Pembakaran Ogoh-ogoh, Bentuk Penyucian Diri

Umat Hindu sedang membakar patung ogoh-ogoh di Pura Sriwijaya, Seduduk Putih, Rabu (6/6/19). Pembakaran tersebut diibaratkan dnegan pembersihan diri dan kehidupan dari segala hal yang jahat. Ukhuwahfoto/Kenedy.

Palembang – Ukhuwanews | Tepat sehari sebelum hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941,  umat agama Hindu di Palembang melakukan tradisi pembakaran ogoh-ogoh di Pura Agung Sriwijaya, Seduduk Putih, Rabu (6/3/19).

Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Palembang, Ketut Mulyana mengatakan, acara tersebut sebagai bentuk membersihkan diri dan alam semesta, serta menghilangkan unsur negatif atau simbiolisasi kejahatan.

“Dengan hangusnya ogoh-ogoh tersebut diibaratkan hilang sudah sifat dan sikap buruk pada manusia,” ujarnya.

Ogoh-ogoh atau patung besar yang menyerupai raksasa tersebut, diangkat ramai-ramai kemudian dibawa berjalan dan diputarkan sekuat tenaga sampai badan dari ogoh-ogoh itu hancur dan patah-mematah  lalu di bakar.

Pembakaran ogoh-ogoh merupakan rangkaian acara terakhir dari perayaan tersebut. Sebelumnya, acara dimulai dengan upacara Tawur Agung Kesanga dengan membawa Banten atau sesajen yang berisikan buah-buahan dan makanan untuk dipersembahkan dalam upacara tersebut.

Kendati demikian, salah satu umat Hindu, Ketut Argawa menjeaskan, dalam pawai tersebut keharmonisan umat beragama tetap terjaga, seperti saat para pengarak pawai ogoh-ogoh sempat melewati masjid Al-Ikhsan yang jaraknya tidak jauh dari Pura Agung Sriwijaya dan sontak membuat jemaah masjid keluar dan melihat acara pawai tersebut.

“Dengan jarak yang dekat tersebut, terlihat kerukunan yang tetap terjalin antara keduanya, hidup saling berdampingan dan saling menyaksikan ketika upacara atau kegiatan keagamaan,” katanya.

Reporter: Aditya Humaidi Kennedy, Edo Fernando

Editor: Melati Arsika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *