Science

Modifikasi Cuaca dan Penemuan Awan Spesies Baru

ilustrasi hujan buatan, NET.

ilustrasi hujan buatan, NET.

Rekayasa cuaca yang ramai dibicarakan di media masa pada awal tahun 2013 ini tentu memancing keingintahuan kita semua mengenai apa yang disebut dengan TMC. TMC (Tekhnologi Modifikasi Cuaca) seperti yang dikutip dari blog Soerya.Surabaya.go.id,  khususnya hujan buatan sebenarnya bukanlah pekerjaan membuat atau menciptakan hujan.

“Teknologi ini hanya berupaya untuk meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan, yakni dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air), sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan,” papar blog tersebut.

Hal inilah yang dilakukan di Jakarta pada musim hujan kali ini, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) digelar atas permintaan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar dilaksanakan TMC untuk mendistribusikan hujan di DKI Jakarta dan sekitarnya. BNPB pun meresponnya melalui kerjasama dengan BPPT selama dua bulan, yakni mulai tanggal 26 Januari 2013 sampai dengan 25 Maret 2013. Tujuannya adalah, supaya awan yang mengandung butir-butir hujan lebat ketika memasuki kota Jakarta hanya akan menjadi hujan ringan, sehingga dapat mengurangi resiko banjir, dan hal ini oleh beberapa pihak diklaim terbukti mampu mengurangi banjir Jakarta sebesar 30 %.

Sebenarnya bukan hanya kali ini TMC diterapkan di Indonesia, hal serupa pernah dilakukan di Palembang, Sumatera Selatan ketika di gelar event Internasional Sea Games, dua tahun silam.

TMC di Indonesia pertama kali dikaji dan diuji pada tahun 1977 atas gagasan Presiden Soeharto (Presiden RI saat itu) yang difasilitasi oleh Prof. Dr. Ing. BJ Habibie, melalui Advance Teknologi sebagai embrio Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dibawah asistensi Prof. Devakul dari Royal Rainmaking Thailand.

Sejarah TMC dunia bermula pada tahun 1946 ketika Vincent Schaefer dan Irving Langmuir, mendapatkan fenomena terbentuknya kristal es dalam lemari pendingin, saat Schaever secara tidak sengaja melihat hujan yang berasal dari nafasnya waktu membuka lemari es.

Lalu pada tahun 1947, Bernard Vonnegut mendapatkan terjadinya deposit es pada kristal perak iodida (Agl) yang bertindak sebagai inti es. Vonnegut tanpa disengaja suatu hari melihat titik air di udara ketika sebuah pesawat tebang dalam rangka reklame Pepsi Cola, membuat tulisan asap nama minuman itu.

Kedua penemuan penting di atas merupakan tonggak dimulainya perkembangan modifikasi cuaca di dunia untuk selanjutnya.

Banyak pihak yang tidak setuju dengan diadakannya modifikasi cuaca ini, alasan mereka terutama, kekhawatiran akan dampak dari penerapan TMC tersebut dapat menyebabkan kacaunya iklim di daerah lain. TMC sebenarnya bukanlah solusi konkret atas permasalah banjir yang setiap tahun melanda Jakarta, karena yang menjadi masalah bukanlah tingginya curah hujan, tapi bagaimana air hujan tersebut tidak tergenang tentulah aliran air tersebut harus lancar. Tapi jika saluran air tersumbat oleh sampah disanalah letak permasalahan sebenarnya. Untuk menghindari banjir haruslah dimulai dari kesadaran masyarakat supaya tidak membuang sampah tidak pada tempatnya. Diiringi dengan penanaman pohon dan pembuatan lahan resapan air, banjir akan dapat diatasi, dan Jakarta tentu akan jadi lebih indah.

 

Undulatus Asperatus awan spesies baru.

Masih terkait dengan awan, saat ini ditemukan “spesies” awan baru Awan tersebut kali pertama terlihat di Cedar Rapids, Lowa, Amerika Serikat, pada tahun 2006. Selanjutnya, awan juga terlihat di Perancis, Norwegia, dan beberapa wilayah lain.

Organisasi Cloud Appreciation Society (CAS) yang berbasis di Inggris menamai awan tersebut Undulatus Asperatus. CAS tengah mengajukan agar awan itu diakui kebaruannya oleh World Meteorological Organisation di Geneva dan dimasukkan dalam International Cloud Atlas.                                                                                                                           Dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan resmi, CAS telah mengumpulkan banyak gambar awan tersebut serta melakukan penelitian yang kebanyakan dilakukan di Reading University.

Graeme Anderson, meteorolog dari Reading University, mengungkapkan bahwa Undulatus asperatus mirip dengan awan Mammatus. Perbedaannya adalah, Undulatus asperatus lebih bergelombang.

Gavin Pretor-Pinney, pendiri CAS, mengungkapkan bahwa Undulatus asperatus memang jenis awan baru. Ia menyatakan beberapa hasil penelitiannya di Royal Meteorological Society. Pretor-Pinney seperti dikutip Daily Mail, mengatakan,

“Awan ini lebih hangat, lembab, dan lebih dingin di bagian atas, udara yang lebih kering dibagian bawah dengan batasan yang jelas di antara keduanya.”

Saat ini, pendukung CAS tengah berharap-harap cemas, menunggu apakah Undulatus asperatus memang bisa diklasifikasikan sebagai awan baru. Studi pada awan tersebut terus dilakukan.
Jika awan itu dinyatakan sebagai jenis baru, maka CAS membuat prestasi penting. Undulatus asperatus akan menjadi jenis awan baru pertama yang ditemukan sejak Cirrus intortus pada tahun 1951.

“Mengamati awan adalah hal penting untuk mendokumentasikan efek pemanasan global di langit. Awan dapat memberikan jawaban tentang suhu dan perubahan iklim di tahun-tahun mendatang,”  Kata Pretor-Pinney.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah