Kabar Sumsel

Puyang, Saksi Komitmen Prasasti Talang Tuwo

Sejumlah pemain teater Potlot mementaskan teater dengan tema puyang di Taman Purbakala Palembang.Kamis (26/7/2018).  Sumber foto: Yudi Sema

Palembang – Ukhuwahnews.com | Teater Potlot yang diadakan pada Kamis (26/7/18), memilih Harimau Sumatera sebagai saksi ketika Srijayanasa, Raja Sriwijaya menyampaikan amanahnya kepada semua makhluk hidup untuk hidup bersama di sebuah bentang alam bernama Taman Sriksetra; bercukupan pangan, damai, sehat, bermoral, dan sejahtera. Hal itu tertulis dalam Prasasti Talang Tuwo pada 684 Masehi.

Melalui pertunjukan, Teater Potlot menyebut Harimau Sumatera sebagai, ‘Puyang’ seperti halnya masyarakat di sekitar bentang alam yang menjadi habitatnya. Teater Potlot diadakan dalam South Sumatra Landscape Festival, di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang.

Menurut Teater Potlot, Puyang adalah makhluk hidup yang tetap menjaga komitmen yang disampaikan Raja Sriwijaya dalam Prasasti Talang Tuwo.

Buktinya, mereka tidak pernah berusaha membasmi manusia, meskipun sejak dahulu mereka memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Mereka hanya berjaga di wilayah yang ditetapkan sebagai rumahnya.

Namun, manusia dengan alasan “kebutuhan” akan pangan, pemukiman, dan lainnya, mengkhianati komitmen Prasasti Talang Tuwo. Harimau Sumatera sebagai saksi dan penjaga komitmen tersebut pun terdesak. Setelah habitatnya dihancurkan dan dirampas, mereka pun diburu dan dibunuh. Mereka dinyatakan sebagai “musuh manusia”.

Tapi, sekali lagi, Puyang tetap menjaga komitmen tersebut. Penyerangan terhadap manusia dipilih jika terdesak, dan mereka lebih memilih mencari ruang-ruang baru yang jauh dari manusia. Tapi, manusia terus mendesaknya.

“Jadi jika keberadaan Harimau Sumatera musnah, itu sama saja dengan menghancurkan jejak amanah Raja Sriwijaya, dan mengkhianati komitmen manusia dengan makhluk hidup lainnya untuk menjaga alam semesta sebagai ciptaan Tuhan, seperti disampaikannya dalam Prasasti Talang Tuwo,” kata Taufik Wijaya, penulis naskah Puyang.

Sutradara dari pertunjukan Puyang, Conie Sema menyatakan pertunjukan Puyang merupakan salah satu karya Teater Potlot terkait dengan isu ekologi.

“Teater Potlot sangat fokus pada berbagai persoalan lingkungan hidup, termasuk persoalan pengelolaan bentang alam atau lanskap pada saat ini. Selain melalui pertunjukan teater, civitas, Teater Potlot juga memproduksi sejumlah novel, puisi, atau tari yang bertemakan lingkungan hidup,” kata Conie, penulis dan sutradara pertunjukan Rawa Gambut yang telah ditampilkan keliling di Palembang, Bandarlampung, dan akan dilanjutkan di Jambi juga beberapa kota lainnya di Sumatera.

Conie menjelaskan, hasil refleksi Teater Potlot terkait amanah Raja Sriwijaya, maka persoalan ekologi itu bukan hanya di wilayah pegunungan, rawa gambut, juga di laut.

“Sriwijaya itu kerajaan yang mampu mengelola alam, baik di darat maupun di laut, secara lestari untuk kepentingan bersama secara berkelanjutan. Inilah sebenarnya dasar pemikiran ekosentris yang dijaga Kerajaan Sriwijaya sebagai peradaban bahari,” jelas Conie.

Ia mengharapkan Puyang ini mampu membawa diksi-diksi ekologis sebuah kerja teater, environment art yang merefleksikan kesadaran manusia untuk menjaga bentang alam. Sebagai kebutuhan semua makhluk hidup seperti diamanahkan Raja Sriwijaya.

 

Reporter : Fitria

Editor : Wilfi

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah