Puisi

Penyair dan Kata (Kumpulan Puisi Muhammad Daffa)

Doc : Ooknugroho./

 

PENYAIR DAN KATA

 

Aku dan kata dibesarkan ibu yang sahaja. Tak ada luka dan kecewa. Malam menggigil

Ketika kau meninggalkanku dalam gema, cahaya jatuh pada pasir—

 

Aku dan kata berdekapan. Ibu dalam kolam ingatan. Menyusun masa lalu. kita masih saling membaca, bukan?

Para penyair meruncingkan pena di gemuruh malam

 

Sabda adalah kata terakhir yang disampaikan angin

Sebelum langit pun tumpah, catatan-catatan panjang

Berulang menulismu, sebait sunyi

Dan kita hanya jadi bayangan yang asing.

 

Surabaya, November 2018

 

———————————————

SURAT HUJAN PENYAIR

 

Hujan berebut masuk dalam darahmu. Membaca kota yang gemuruh. Ibu yang senantiasa ada dalam desirmu pun terlonjak. Ia mendapati hujan telah berubah menjadi kakekmu yang seorang pejuang kemerdekaan. “halo bapak, ini saya, anak perempuan yang dulu suka kau manjakan. Telah kukirimkan beribu rindu dalam malam-malam yang panjang dan gema kenangan memantul senantiasa pada album keluarga.”

 

Surabaya, November 2018

 

———————————————

BERDEKAP KATA

 

Bahasamu mengajarkan aku gigil dalam semesta malam. Bumi yang buta.

Kata-kata, memilih bersendiri dalam tubuhku. “akan kutuliskan lagi langit yang hanyut

Dalam igauan cuaca, bulan dalam kuyup hujan, dan jejak-jejak tertatih menyusun rencana-rencana”

 

Kata-kata, memilih bersendiri dalam tubuhku. Berdekap mimpi

Dan harapan yang lebur dalam perulangan doa.

 

Dan kudengar langkahmu hanyut dalam deras hujan.

 

Surabaya, November 2018

 

———————————————

LAGU PENYAIR

:  Maulidan Rahman S.

 

//

Hesti cemburu

Ketika kau dan kata

Saling mengasingkan

 

//

Ketika hesti mulai meninggalkanmu

Kau pun sepi dalam puisi

 

Mulai asyik mengamati tayangan televisi

Dan sinetron religi

 

“puisi, bukankah mengajarimu bertahan pada melankoli?”

 

Hesti berlalu. Dengan rindu yang memuncak di dalam hening doanya.

 

Malam telah akrab

Menyalin hangat kita

 

Hanya dalam kata

 

Surabaya, November 2018

 

———————————————

MERANGKUM HUJAN

 

Barangkali bukan semata-mata air mata langit

 

yang menggigil

Dalam tafsir

Panorama mendung, mendung yang bergulung—

Yang tertebus suara angin, waktu mengendus jejak malam

Tumpah ke darah, barangkali tubuhmu satu-satunya jalan pulang

 

Kulihat bintang mengapung, suara-suara angin mengeja hurufmu

Dan aku lebur dalam pekat rahasia. Ada yang tetap membaca hujan

Selain langit yang merangkum suara.

Selain langit yang membisikkan gerimis

Dalam pejam kita.

 

Surabaya, November 2018

 

 

——————————————-

Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Puisi-puisinya dipublikasikan di sejumlah media massa dan antologi bersama. Buku kumpulan puisinya TALKIN(2017) dan Suara Tanah Asal(2018). Mahasiswa di Prodi Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah