Ukhuwah Poto

Menjemput Jumputan

Jauhari, salah satu pengrajin kain jumputan menceritakan kain dasar jumputan itu bisa dari kain viscose, dopi, dan katun yang berwarna putih. Kain-kain itu lalu di gambar sesuai dengan pola yang akan dibuat. “Pola yang paling rumit karena terlalu detail adalah pola titik tujuh. Pola inilah khas Palembang,” tuturnya. Setelah digambar, pengrajin akan mengikat kain dengan erat sesuai garis-garis pola yang sudah digambar. Saking rumitnya mengikat kain jemputan pola titik tujuh ini, pengrajin butuh tiga hari untuk mengikat. “Setelah itu baru direbus dengan pewarna direk atau naptol,” kata Jauhari. Sedangkan untuk pewarna alami, bisa menggunakan ekstrak mahoni, mangga hingga jengkol. “Pewarna alami ini hasilnya lebih kalem, warnanya lembut, seperti warna cokelat” lanjutnya. Selesai direbus, kain khas Palembang itu akan dijemur. “Dijemurnya jangan langsung di bawah sinar matahari, cukup di bawah atap,” ujar Jauhari. Dia berharap dari kampung yang tak jauh dari muara pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Musi ini, kain khas Palembang bisa terjaga keberadaannya.

Jauhari, salah satu pengrajin kain jumputan menceritakan kain dasar jumputan itu bisa dari kain viscose, dopi, dan katun yang berwarna putih. Kain-kain itu lalu di gambar sesuai dengan pola yang akan dibuat. “Pola yang paling rumit karena terlalu detail adalah pola titik tujuh. Pola inilah khas Palembang,” tuturnya.
Setelah digambar, pengrajin akan mengikat kain dengan erat sesuai garis-garis pola yang sudah digambar. Saking rumitnya mengikat kain jemputan pola titik tujuh ini, pengrajin butuh tiga hari untuk mengikat. “Setelah itu baru direbus dengan pewarna direk atau naptol,” kata Jauhari.
Sedangkan untuk pewarna alami, bisa menggunakan ekstrak mahoni, mangga hingga jengkol. “Pewarna alami ini hasilnya lebih kalem, warnanya lembut, seperti warna cokelat” lanjutnya.
Selesai direbus, kain khas Palembang itu akan dijemur. “Dijemurnya jangan langsung di bawah sinar matahari, cukup di bawah atap,” ujar Jauhari.
Dia berharap dari kampung yang tak jauh dari muara pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Musi ini, kain khas Palembang bisa terjaga keberadaannya.

Seorang pekerja sedang membentuk pola motif di media kain putih

Seorang pekerja sedang membentuk pola motif di media kain putih

Kain yang sudah dijumput

Kain yang sudah dijumput

Seorang pengrajin sedang mengikat kain jumputan yang belum diwarnai

Seorang pengrajin sedang mengikat kain jumputan yang belum diwarnai

Cat dan kuas yang berada di lokasi pembuatan kain jumputan

Cat dan kuas yang berada di lokasi pembuatan kain jumputan

Seorang pekerja sedang melakukan pewarnaan dengan cara disemprot

Seorang pekerja sedang melakukan pewarnaan dengan cara disemprot

Botol sebagai wadah cat yang berada di lokasi pembuatan kain jumputan

Botol sebagai wadah cat yang berada di lokasi pembuatan kain jumputan

Kain yang telah dicelupkan kedalam warna yang sudah ditentukan sebelumnya

Kain yang telah dicelupkan kedalam warna yang sudah ditentukan sebelumnya

Salah seorang pekerja sedang menjemur kain sudah melalui proses pewarnaan

Salah seorang pekerja sedang menjemur kain sudah melalui proses pewarnaan

Salah seorang pekerja beristirahat setelah seharian bekerja

Salah seorang pekerja beristirahat setelah seharian bekerja

Salah seorang pembeli kain jumputan keluar darirumah pembuatan kain jumputan

Salah seorang pembeli kain jumputan keluar darirumah pembuatan kain jumputan

Foto : Nopri Ismi, Eroll

Narasi : Ahmad Supardi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah