Pemilik Lahan Kopi Terluas, Namun Kopi Indonesia Lemah Produktivitas

Dewan Kopi Sumatera Selatan, Zain Ismed saat memaparkan materi mengenai produktifitas kopi Pagaralam pada Fokus Grup Diskusi di Microteaching, Jum’at (28/6/19). Ukhuwahfoto/ Siti Srijaya

Ukhuwahnews.com | Sejak tanggal 18 April 2018 lalu, Dewan kopi resmi dibentuk. Pembentukan ini dilakukan karena melihat kopi Sumatera Selatan (Sumsel) tidak terlalu dikenal oleh masyarakat, padahal kebun kopi terluas di Dunia ada di Indonesia.

Menurut Ketua Dewan Kopi Sumatera Selatan (Sumsel), Zain Ismed mengungkapkan, dari segi Produktivitas Kopi Indonesia menempati posisi ke empat setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Padahal Indonesia memiliki luas kebun yang besar dibandingkan Brazil dan Vietnam. Indonesia memiliki luas perkebunan 1,3 juta hektare, sedangkan Brazil memiliki luas 600 ribu hektare dan Vietnam hanya memiliki 400 ribu hektare.

“Tetapi untuk produktifitas, Indonesia ketinggalan jauh dari Brazil dan Vietnam,” ujarnya pada Fokus Grup Diskusi di Gedung Microteaching, UIN Raden Fatah Palembang. Jum’at (28/6/19).

Di luar negeri, mereka memiliki standar pengelolaan kopi. Selain, itu pengelola kopi bukan hanya dikelola oleh warga tetapi juga dikelola oleh pemerintah. Sedangkan Indonesia, rata-rata dikelola oleh warga, sehingga produktivitasnya lemah.

“Terlihat jumlah yang dihasilkan. Indonesia hanya mampu mengelola 0,6 ton kopi pertahun, kualitaspun kita kalah jauh dibandingkan yang lain.”

Ismed juga mengatakan, peran pemerintah sangat besar. Kalau pemerintah sungguh-sungguh dalam mengelola pertanian kopi, maka kita bisa dikenal dunia seperti Brazil dan Vietnam.

Pada saat yang sama, Akademisi Universitas Sriwijaya, Chandra Irsan juga mengatakan  dalam kajiannya selama lima tahun meneliti kopi pagaralam, khususnya. Dia mempunyai konsep dan strategi untuk meningkatkan produktifitas dan pemasaran.

Chandra mengatakan bahwa ada empat hal yang penting dalam pemasaran, meliputi; kualitas/mutu kopi, kuanitas, kontinuitas dan harga.

“Kopi yang baik adalah kopi yang dipetik pada saat matang. Maka, petani juga harus diberikan arahan atau penyuluhan untuk mengelola kopi dengan baik,” katanya.

Dengan demikian artinya, mahasiswa dan akademisi juga berperan. Dengan adanya mahasiswa yang kuliah lapangan disana, masyarakat bisa diberikan penyuluhan bagaimana mengelola kopi dengan baik.

Selaras dengan strategi pemasaran, Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumsel, Fakhrurrozi mengatakan, dengan kecanggihan teknologi dan sudah memasuki era digital mahasiswa dan akademisi juga dituntut untuk kritis dan out of the box. Sehingga mampu bersaing di kanca globalisasi.

“Dan sudah seharusnya pengenalan pemasaran sampai kepada akademisi dan mahasiswa. Karena, untuk memperkenalkan suatu produk, kita harus adaptif, berkolaborasi dan sharing,”

Di tengah-tengah diskusi Fakhrurrozi juga menunjukkan sebuah aplikasi bernama e-PAS (Pusri Agribusiness Solution) untuk memudahkan masyarakat, khususnya pembisnis dan petani dalam memenuhi kebutuhan pertaniannya. Sesuai namanya, Aplikasi tersebut merupakan  platform bisnis yang diperkenalkan dari Tim Pusri (Pupuk Sriwijaya).

 

Reporter : Siti Srijaya Agustina, Yuni Rahmawati

Editor : Fitria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *