Opini

Menakar Independensi Pers Mahasiswa di Pilkada Sumsel

Sumber foto: Internet

Pers mahasiswa sebagai ajang pematangan mahasiswa dalam dunia tulis menulis dapat berperan aktif pada Pilkada Sumsel. Tetapi, sebagai media kampus Persma dianggap sebelah mata. Pada pada situasi tertentu persma justru mampu mendobrak kemapanan yang di kampus dan luar kampus.

Idealisme mahasiswa masih dihargai oleh pers kampus agar dominasi pergerakan mahasiswa yang pragmatis dapat diseimbangkan. Idealisme persma sebagai modal sosial untuk bersikap independen pada Pilkada termasuk di Sumsel. Dimana perang dahsyat ini segera akan di mulai. Seluruh pergerakan dilakukan baik darat maupun udara.

Perang di darat para calon gubernur berebut simpati rakyat dengan blusukan, kunjungan ke masjid, pasar atau tempat umum lainnya, serangan melalui baliho, spanduk, banner, brosur, buletin, iklan, dan sejenisnya sebagai senjata yang bisa menembus pikiran rakyat untuk tetap atau merubah pikiran tentang pilihannya.

Serangan udara melalui media yang terus menjadi trand telah mengisi pikiran rakyat melalui gengaman mereka dimana pun berada. Serangan media ini dirasakan sangat efektif dalam mempengaruhi massa dalam menjelma menjadi “raksasa” penakluk pikiran.

Berkaca Pilkada Jakarta 2017 lalu, serangan udara melalui media sangat efektif dan menjadi kunci kemenangan Anis-Sandi. Serangan bertubi-tubi dari lawan ditanggapi juga penantang dengan serangan udara. Kasus yang dianggap sepeleh dan remeh, berubah menjadi kasus atau berita “raksasa” mendominasi antara kepentingan dan idealisme pers.

Pers mahasiswa pun aktif mendorong dan mengangkat berita raksasa ini. Dalam kontestasi di Pilkada Sumsel, bagaimana pers mahasiswa mendorong demokratisasi agar tercipta Pilkada damai dan harmoni. Setidaknya terdapat tiga hal sebagai ujian bagi indepensi persma.

Pertama, pengawas pilkada. Peran sebagai pengawas selama ini bagian terpenting dalam pilkada tetapi terkadang dalam konteks investigasi masih terdapat kelemahan sehingga banyak wartawan maupun jurnalis mengalami kendala dalam melakukan investigasi. Untuk itu, peran ini harus dimanfaatkan agar peran kepengawasan oleh pers mahasiswa menjadi lebih “bergizi” dan “bernas” dalam memutuskan hasil-hasil investigasi. Menjadi relawan seperti ini sangat penting bukan semata-mata menjadi tim survei yang hasilnya hasil dianalisis lembaga survei dan tidak bisa menjadi berita. Alhasil, peran independensi dibatasi sebagai pelaksana lapangan.

Kedua, pengawas kekuasaan. Makna kekuasan ini bukan semata-mata ditujukan pada pimpinan daerah mulai dari Gubuerbur, Walikota/Bupati, Camat, Lurah/Kades, Kadus, RT, RW, dan perangkatnya. Demikian pula semua perangkat pemilihan mulai KPU, Banwas, PPK, PPS, Saksi, dan panitia TPS, termasuk pergerakan para calon, tim sukses, relawan dan mungkin para donatur. Semua bertujuan agar Pilkada dapat berjalan sesuai aturan yang berlaku. Zero konflik dan zero kerawanan sosial politik. Peran persma dalam dimaksimalkan dengan membentuk tim solid untuk turun aktif dalam menjadi moderasi dalam serangan udara. Tim dari persma dapat beraudiensi ke Gubernur dan KPU sebagai media alternatif dan independen demi terwujudnya kedamaian.

Ketiga, menggelar diskusi terbuka. Persma sebagai ajak membangun intelektual dan independensi mahasiswa sebagai alternatif agar tumbuh kesadaran politik baik di level mahasiswa maupun masyarakat luas. Biasanya, diskusi mahasiswa di lesehan. Tetapi dalam sekala waktu tertentu dapat didiskusikan di cafe-cafe dengan cost minimal dengan mengangkat topik untuk mengkritisi Pilkada dan menjadikannya sebagai pijakan untuk memenangkan hati rakyat. Isu-isu stratagis itu harus berusaha menaikkan nilai jual dari persma untuk mempertahankan ranah idealisme dan independensinya.

Beberapa peran di atas membuka jalan bahwa persma bukan lembaga lemah ide dan kreativitas. Tetapi, persma dengan potensinya dapat menggali dan menggapai indahnya berlatih dan menempah diri dengan terobosan sesuai dan relevan dengan situasi dan zaman. Buktikan kalau memang persma itu independen dan memiliki nilai jual di mata publik.

Penulis: Afriantoni, M. Pd. I
(Aktivis Pers Mahasiswa 1998-2003)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah