Syiar

PENDIDIKAN DALAM PANDANGAN ISLAM

Dadang, S. Ag, S. IPI., M. Pd.I

 

Islam sebagai agama rahmah li al-‘alamin sangat mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, bahkan Allah mengawali menurunkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia dengan ayat yang memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad Saw., untuk membaca dan membaca (iqra’). Iqra’ merupakan salah satu perwujudan dari aktifitas belajar. Sedangkan dalam arti luas, dengan iqra’ pula manusia dapat mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki kehidupannya (Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2007:29). Tema pendidikan ini secara implisit dapat dipahami dari wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi sebagai spirit terhadap tugas kependidikan yang pertama dan utama yang dilakukan Nabi.

Bertolak dari spirit di atas, Nabi Muhammad mulai melaksanakan tugas sebagai pendidik yang dimulai dari lingkungan keluarga dekatnya, kemudian melebar ke wilayah sosial yang lebih luas lagi. Mahmud Yunus, dalam bukunya “Sejarah Pendidikan Islam,” menuliskan bahwa pendidikan Islam pada fase ini meliputi empat hal : Pertama, pendidikan kegamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah. Kedua, Pendidikan akaliyah dan ilmiah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Allah akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya. Untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan meyelidiki serta memakai pena untuk mencatat. Ketiga, pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad Saw Mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid. Keempat, pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman. (Zuhairini , 2000 : 18-50).

Berangkat dari statemen ini, al-Qur’an secara prinsip dijadikan sebagai pedoman normatif-teoritis dalam pelaksanaan pendidikan, bahkan memuat sejumlah dasar umum pendidikan. Ayat-ayat yang tertuang dalam al-Qur’an merupakan prinsip dasar yang kemudian diinterpretasikan oleh para ahli menjadi suatu rumusan pendidikan Islam yang dapat mengantarkan pada tujuan pendidikan yang sebenarnya. Secara eksplisit, percakapan dalam al-Qur’an tentang pendidikan sudah pasti melabar kepada pujian al-Qur’an terhadap orang-orang beriman dan kepada ilmu-ilmu itu sendiri, hal ini dapat dilihat dalam surat Al-Mujaadilah ayat 11.

Pada kenyataanya, struktur dari peradaban Islam, dari semenjak perkembangan Islam paling awal secara keseluruhan berasal dari spirit al-Qur’an di samping konsep-konsep ilmu yang ada dalam al-Qur’an. Kemudian prinsip ini dijadikan sebagai pandangan dunia (Weltanschauung) yang melatarbelakangi keberadaan manusia secara global dan diinspirasikan dari era bagaimana konsep ilmu itu didefinisikan. Lebih dari itu, konsep serupa ini memformulasikan model pikiran dan penelitian yang dilakukan oleh umat Islam dalam rangka melihat realitas mengembangkan masyarakat yang tentunya lewat usaha-usaha pendidikan. Konsep ilmu sendiri yang termuat dalam al-Qur’an seperti dinyatakan Ziaudding Sadar adalah sebuah nilai yang menakala dipahami dengan baik dari bingkai Islam, akan melahirkan sesuatu mengenai konsep Islam itu sendiri. Tidak kurang dari 1200 definisi telah dibuat oleh para ahli dan menjadi tema utama para penulis besar, seperti al-Kindi, al-Farabi, al-Biruni, Ibnu Khaldun, dan sederet para ahli lainnya.

Kembali kita perhatikan ayat al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 31 mengatakan: “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman. ‘Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Di sini dapat dipahami bahwa ayat di atas merupakan kunci ayat yang berkaitan dengan ilmu, dan juga dapat dipahami dengan pendekatan subjek dengan objeknya. Sebab “penyebutan nama” berkaitan dengan “nama yang disebut” sebagai objeknya. Di sinilah prinsip pendidikan juga berasal, sebab kata asma juga berarti sebagai bentuk ilmu yang dapat dipahami dengan jalan pengajaran (‘allama).

Setidaknya, ayat di atas sudah memberikan jalan bagi umat manusia bagaimana ilmu itu dapat diperoleh.Konsepsi dasar pendidikan yang dicetuskan Nabi Muhammad Saw menurut Muhaimin memiliki enam corak. Pertama, disampaikan sebagai “rahmat li al’alamin yang ruang lingkupnya tidak hanya sebatas manusia, tetapi juga makhluk biotik dan abiotik lainnya. Kedua, disampaikan secara universal, mencakup dimensi kehidupan apapun yang berguna untuk kegembiraan dan peringatan bagi umatnya. Ketiga, apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak dan keotentikan kebenaran itu terus terjadi. Kempat, kehadiran Nabi sebagai evaluator yang mampu mengawasi dan terus bertanggung jawab atas aktivitas pendidikan. Kelima, prilaku Nabi tercermin sebagai uswatun hasanah, yaitu sebuah figur yang meneladeni semua tindak-tanduknya karena prilakunya terkontrol oleh Allah. Keenam, masalah teknis-praktis dalam pelaksanaan pendidikan Islam diserahkan penuh pada umat.

Secara sederhana para ahli pendidikan Islam mencoba mengembangkan konsep-konsepnya dari kedua sumber ini, yaitu al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar ideal pendidikan Islam. Nilai-nilai yang dipahami dari al-Qur’an dan Sunnah ini adalah cermin nilai yang universal yang dapat dioprasionalkan ke berbagai sisi kehidupan umat sekaligus sebagai standar nilai dalam mengevaluasi jalannya kegiatan pendidikan Islam. (Azra, 1999 : 7).

Juga dengan jelas dipahami bahwa ilmu sangat tinggi kedudukannya dalam Islam. Untuk mamahami ilmu, manusia dituntut menggunakan pikirannya, belajar dan memahaminya. Dalam pendidikan, ilmu adalah hal yang paling esensial. Pada intinya, pendidikan dalam Islam sangat utama dan penting bagi kehidupan manusia. Dari kedua ajaran Islam, al-Qur’an dan Sunnah, banyak dikemukakan fenomena alam dan sosial yang masih belum terungkap dan menantang umat Islam untuk terus belajar agar mereka giat melakukan pengkajian dan dapat melahirkan ilmu-ilmu baru sebagai hasil dari penafsiran al-Qur’an dan sunnah.

Islam mengajarkan alam dan realita. Umat Islam selalu mengamati realita tersebut, baik dengan menggunakan akal, kontemplasi maupun intuisi. Dengan adanya usaha ini dalam perkembangan intelektual Islam, lahirlah berbagai displin ilmu, seperti: filsafat, kedokteran, kimia, astronomi dan fisika. (Muhaimin dan Mujib, 1993:834). Tepat kiranya bila al-Qur’an dan Sunnah secara doktrinal mengangkat pentingnya pendidikan. Melalui pendidikan, manusia bisa belajar melihat realitas alam semesta demi mempertahankan kehidupannya. Karena pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada kedudukannya yang penting dan tinggi dalam doktrin Islam, seperti dapat dilihat dalam al-Qur’an dan Sunnah yang banyak kaitannya dengan arti pendidikan bagi kehidupan umat Islam sebagai hamba Allah.

Selain ayat-ayat dan Sunnah yang telah dijelaskan di atas, masih banyak bukti lain yang berasal dari sumber yang sama tentang arti pentingnya pendidikan bagi manusia. Seperti ayat-ayat al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya. Dengan akal ini, manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya ataupun benda-benda yang ada di alam sekitar kita.Dengan demikian, ilmu juga menempati posisi penting dalam Islam. Unutk meraih ilmu ajakan untuk mempergunakan akal harus diraih. Ajakan untuk memepergunakan harus direalisasikan. Ilmu dan pendidikan dalam Islam sangat utama dan esensial dalam kehidupan manusia.

Seperti ditulis Hanun Asrohah, selain al-Qur’an dan Sunnah yang secara jelas menyerukan umat Islam untuk belajar, ada empat aspek lain yang mendorong umat Islam untuk senantiasa belajar, sehingga pendidikan selalu menjadi perhatian umat Islam. “Aspek itu adalah bahwa Islam memiliki al-Qur’an sebagai sumber kehendak Tuhan.” (Asrohah, 1999 : 7). Artinya, motivasi pendidikan secara doktrinal memang sudah menjadi bagian dari ajaran Islam, sehingga perjalanan umat Islam selalu berpedoman pada kedua sumber ini sebagai ajaran dan sebgai spirit kependidikan sekaligus.

Penting untuk dicatat, bahwa ajaran untuk mencari ilmu pengetahuan dalam semangat doktrin Islam tidak hanya dikhususkan pada ilmu agama saja dalam pengertian yang sempit. Labih dari itu, Islam menganjurkan umatnya menuntut ilmu dalam pengertian yang seluas-luasnya yang mencakup, meminjam istilah al-Ghazali, ilmu syar ‘iyyah dan ilmu ghairu syar ‘iyyah. (Abidin, 1998 : 44-45).

Ilmu syar ‘iyyah adalah ilmu yang berasal dari para Nabi dan wajib diikuti oleh setiap muslim. Di luar ilmu-ilmu yang bersumber dari para nabi tersebut, al-Ghazali mengelompokkan ke dalam kategori ghairu syar ‘iyyah. Lepas dari pengelompokan ilmu yang disebut al-Ghazali, ilmu apapun penting untuk dicapai selama tidak membawa kemudharatan bagi kehidupan ummat manusia.

Karenanya, dalam Islam terdapat hubungan erat antara ilmu-ilmu syar ‘iyyah dengan ilmu-ilmu ghairu syar ‘iyyah. Dan sebaliknya, Islam tidak mengenal adanya keterpisahan di antara ilmu-ilmu. Dengan kata lian, Islam menganjurkan agar umatnya mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah maupun pada akal, asalkan membawa manfaat bagi kehidupan manusia di dunia ini. Adanya kategori syar ‘iyyah dan ghair syar ‘iyyah, seperti yang disebut al-Ghazali, tidak dimaksudkan sebagai keterpisahan, sebab bila dipahami secara dikotomi, maka dengan sendirinya akan mendistorsi makma Islam yang universal, sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.

 

 

 

REFERENSI

Asrohah, Hanun,  1999, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu.

Azra, Azyumardi, 1999, Pendidikan Islam Tradisi dan Moderenisasi Menuju Milenium baru, Jakarta : Logos.

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2007 Teori Belajar dan pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Ibnu Rusn, Abidin, 1998, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta : Pustaka Pajar.

Muhaimin dan Mujib, Abd, 1993, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Oprasionalnya, Bandung : Trigenda Karya

Zuharini, et.al, 2000, Sejarah Pendidikan Islam, Jakata : Bumi Aksara.

PENDIDIKAN DALAM PANDANGAN ISLAM

Dadang, S. Ag, S. IPI., M. Pd.I

 

Islam sebagai agama rahmah li al-‘alamin sangat mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, bahkan Allah mengawali menurunkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia dengan ayat yang memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad Saw., untuk membaca dan membaca (iqra’). Iqra’ merupakan salah satu perwujudan dari aktifitas belajar. Sedangkan dalam arti luas, dengan iqra’ pula manusia dapat mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki kehidupannya (Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2007:29). Tema pendidikan ini secara implisit dapat dipahami dari wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi sebagai spirit terhadap tugas kependidikan yang pertama dan utama yang dilakukan Nabi.

Bertolak dari spirit di atas, Nabi Muhammad mulai melaksanakan tugas sebagai pendidik yang dimulai dari lingkungan keluarga dekatnya, kemudian melebar ke wilayah sosial yang lebih luas lagi. Mahmud Yunus, dalam bukunya “Sejarah Pendidikan Islam,” menuliskan bahwa pendidikan Islam pada fase ini meliputi empat hal : Pertama, pendidikan kegamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah. Kedua, Pendidikan akaliyah dan ilmiah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Allah akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya. Untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan meyelidiki serta memakai pena untuk mencatat. Ketiga, pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad Saw Mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid. Keempat, pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman. (Zuhairini , 2000 : 18-50).

Berangkat dari statemen ini, al-Qur’an secara prinsip dijadikan sebagai pedoman normatif-teoritis dalam pelaksanaan pendidikan, bahkan memuat sejumlah dasar umum pendidikan. Ayat-ayat yang tertuang dalam al-Qur’an merupakan prinsip dasar yang kemudian diinterpretasikan oleh para ahli menjadi suatu rumusan pendidikan Islam yang dapat mengantarkan pada tujuan pendidikan yang sebenarnya. Secara eksplisit, percakapan dalam al-Qur’an tentang pendidikan sudah pasti melabar kepada pujian al-Qur’an terhadap orang-orang beriman dan kepada ilmu-ilmu itu sendiri, hal ini dapat dilihat dalam surat Al-Mujaadilah ayat 11.

Pada kenyataanya, struktur dari peradaban Islam, dari semenjak perkembangan Islam paling awal secara keseluruhan berasal dari spirit al-Qur’an di samping konsep-konsep ilmu yang ada dalam al-Qur’an. Kemudian prinsip ini dijadikan sebagai pandangan dunia (Weltanschauung) yang melatarbelakangi keberadaan manusia secara global dan diinspirasikan dari era bagaimana konsep ilmu itu didefinisikan. Lebih dari itu, konsep serupa ini memformulasikan model pikiran dan penelitian yang dilakukan oleh umat Islam dalam rangka melihat realitas mengembangkan masyarakat yang tentunya lewat usaha-usaha pendidikan. Konsep ilmu sendiri yang termuat dalam al-Qur’an seperti dinyatakan Ziaudding Sadar adalah sebuah nilai yang menakala dipahami dengan baik dari bingkai Islam, akan melahirkan sesuatu mengenai konsep Islam itu sendiri. Tidak kurang dari 1200 definisi telah dibuat oleh para ahli dan menjadi tema utama para penulis besar, seperti al-Kindi, al-Farabi, al-Biruni, Ibnu Khaldun, dan sederet para ahli lainnya.

Kembali kita perhatikan ayat al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 31 mengatakan: “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman. ‘Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Di sini dapat dipahami bahwa ayat di atas merupakan kunci ayat yang berkaitan dengan ilmu, dan juga dapat dipahami dengan pendekatan subjek dengan objeknya. Sebab “penyebutan nama” berkaitan dengan “nama yang disebut” sebagai objeknya. Di sinilah prinsip pendidikan juga berasal, sebab kata asma juga berarti sebagai bentuk ilmu yang dapat dipahami dengan jalan pengajaran (‘allama).

Setidaknya, ayat di atas sudah memberikan jalan bagi umat manusia bagaimana ilmu itu dapat diperoleh.Konsepsi dasar pendidikan yang dicetuskan Nabi Muhammad Saw menurut Muhaimin memiliki enam corak. Pertama, disampaikan sebagai “rahmat li al’alamin yang ruang lingkupnya tidak hanya sebatas manusia, tetapi juga makhluk biotik dan abiotik lainnya. Kedua, disampaikan secara universal, mencakup dimensi kehidupan apapun yang berguna untuk kegembiraan dan peringatan bagi umatnya. Ketiga, apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak dan keotentikan kebenaran itu terus terjadi. Kempat, kehadiran Nabi sebagai evaluator yang mampu mengawasi dan terus bertanggung jawab atas aktivitas pendidikan. Kelima, prilaku Nabi tercermin sebagai uswatun hasanah, yaitu sebuah figur yang meneladeni semua tindak-tanduknya karena prilakunya terkontrol oleh Allah. Keenam, masalah teknis-praktis dalam pelaksanaan pendidikan Islam diserahkan penuh pada umat.

Secara sederhana para ahli pendidikan Islam mencoba mengembangkan konsep-konsepnya dari kedua sumber ini, yaitu al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar ideal pendidikan Islam. Nilai-nilai yang dipahami dari al-Qur’an dan Sunnah ini adalah cermin nilai yang universal yang dapat dioprasionalkan ke berbagai sisi kehidupan umat sekaligus sebagai standar nilai dalam mengevaluasi jalannya kegiatan pendidikan Islam. (Azra, 1999 : 7).

Juga dengan jelas dipahami bahwa ilmu sangat tinggi kedudukannya dalam Islam. Untuk mamahami ilmu, manusia dituntut menggunakan pikirannya, belajar dan memahaminya. Dalam pendidikan, ilmu adalah hal yang paling esensial. Pada intinya, pendidikan dalam Islam sangat utama dan penting bagi kehidupan manusia. Dari kedua ajaran Islam, al-Qur’an dan Sunnah, banyak dikemukakan fenomena alam dan sosial yang masih belum terungkap dan menantang umat Islam untuk terus belajar agar mereka giat melakukan pengkajian dan dapat melahirkan ilmu-ilmu baru sebagai hasil dari penafsiran al-Qur’an dan sunnah.

Islam mengajarkan alam dan realita. Umat Islam selalu mengamati realita tersebut, baik dengan menggunakan akal, kontemplasi maupun intuisi. Dengan adanya usaha ini dalam perkembangan intelektual Islam, lahirlah berbagai displin ilmu, seperti: filsafat, kedokteran, kimia, astronomi dan fisika. (Muhaimin dan Mujib, 1993:834). Tepat kiranya bila al-Qur’an dan Sunnah secara doktrinal mengangkat pentingnya pendidikan. Melalui pendidikan, manusia bisa belajar melihat realitas alam semesta demi mempertahankan kehidupannya. Karena pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada kedudukannya yang penting dan tinggi dalam doktrin Islam, seperti dapat dilihat dalam al-Qur’an dan Sunnah yang banyak kaitannya dengan arti pendidikan bagi kehidupan umat Islam sebagai hamba Allah.

Selain ayat-ayat dan Sunnah yang telah dijelaskan di atas, masih banyak bukti lain yang berasal dari sumber yang sama tentang arti pentingnya pendidikan bagi manusia. Seperti ayat-ayat al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya. Dengan akal ini, manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya ataupun benda-benda yang ada di alam sekitar kita.Dengan demikian, ilmu juga menempati posisi penting dalam Islam. Unutk meraih ilmu ajakan untuk mempergunakan akal harus diraih. Ajakan untuk memepergunakan harus direalisasikan. Ilmu dan pendidikan dalam Islam sangat utama dan esensial dalam kehidupan manusia.

Seperti ditulis Hanun Asrohah, selain al-Qur’an dan Sunnah yang secara jelas menyerukan umat Islam untuk belajar, ada empat aspek lain yang mendorong umat Islam untuk senantiasa belajar, sehingga pendidikan selalu menjadi perhatian umat Islam. “Aspek itu adalah bahwa Islam memiliki al-Qur’an sebagai sumber kehendak Tuhan.” (Asrohah, 1999 : 7). Artinya, motivasi pendidikan secara doktrinal memang sudah menjadi bagian dari ajaran Islam, sehingga perjalanan umat Islam selalu berpedoman pada kedua sumber ini sebagai ajaran dan sebgai spirit kependidikan sekaligus.

Penting untuk dicatat, bahwa ajaran untuk mencari ilmu pengetahuan dalam semangat doktrin Islam tidak hanya dikhususkan pada ilmu agama saja dalam pengertian yang sempit. Labih dari itu, Islam menganjurkan umatnya menuntut ilmu dalam pengertian yang seluas-luasnya yang mencakup, meminjam istilah al-Ghazali, ilmu syar ‘iyyah dan ilmu ghairu syar ‘iyyah. (Abidin, 1998 : 44-45).

Ilmu syar ‘iyyah adalah ilmu yang berasal dari para Nabi dan wajib diikuti oleh setiap muslim. Di luar ilmu-ilmu yang bersumber dari para nabi tersebut, al-Ghazali mengelompokkan ke dalam kategori ghairu syar ‘iyyah. Lepas dari pengelompokan ilmu yang disebut al-Ghazali, ilmu apapun penting untuk dicapai selama tidak membawa kemudharatan bagi kehidupan ummat manusia.

Karenanya, dalam Islam terdapat hubungan erat antara ilmu-ilmu syar ‘iyyah dengan ilmu-ilmu ghairu syar ‘iyyah. Dan sebaliknya, Islam tidak mengenal adanya keterpisahan di antara ilmu-ilmu. Dengan kata lian, Islam menganjurkan agar umatnya mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah maupun pada akal, asalkan membawa manfaat bagi kehidupan manusia di dunia ini. Adanya kategori syar ‘iyyah dan ghair syar ‘iyyah, seperti yang disebut al-Ghazali, tidak dimaksudkan sebagai keterpisahan, sebab bila dipahami secara dikotomi, maka dengan sendirinya akan mendistorsi makma Islam yang universal, sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.

 

 

 

REFERENSI

Asrohah, Hanun,  1999, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu.

Azra, Azyumardi, 1999, Pendidikan Islam Tradisi dan Moderenisasi Menuju Milenium baru, Jakarta : Logos.

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2007 Teori Belajar dan pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Ibnu Rusn, Abidin, 1998, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta : Pustaka Pajar.

Muhaimin dan Mujib, Abd, 1993, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Oprasionalnya, Bandung : Trigenda Karya

Zuharini, et.al, 2000, Sejarah Pendidikan Islam, Jakata : Bumi Aksara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CURRICULUM VITAE

A.      BIODATA PRIBADI

Nama

Tempat Tanggal Lahir

Jenis Kelamin

Agama

Status Pernikahan

Nomor KTP

Pendidikan Terakhir

 

Pekerjaan

 

 

Alamat Rumah

 

Telp/ HP

Email

: Dadang, S. Ag, S. IPI., M. Pd.I

: Limbang Jaya (Ogan Ilir)/02 Mei 1975

: Laki-laki

: Islam

: Menikah

: 1671090205760004

: Strata Dua (S.2) Manajemen Pendidikan Islam PPs  

  IAIN Raden Fatah Palembang

: Staf TU Bagian Akademik Kemahasiswaan (dpk

  Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN 

  Raden Fatah Palembang

: Jl. Kaur SBI 1 Blok D-3 RT. 048 RW. 009 Kelurahan

  Sukajaya Kecamatan Sukarami Palembang Sumsel

: 081367313292

: dadanghanafiah@yahoo.co.id

 

B.     PENDIDIKAN FORMAL

PENDIDIKAN FORMAL

TAHUN LULUS

KETERANGAN

SD Negeri 01 Limbang Jaya

SLTP PMM Tanjung Pinang

Madrasah Aliyah LP. Ma’arif Muaradua

Fakultas Ushuluddin/Dakwah IAIN Raden Fatah PLG

Fakultas Teknologi Informasi/ Ilmu Perpustakaan YARSI

Manajemen Pendidikan Islam PPs IAIN Raden Fatah PLG

1998

1991

1994

1998

2007

2011

Di Ogan Ilir

Di Ogan Ilir

Di OKU Selatan

Di Palembang

Di Jakarta

Di Palembang

 

 

 

C.     PENDIDIKAN NON FORMAL/WORKSHOP

DIKLAT DALAM NEGERI

TAHUN

KETERANGAN

Workshop Penelitian Pendekatan Kuantitatif

2004

Di Palembang

Workshop Participatory Action Research (PAR)

2005

Di Palembang

Workshop Nasional Pengembangan Madrasah Diniyah dalam rangka Pelaksanaan UU Sisdiknas Tahun 2003

2004

Di Palembang

Seminar Peningkatan Kehidupan Beragama dan Kerukunan antar Umat Beragama di Sumatera Selatan

2005

Di Palembang

Seminar Perpustakaan

2009

Di Palembang

Workshop Penulisan Artikel dan Jurnal Kerjasama LEMLIT-UPMA IAIN Raden Fatah Palembang

2005

Di Palembang

Panitia ACIS 2008

2008

Di Palembang

Workshop Bimbingan Teman Sebaya (Peer Gudance)

2009

Di Palembang

 

D.     PENGALAMAN PENELITIAN

KEGIATAN PENELITIAN

TAHUN

KETERANGAN

Penelitian Desa Binaan IAIN Raden Fatah Palembang

2005

Penelitian Kolektif

Penelitian Desa Binaan IAIN Raden Fatah Palembang

2006

Penelitian Kolektif

Manajemen di Kalangan Remaja

1998

Sebagai Peneliti/Penulis

Sistem Layanan Sirkulasi di Perpustakaan BPPT dan menurut Pandangan Agama Islam

2007

Sebagai Peneliti/Penulis

Manajemen Pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 Palembang

2011

Sebagai Peneliti/Penulis

E.     KEGIATAN SEMINAR, LOKAKARYA DALAM NEGERI

KEGIATAN

TAHUN

KETERANGAN

Muktamar Ulama-Umara

2006

Di Palembang

Peserta Seminar Nasional “Pandangan Agama-agama Terhadap Tindakan Kekerasan”

2011

Di Palembang

Peserta Workshop Desa Binaan IAIN Raden Fatah

2006

Di Palembang

Panitia Pekan Olahraga Pondok Pesantren Nasional (POSPENAS II)

2003

Di Palembang

Peserta Lokakarya Regional” Konversi IAIN Raden Fatah menjadi UIN”

2003

Di Palembang

 

F.      PUBLIKASI/KARYA TULIS

JUDUL KARYA TULIS

TAHUN

KETERANGAN

Membangun Perpustakaan Modern di Masa Depan (Konsep Teknologi Informasi Melalui Kreatifitas Pustakawan)

2008

Jurnal Al-Fatah

Meningkatkan Citra Perpustakaan dan Pustakawan di Perguruan Tinggi di Indonesia

2007

Jurnal Al-Fatah

Feminisme Menurut Pemikiran Murtada Mutahhari

2007

Jurnal Istinbath

Membanding Pendidikan Islam antara Indonesia dan Mesir

2011

Jurnal Concencia

 

 

G.    RIWAYAT PEKERJAAN DAN JABATAN

PEKERJAAN DAN JABATAN

TAHUN

KET

Staf TU Pusat Pengabdian Masyarakat IAIN Raden Fatah

2003-2008

Di Palembang

Staf TU (dpk Perpustakaan Program Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang

2008-2009

Di Palembang

Staf TU Akademik dan Kemahasiswaan (dpk Perpustakaan Fakultas Komunikasi dan Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang

2009-saat ini

Di Palembang

Dosen Luar Biasa Fakultas Adab IAIN Raden Fatah (Mengampu Mata Kuliah Kepustakwanan, Pelestarian Koleksi Perpustakaan, Teknologi Media, dan Pengantar Ilmu Informasi dan Dokumentasi

2009-2012

Di IAIN Raden Fatah PLG

Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Raden Fatah Palembang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah