Suasana Talkshow Nasional dengan Tema "Tanggung Jawab Bersama Menjaga Lahan Gambut" yang menghadirkan pakar-pakar mengenai pengelolaan lahan gambut bertempat di Gedung Auditorium Universitas Sriwijaya Palembang, (21/11/2016).

Suasana Talkshow Nasional dengan Tema “Tanggung Jawab Bersama Menjaga Lahan Gambut” yang menghadirkan pakar-pakar mengenai pengelolaan lahan gambut bertempat di Gedung Auditorium Universitas Sriwijaya Palembang, (21/11/2016).

Indralaya-Ukhuwahnews.com | Masyarakat terus disalahkan dan menjadi kambing hitam atas permasalahan kebakaran hutan, khususnya di lahan gambut. Masyarakat seakan dikebiri, dijadikan objek dalam kasus ini. Harusnya masyarakat saat ini juga dilibatkan dalam upaya penanganan kebakaran di lahan gambut, dengan menempatkan mereka sebagai subjek sehingga dapat ikut berperan aktif membantu menangani konflik gambut yang berkepanjangan.

Hal ini disampaikan oleh Dedi Permana, Aktivis Pemberdayaan Masyarakat di Lahan Gambut sekaligus Direktur Hutan Kita Institut, Senin (21/11) pada Takl Show Nasional di Gedung Auditorium Unsri.
Munurut Dedi, harus ada pendekatan humanis terhadap masyarakat yang dibutuhkan partisipasinya dalam mengatasi permasalahan lahan gambut.

“Tindakan pencegahan lebih penting, bisa dilakukan dengan bantuan akademisi, aktivis, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh lini masyarakat dalam mengampanyekan isu lahan gambut ini,” ungkapnya.
Faktor tata ruang, peranan masyarakat seperti kearifan lokal, dan perkembangan pendapatan penduduklah menurut Dedi saat ini yang bisa digencarkan.

Ditambahkan oleh Najib Asmani, Koordinator Tim Restorasi Gambut Sumsel, sekaligus dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) bahwa Gambut adalah lahan yang bersifat marginal, berbentuk seperti busa dan mudah terbakar. Apabila gambut tersebut terbakar, maka akan menjalar sampai lapisan terbawah. Ini yang menyebabkan kebakaran pada lahan gambut susah untuk dikendalikan. Permasalahan kebakaran di lahan gambut sudah terjadi sejak tahun 1997, kemudian semakin berkembang dan klimaksnya pada tahun 2015.

Lebih lanjut Najib mengatakan bahwa ia sepakat memang perlu adanya kerjasama diseluruh lini. Peranan pemerintah dalam mengkoordinir, mengelola, dan mengendalikan lahan gambut dianggap paling diharapkan agar semua program dapat bersinergi.

Menurutnya sejauh ini belum ada koordinasi yang cukup progresif. Namun pada tahun 2015 barulah dilakukan upaya-upaya yang preventif, seperti kerjasama antara pemerintah dengan Lembaga Penerbangan dan Antariska Nasional (Lapan) yang baru ini dilakukan, yaitu pemantauan titik-titik api dengan satelit, sehingga apabila terjadi kebakaran mudah untuk dikontrol.

Ada tiga tujuan utama yang menjadi fokus pemerintah terkait permasalahan lahan gambut yaitu; pelestarian, pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat.

“Pengelolaan lahan gambut sering dihampiri masalah-masalah, masalah tersebut tidak jauh dari tata kelola air (management water), pendapatan masyarakat, dan pemanfaatan tumbuhan yang berada di lahan gambut tersebut,” kata dia.

Najib juga menuturkan bahwa yang menjadi tantangan pada saat ini adalah mengatasi kebakaran hutan, penegakan hukum, dan menurunnya debit air.

Reporter : Obi
Editor      : Jeo

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah