Nasib Goa Jepang Di Bumi Sriwijaya

Tampak depan, Goa Jepang di daerah KM 5, Kelurahan Ario Kemuning.
UkhuwahFoto/Siti Wijaya.

 

Palembang merupakan ibu kota Provinsi Sumatra Selatan yang memiliki Sungai Musi dan Jembatan Ampera sebagai maskotnya. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di Palembang terdapat beberapa peninggalan sejarah pada masa penjajahan dulu, dan Goa Jepang adalah salah satu bukti nyatanya.

Terdapat beberapa Goa Jepang di Palembang antara lain, di KM 5, belakang Rumah Sakit Charitas, sekitar jalan Plaju, daerah Jakabaring, dan di daerah Kenten Laut. Goa Jepang tersebut pada zamanya digunakan sebagai tempat pertahanan atau bungker yang berfungsi sebagai tempat perlindungan saat terjadinya penyerangan.

Menyangkut nasib Goa Jepang saat ini, bergantung pada kebijakan pemerintah. Sebab letak Goa yang berada di tanah milik warga menjadi salah satu kendala pengembangan situs tersebut.

Tidak adanya perlindungan dan perawatan terhadap situs Goa Jepang mengakibatkan rusak dan terbengkalainya. Diantaranya pun ada yang sudah roboh dan dijadikan rumah tinggal oleh warga.

Seperti Goa Jepang yang berada di daerah km 5, tepatnya dibelakang pasar tradisional KM 5. Melewati Jalan Sosial kemudian tembus ke Jalan AKBP H. Umar, Kelurahan Ario Kemuning. Melalui pengamatan Tim Ukhuwah, keadaan goa di sana ada yang sudah menjadi rumah tinggal dan ada satu yang masih utuh namun hampir roboh.

Menurut keterangan salah satu warga yang juga pemilik tanah di kawasan tersebut, Kasda Alia mengatakan, tanah itu didapatnya dari ibu mertuanya yang merupakan mantan veteran pada masa penjajahan.

“Mertua saya, Alm. Damat Mukin membagikan tanah ini buat 8 keturunan dan itu termasuk suami saya. Tanah ini didapat sebagai bentuk balas jasa pada masa kepemimpinan Soekarno,” ucapnya.

Kasda juga mengatakan Goa ini sering disalahgunakan remaja ‘nakal’, seperti tempat untuk  menghisap aibon, muda-mudi memadu kasih, serta banyak anak-anak muda lainnya yang datang sampai larut malam, tidak hanya laki-laki bahkan perempuan.

“Sudah sering diperingatkan, tapi tetap saja mereka kembali lagi. Saya sempat berencana untuk menghancurkan bangunan ini dari pada dijadikan tempat maksiat dan membuatnya menjadi tempat tinggal. Namun, karena beberapa pertimbangan seperti sulitnya kontur tanah sehingga memerlukan alat berat untuk meratakanya dan pertimbangan dari warga sekitar mengenai situs sejarah yang harus dilindungi,” jelas Kasda pada Tim Ukhuwah.

Selain fakta yang terlihat, ada juga hal-hal tak kasat mata yang menjadi perbincangan masyarakat disana. Seperti penampakan beberapa sosok yang menyerupai noni Jepang, tentara dan bayangan hitam besar. Namun, cerita dan permasalahan yang ada tidak menghilangkan kesakralan bangunan ini sebagai bukti dari sejarah.

Salah satu Budayawan Sumsel, Yudhy Syarofie mengatakan, Goa Jepang sudah masuk dalam cagar budaya walaupun belum ditetapkan. Menurut UU No 10 tahun 2009 situs tersebut dilindungi dan diperlakukan sebagaimana seharusnya cagar budaya.

“Jadi, ini memang sudah masuk dalam cagar budaya, yang menjadi persoalannya adalah goa ini milik masyarakat, ketika itu milik masyarakat, kita mau apa? Pemerintah misalnya, itu harus ada iktikad baik dari kedua belah pihak,” sampainya.

Berdasarkan pengamatan Yudhy di tahun 1996 dengan terakhir Ia datang di tahun 2017, bangunan tersebut sudah berubah dan terdapat tambahan, tapi hal tersebut tidak mengahalangi untuk dilindungi.

“Ketika bangunan tersebut dalam cagar budaya dan dilindungi seharusnya tidak boleh diapa-apakan, tidak boleh dicat, tidak boleh ditambah-tambah. Namun, saat ini sudah berubah. Bila harus pemerintah yang mengambil alih, persoalannya apakah akan ada anggarannya,’ imbuhnya.

Tindakan awal bagi pemerintah menurut Yudhy adalah merawat bangunan tersebut.“Belum sampai pada merevitalisasi, perawatan dulu. Kalau revitalisasi, penyelamatan atau pengembangan itu bisa nanti, yang jelas ada kata sepakat antara dua pihak, masyarakat tidak boleh dirugikan. Kalaupun mereka tidak boleh tinggal di kawasan itu, setidaknya disediakan tempat tinggal yang layak dan seimbang,” jelasnya.

Sebagai tim cagar budaya, Yudhy mengatakan pihaknya hanya bisa memberikan usulan atau rekomendasi supaya pemerintah menyediakan anggaran. Sedangkan untuk bangunan yang sudah menjadi rumah, Yudhy mengatakan itu merupakan tindakan yang bagus sebab bangunan tersebut jadi terpelihara. Namun, Ia sangat menyayangkan bangunan yang berada di bawah tempat pertahanan udara sebab kondisinya yang memperihatinkan.

“Goa Jepang ini bisa menghilang kalau tidak ada tindakan apa-apa untuk mempertahankannya. Banyak bukti sejarah yang sudah menghilang seperti makam. Syukurnya sudah ada kesadaran dari pemilik tanah dan warga sekitar untuk mempertahankan, tinggal tindakan dan iktikad baik pemerintah yang menentukan nasib Goa jepang ini kedepannya,” katanya.

Bagi Yudhy bila pelestarian terhadap situs sejarah ini berjalan baik, maka Palembang bisa menjadi etalase kebudayaan dan sejarah. Mulai dari masa megalitikum sampai masa kolonial, termasuk masa pendudukan Jepang, dan paska kolonial yang menyimpan bukti di Bumi Sriwijaya ini.

“Jadikanlah etalase ini sebagai sesuatu yang menarik, menjadi bahan penelitian, dan bersyukurnya kita tidak hanya bisa bercerita tanpa bukti nyata sejarah tersebut, karena ada bukti bangunan dan peninggalan-peninggalan lain, dan inilah etalase itu yang harus kita rawat, selamatkan dan jaga bersama-sama,” pungkasnya.

 

Reporter: Delta Septiasmara, Siti Wijaya

Editor: Rezzy Saputra, Melati Putri Arsika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *