Puisi

Ranum

 

/Net.

 

Kaki mungil biasa tak beralas.

Langkah getir menahan kerikil ditijak.

Sudah lima kali ia bolak balik,

Sudah enam puluh sore ia disini.

Matanya menatap pintu-pintu gerbong,

Tersenyum dalam binar kenangan.

Kepala bapak keluar dari pintu

Tangannya lamban melambai.

Kala senja hendak pamit, saat itu bapak pulang.

“Bapakmu sudah ditelan tambang, Ranum!”

Itu kata mamak,

Oi, bagaimana lagi hendak dikata

Mamak ikhlas bapak tak kembali,

Tapi Ranum setia menanti janji

Bermain layang di padang ilalang.

Ranum lugu memainkan batu kerikil

Duduk di pinggir bantalan rel, lekat menunggu.

Badannya kurus hitam bukti keteguhan

Berharap lenguh kereta

Bawa serta bapak pulang.

Tapi, hari ini pun seperti sore kemarin,

Terluka karena tak bertemu bapak.

(Maya Citra Rosa)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah