Pelakon Pandai Besi dari Ogan Ilir

Setio Irawan (48) kiri sebagai tukang yang ditemani Danil (30) kanan, sedang mengejar borongan, di Desa Tanjung Pinang, Kec. Tanjung Batu, Ogan Ilir Sumatera Selatan, Senin (17/6/19). Ukhuwahfoto/M. Amin Qoblal Fajri.

Pandai besi merupakan salah satu sentra kerajinan rakyat Kabupaten Ogan Ilir yang telah diwariskan nenek moyang sejak turun-temurun hingga saat ini. Kerajinan pandai besi yang mencapai 800 pengrajin itu, dapat dikatakan sudah menjadi profesi ataupun pekerjaan tetap bagi sebagian warga yang berdomisili di Bumi Caram Seguguk.

Ogan Ilir yang merupakan daerah hasil pemekaran Ogan Komering Ilir (OKI) lebih dari tujuh tahun silam, memiliki segudang kerajinan rakyat seperti tenun songket, pembuat kerupuk kemplang, anyaman tikar, hingga pengrajin pandai besi. Salah satunya di kecamatan Tanjung Batu. Daerah tersebut memiliki beragam kerajinan yang hingga kini masih dilakoni masyarakat setempat, seperti kerajinan emas perak, aluminium, anyaman tikar, sulam menyulam, termasuk kerajinan pandai besi.

Seperti di tiga desa Kecamatan Tanjung Batu, salah satunya di desa Tanjung Pinang,  mayoritas kaum adamnya menggeluti profesi sebagai pengrajin pandai besi. Bahkan menjadikan pekerjaan itu sebagai pekerjaan tetap dan menjadi sumber mata pencaharian utama untuk menghidupi kebutuhan keluarga. Berkat keseriusan dan ketekunan masyarakat menjadikan kerajinan pandai besi sebagai profesi, alhasil semua karya pengrajin pandai besi mampu merambah ke hampir semua provinsi di Indonesia, seperti Bengkulu, Jambi, Padang, Medan, Pekanbaru, Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi .

Hal diatas disampaikan oleh Yani (53) yang merupakan pengepul hasil kerajinan pandai besi yang telah jadi. Kerajinan tersebut diantaranya; pahat, parang, pisau, cangkul, dan lainnya.

Bahkan produksi sebagian hasil pengrajin pandai besi sudah merambah ke negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Salah satu pengrajin pandai besi Tanjung Batu, Suaryo (37) mengatakan, sejak lahir bahkan jauh sebelum dirinya lahir, kerajinan pandai besi sudah ada. Selain Desa Tanjung Batu, Rata-rata penduduk di Desa Limbang Jaya juga termasuk tetangga sekitarnya ahli dalam pembuatan alat-alat pertanian dan rumah tangga, misalkan pisau, parang, mandau, arit, cangkul, dan sebagainya.

Bahkan tak sedikit penduduk asli yang membawa bekal sebagai pengrajin pandai besi yang sejak ke tanah rantau di provinsi tetangga untuk mengadu nasib. Tentunya merantau dengan tetap melakoni pekerjaan sebagai pengrajin pandai besi. Itulah sebabnya semua karya pengrajin pandai besi Ogan Ilir sudah banyak tersebar ke semua provinsi di Indonesia bahkan hingga negara tetangga.

Salah satu pandai besi, Setio Irawan (48) yang juga ditemani Danil (30) sebagai panjak besi, pada Senin (17/6/19) menceritakan bahwa dalam sehari bisa menyelesaikan empat sampai lima kodi pahat besi. Pahat biasanya digunakan untuk memahat kulit karet. Sedangkan untuk pembuatan parang biasanya hanya menghasilkan satu sampai dua kodi perhari.

“Kalo dijual sekodinya bisa sampe dua ratus ribu rupiah, itu untuk pahat saja. Biasanya sehari kami bisa nyelesaikan empat sampai lima kodi pahat. Kalo parang yang lama, biasanya cuma satu sampai dua kodi sehari,” ujar Irawan sambil fokus membentuk lempengan besi menjadi pahatan.

 

Reporter: M. Amin Qoblal Fajri

Editor: Melati Arsika

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *