Gallery

“Ngetam” Budaya Gotong-Royong Jeme Lahat

Foto : M Syaikodir/Ukhuwahnews.com Sejumlah warga melakukan aktivitas "Ngetam" yaitu panen padi yang dilakukan secara gotong royong. Aktivitas ini sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Desa Pandanarang ulu, Lawang Agung, dan  Karang Endah Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Lahat, Rabu (9/3/2016).

Foto : M Syaikodir/Ukhuwahnews.com
Sejumlah warga melakukan aktivitas “Ngetam” yaitu panen padi yang dilakukan secara gotong royong. Aktivitas ini sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Desa Pandanarang ulu, Lawang Agung, dan Karang Endah Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Lahat, Rabu (9/3/2016).

Lahat-Ukhuwahnews.com | Tradisi dan budaya gotong royong masih sangat kental di daerah. Terutama di masyarakat Desa Pandanarang ulu, Lawang Agung, dan Karang Endah Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan, lakukan panen padi atau bahasa daerah disebut “Ngetam”.

Didaerah ini, jika ada salah satu penduduk (petani) sedang melaksakakan panen seluruh masyarakat tanpa harus ada intruksi langsung membantu ngetam padi disawah.

Biasanya proses ngetam padi di ikuti mayoritas ibu-ibu dan hanya segelintir kaum laki-laki. Kaum perempuan (ibu-ibu) “ngarit” padi dan mengumpulkanya sedangkan kaum laki-laki yang mengangkut padi dan dibawa ke tempat pemisahan biji padi dengan tangkai menggunakan mesin yang disebut masyarakat sekitar “dos”.

Para petani yang membantu “ngetam” tidak dibayar, atas asas persaudaraan dan kebersamaan mereka bahu-membahu. Mereka selalu bergantian ketika ada petani lain yang melakukan panen.

Dari pantauan Ukhuwahnews.com dilokasi, pada Rabu (09/03/2016). Hendri, salah satu petani yang sedang melaksanakan panen di sawah miliknya menceritakan tentang keunikan kebudayaan daerah ini.

Menurutnya, budaya gotong royong masih kental didaerah ini harus dijaga dan dilestarikan mungkin jarang ditemukan didaerah lain. Cukup disiapkan jamuan makan disawah dan masyarakat akan bahu membahu bekerja-sama.

“Selain menyiapkan jamuan makan siang, masyarakat yang “ngetam” padi diberikan imbalan berupa padi. Biasanya pada sepuluh karung padi yang dihasilkan satu karung padi diberikan kepada kelompok masyarakat yang ngetam dan dibagi seluruh jumlah orang ngetam,” begitu tutur Hendri petani yang dijumpai ukhuwahnews.com.

Bukan banyaknya padi yang didapat masyarakat yang menjadi tujuan, namun budaya gotong royongnya yang harus dijaga.

“Biasanya sekali ngetam masyarakat hanya mendapat 2-3 kg beras, tergantung jumlah panen yang didapat dan dibagi jumlah masyarakat yang ikut ngetam,” tutur petani padi desa Karang Endah.

Reporter : Kdr
Editor : Von

1 Comment

1 Comment

  1. ersyah hairunisah suhada

    10 Agustus 2017 at 17:27

    min sampai saat ini apakah “ngetam” ini masih dilakukan ?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah