Mahasiswa dan Sistem Akademik

Sumber: Internet

Melunturnya daya kritis mahasiswa tidak mungkin dilihat dari satu perspektif saja dan dipisahkan dengan aspek lain secara positif. Kita melihat bahwa persoalan ini ternyata terkait erat dengan mekanisme sistem yang berjalan. Mahasiswa kini sering dijadikan obyek dari kepentingan tertentu. Semakin bekurangnya ruang gerak mahasiswa untuk melakukan gerakan baik dalam tataran diskursif maupun praksis serta mekanisasi kehidupan kampus merupakan anomaly serta problematika yang besar.

Adanya pengurangan itu menyebabkan mahasiswa kehilangan daya kritisnya. Pengurangan ruang gerak itu dilakukan dengan cara penciptaan aturan-aturan formal yang tidak mengacu kepentingan serta kebutuhan mahasiwa. Aturan-aturan yang hegemoni itu justru akan mengarah pada verbalisme. Karena, mahasiswa di samping sebagai insan akademis juga merupakan bagian dari masyarakat. Adanya pembatasan itu akan mengkondisikan mahasiswa ke suatu wilayah ketidaksadaran kolektif.

Mahasiwa membutuhkan ruang gerak dan waktu untuk mewujudkan dan mengembangkan kretifitasnya. Akan tetapi kenyataan yang terjadi malah sebaliknya, sehingga seringkali terjadi benturan antara mahasiwa dengan kebijakan akademik yang menuntut mahasiswa selalu aktif dalam mengikuti setiap mata kuliah yang ditentukan. Kemampuan mahasiswa bukan ditentukan dengan seringnya mengikuti mata kuliah akan tetapi bagaimana mahasiswa dapat memposisikan diri sebagai kaum intelektual yang bukan bedasarkan formalitas saja.

Memang terbukti banyak mahasiswa yang selalu aktif mengikuti mata kuliah di kelas tapi kemampuannya tidak sesuai yang diharapkan. Lebih-lebih dosennya kurang profesional, sementara itu mahasiswa dituntut untuk selalu menurut sami’na wa ata’na’. Hal itu mengakibatkan mahasiswa selalu terhegemoni dengan ketentuan akademik, sehingga tidak dapat bertindak sesuai idealitas mahasiswa sebagai intelektual muda.

Proses hegemonic yang dilakukan universitas memang kerap mematikan kreatifitas/idealis mahasiswa karena hegemonic yang dilakukan membuat mahasiswa menjadi penurut, tidak ingin ada mahasiswa yang kritis yang selalu mengontrol kebijakan kampus. Disitulah letak pembunuhan kreatifitas/idealisme mahasiswa, penerapa-penerapan kebijakan yang dilakukan ingin melawan ide-ide cemerlang mahasiswa sehingga konsep-konsep pendidikan yang plural hilang ditelan legalitas kampus yang selalu mengkonsep mahasiswa sesuai bentuk yang diharapkan, bukan sebagi pembangkang tetapi sebagai penurut sehingga mengakibatkan kesadaran pada mahasiswa sebagai seorang generasi masa depan hilang. Selalu tunduk pada peraturan dan memang kebijakan ini kerap menjadi persoalan di tubuh mahasiswa sendiri karena ada yang setuju dan menikmati dirinya dalam hegemonic itu dan ada yang sebaliknya. Banyak aktivis yang mengakui bahwa ia mendapatkan apa yang diperlukan, pengalaman, ilmu dan sebagainya di organisasi, baik intra kampus dan ekstra kampus dan tidak mendapatkan hal tersebut di bangku kelas perkuliahan.

Pihak akademik tidak membatasi tentang apa yang diinginkan mahasiswa, akan tetapi tidak sampai melupakan kewajiban di bangku kuliah. Sehingga disini mahasiswa mampu mandiri untuk memanajemen dirinya dalam proses rekayasa sosial terhadap dirinya sendiri dan tidak hanya terkukung dalam doktrin yang hegemoni.

 

Penulis: Rebi (Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *