Opini

Like Pada Instagram Sebagai Candu Membagi Konten

Sumber: Internet

Peran media sosial terutama Instagram, yang sebagai wadah membagikan foto atau video ke jejaring sosial diharapkan memberikan dampak positif. Menurut hasil survei WeareSocial.net dan Hootsuite, Indonesia merupakan negara dengan pengguna platform Instagram terbanyak ketiga setelah Amerika Serikat dan Brasil dengan 55 juta pengguna selama 2018 yang pastinya akan terus bertambah.

Ketika pengguna Instagram membagikan foto ataupun video, pastinya akan mengharapkan like atau viewers sebanyak-banyaknya. Dengan ini pengguna tersebut seperti merasa bangga atas apresiasi yang diberikan pengguna Instagram lainnya dan memberikan candu untuk terus menerus memposting konten.

Sebaliknya, jika apa yang diposting mendapatkan like dengan jumlah sedikit pastinya akan timbul rasa kekecewaan hingga konten yang telah diposting tersebut dihapus. Dengan kemunculan Hormon Dopamin (hormon yang memunculkan rasa senang dan percaya diri) terhadap jumlah like yang didapat ini,  malah akan memicu dampak negatif bagi pengguna, seperti memaksakan segala cara agar mendapatkan  jumlah like yang banyak, antara lain melakukan kebodohan ataupun challenge berbahaya.

Disisi lain, sekarang terdapat banyak juga akun yang menawarkan jasa penambah like menggunakan WeBot, atau biasanya disebut Bot dengan harga sesuai banyaknya jumlah like yang diminta. Dengan memakai jasa penambah like menggunakan Bot ini malah akan beresiko membahayakan  akun tersebut. Bahaya pertama adalah banyaknya notifikasi yang masuk sesaat setalah mengunggah atau memposting foto maupun video. Meski kesannya cuma mengganggu, akan tetapi terdapat notifikasi spam yang bisa membahayakan smartphone pengguna. Apalagi jika spesifikasi smartphone tersebut yang termasuk golongan menengah. Notifikasi Instagram yang terus menurus dapat membuat smartphone menjadi nge-lag, hang, restart secara sendiri dan berbagai gejala mengganggu lainnya. Bahaya lain dari penawar jasa penambah like ini menjadikan akun Instagram pengguna secara otomatis memberi like pada pengguna akun lain yang berakibat tidak terkontrolnya rekomendasi aplikasi tersebut terhadap konten-konten yang muncul di menu explore, misalnya konten negatif seperti pornografi yang bisa saja terpantau dan diketahui pengguna Instagram lain. Bahaya terakhir yakni kemungkinan akun Instagram dapat terblokir.

Disisi lain sangat aneh ketika Instagram dijadikan sebagai adu gengsi demi popularitas bermedia sosial, memaksakan segala cara agar mendapatkan jumlah like yang banyak tanpa menghiraukan resiko yang dapat terjadi. Bedasarkan Algoritma Instagram 2019, konten yang diposting hanya muncul di 10% Followers akun pengguna, ini menjadi jawaban jika konten yang diposting mendapatkan jumlah like yang minim. Jadi, cara meningkatkan persentase tersebut harus lebih meningkatkan Engagement Rates dari setiap postingan dengan memposting konten yang kreatif, inovatif, dan original.

Seharusnya apa yang dibagikan ke jejaring sosial tidak diukur dari banyaknya like yang didapat, tetapi dari kemampuan pengguna membagikan hal yang positif, kepedulian, ataupun cinta dalam bentuk gambar, sikap, hingga tindakan dalam bermedia sosial yang lebih besar kemungkinannya untuk mendulang banyak like, dari pada melakukan hal negatif serta memakai jasa penawar like dengan tarif harga yang ditentukan. Setuju?

 

Penulis: Kemas Prima (Mahasiswa Jurnalistik 2018 Fakultas Dakwah dan Komunikasi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah