Pengrajin Aluminium Sebagai Warisan Mata Pencaharian

Ishak (70) sedang mengerjakan tahapan list pembuatan dandang pesanan pelanggannya, Ahad (17/6/19). Tahapan tersebut sebagai pembatas untuk meletakkan saringan di dandang. Ukhuwahfoto/Yuni Rahmawati.

Ogan Ilir – Ukhuwahnews | Desa Tanjung Atap yang berdiam di Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menjadikan mata pencaharian dari aluminium sebagai warisan turun-temurun. Penyulapan aluminium menjadi peralatan rumah tangga dilakukan oleh kaum adam, sedangkan kaum hawa memiliki kesibukan menganyam tikar purun. Adapun hasil kerajinan dari aluminium tersebut berupa dandang, cetakan kue, oven atau yang sering disebut warga setempat putih-putihan, peralatan tersebut memiliki nilai jual dan kualitas yang baik.

Menurut cerita warga setempat, pada tahun 1945 terjadi sebuah tragedi pesawat jatuh di kawasan desa tersebut. Sehingga masyarakat memanfaatkan serpihan pesawat untuk dijadikan bahan dasar peralatan rumah tangga yang sampai sekarang menjadi mata pencaharian mereka. Salah satu yang bergelut di bidang tersebut ialah Ishak (70). Lelaki paruh baya tersebut telah menekuni pekerjaannya selama 47 tahun. Dimulai pada tahun 1972, Ishak menjadi pewaris dari ayahnya.

Dulu, kata Ishak bahan dasar aluminium masih jarang di jual. Sehingga para pengrajin harus pergi ke kota Palembang untuk mendapatkan aluminium, kemudian dilakukan pengolahan di rumah. Selain bahan dasar aluminium, Ishak juga mengatakan peminat barang jadinya pun juga masih sangat jarang, sehingga mengharuskan Ishak untuk berkeliling menjualnya dan mendapatkan pelanggan.

“Saya sudah berkeliling kota Pagaralam, Baturaja dan kota lainnya di Sumatera Selatan untuk berjualan,” ujarnya saat pengerjaan dandang, Ahad (17/6/19).

Setiap pagi, Ishak selalu membuat dan mengerjakan pesanan pelanggan. Tangannya mulai menyiapkan bahan dasar untuk dibuat hingga menjadi barang jadi. Tak jarang dalam satu hari ia mengerjakan tiga sampai lima pesanan sekaligus.

“Tapi sekarang, karena saya sudah tua, saya hanya menunggu di rumah saja” tuturnya saat ditemui

Namun kini, Ishak tak lagi berkeliling, orang-orang sudah bisa mengubungi kontaknya untuk memesan barang dagangannya. Di desanya juga sudah banyak pengepul barang, sehingga dirinya bisa menitipkan barang dagangannya untuk dijual di toko dan juga untuk bahan dasar aluminium juga sudah tersedia di desanya.

Penghasilannya sendiri terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur. Harga untuk satu dandang berkisar 100 ribuan, untuk oven kecil 150 ribuan dan yang besar 350 ribuan. Ishak juga membuka servis alat-alat masak dan dia juga sudah mewariskan pekerjaan itu kepada anaknya.

 

Reporter: Yuni Rahmawati

Editor: Melati Arsika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *