini membuktikan harimau dan manusia harus saling mencintai dan menjaga etika satu sama lain,” lanjutnya.

Dilansir dari Mongabay.co.id. jumlah harimau Sumatera di Sumsel masih tersisa sekitar 15 individu. “Dua Lanskap (Sembilang dan Dangku) tersebut, merupakan wilayah harimau sumatera yang saat ini jumlahnya berkisar 15 individu,” kata Nunu Anugrah, Kepala BKSDA Sumsel, saat jumpa pers di sela Pembukaan Proyek Kemitraan Pengelolaan Lanskap/Ekoregion Sumatera Selatan Terpadu dan Berkelanjutan di Kawasan Hutan Dangku Musi Banyuasin dan Taman Nasional Sembilang Banyuasin di Palembang, Kamis (28/01/16).

Koordinator dari volunteer Mapala UIN Raden Fatah sekaligus koordinator acara diskusi, Ruri Oktaviani berharap kegiatan ini dapat memberikan wawasan serta pengetahuan kepada masyarakat awam mengenai harimau Sumatera.

“Harapannya, warga dapat mengetahui bahwasannya harimau merupakan salah satu satwa yang mempunyai peran penting dalam ekosistem yang sekarang terancam punah. Kegiatan ini juga dilaksanakan di 10 kota di Indonesia, termasuk di Palembang,” tutupnya.

 

Reporter : Nopri Ismi

Editor : Wilfi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah