Gallery

Kota Lain untuk Lonia

Sumber : Net.

Sumber : Net.

 

“Kau sungguh mendapatkannya?” tanya Wika tak percaya. Bola matanya seperti hendak keluar menatapku. Aku menunjukkan surat bermasalah itu. Menyodorkannya pada Wika yang melotot. Ia membukanya cepat, matanya liar ke sana-sini membaca surat itu-takut benar surat itu hilang dari hadapannya jika dalam hitungan sepuluh detik tak selesai ia baca.

“Kau akan menyetujuinya?” tanyanya selepas melipat kembali surat itu. Aku mengerutkan kening. Gantian aku yang menatapnya tak percaya. “Em…maksudku…apakah Ibumu akan menyetujuinya?” lanjutnya, suaranya nyaris kalah oleh desau angin.

Aku terdiam, baru sadar maksud pertanyaannya. “Aku akan coba membujuknya,” jawabku. Sebenarnya aku tak begitu yakin dengan jawabanku. Dan aku tahu, Wika amat mengenal bagaimana ibu selalu melarangku untuk hal ini.

“Semoga kau berhasil kawan,” katanya datar, mencoba membesarkan hatiku.

***

Untuk itulah aku pulang lebih cepat hari ini. Lupakan pertanyaan Wika tadi. Lupakan segala kecemasan yang terus berputar. Cepat atau lambat ibu pasti akan mengerti. Aku sudah menyiapkan beribu argumen jika ibu tetap kekeuh seperti dulu.

Aku riang menyusuri setapak berdebu. Matahari sedang terik-teriknya, angin pancaroba berhembus kering. Butiran debu tanpa sengaja mengusik mataku, aku terpicing sejenak. Lambaian perdu menyisir jalanan di siang bolong. Ransel yang terasa berat seharian tadi seolah musnah entah ke mana perginya.

“Tumben pulang cepat Lon?” tanya ibu ketika aku membuka tudung saji.

“Lonia pulang cepat salah, Lonia pulang sorean ibu marah. Kok Lonia jadi salah terus ya?” jawabku setengah sebal. Ibu tertawa mendengarnya, meneruskan menggongseng kacang.

Malamnya, ketika aku, ibu, mbak Rissa, dan bang Andra selesai makan, aku menyerahkan surat itu pada ibu. Aku tahu ibu tak bisa membaca, tapi kalau melihat logo di bagian atas kertas itu, aku yakin ibu pasti mengerti. Ibu menatap surat itu lama, tersenyum. Aku mendesis senang melihat senyum itu, lampu hijau dari ibu pasti kudapatkan malam ini, batinku.      “Kau tahu Ibu tak bisa baca Lon,” kata ibu seraya menenggak air putih. Aku menepuk dahi.

“Surat apa?” bang Andra mengambil surat itu dari tangan ibu. Membacanya sekilas. Tampak tiga garis berkerut di keningnya, menatapku. Membaca surat itu ulang. Lebih teliti, lebih lama. Lima menit ia menatap surat itu dan aku bergantian. Sebelum akhirnya berseru bangga, “Oi, kau bahkan lebih hebat dari yang Abang bayangkan. Belum diwisuda saja kau sudah dapat pekerjaan,” puji bang Andra. Mbak Rissa mengambil surat dari tangan bang Andra.

“Bu, Lonia diterima jadi wartawan surat kabar di Bandung,” jelas mbak Rissa pada ibu yang dari tadi hanya terbengong melihat ketiga anaknya. Air muka ibu kini berubah lebih menegangkan. Ia menatapku lekat. Lantas berdiri, masuk ke dalam bilik kamarnya. Aku yang dari tadi berharap ibu mengatakan sesuatu hanya terduduk lesu. Malas menyusulnya. Ini sudah berkali-kali terjadi. Kenapa ibu tak mengerti juga?

“Besok Ibu akan mengatakan sesuatu,” kata bang Andra mencoba menghiburku. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.

***

Aku menggeliat bangun, melihat weker sekilas. Sudah jam empat subuh. Aku terhuyung-huyung keluar dari kamar. Mataku masih setengah tertutup. Mencoba mengumpulkan kesadaran. Melangkah ke kamar mandi. Menguap lebar.

Kabut putih masih tebal menyelimuti pucuk-pucuk pohon rambutan. Demi melihat itu, aku menyeret kakiku ke halaman belakang. Pemandangan yang tak pernah kutemui di tempat lain. Aku baru hendak berbalik masuk ke rumah, ketika ujung mataku melihat ibu sedang tepekur duduk sendirian di atas pondokan di sudut halaman—pondokan itu sudah lama ada, kata mbak Rissa dibuatkan oleh ayah ketika beliau masih ada. Aku mendekati ibu, duduk di sampingnya. Untuk sesaat ia menatapku. Matanya kini redup, tak berbekas cahaya selarik pun.

“Maafkan Ibu Nak. Tapi Ibu tak bisa mengizinkanmu,” lirihnya. Aku menghela napas. Bukan itu  jawaban yang aku inginkan, batinku. “Ibu tak mau kau jadi wartawan. Apalagi kau harus tinggal jauh sampai di Bandung sana,” sambungnya. Lagi-lagi aku menghela napas panjang.

Lima menit berikutnya tak ada percakapan di antara kami. Sebenarnya aku ingin bersikeras, memaksa ibu agar mengizinkan. Tapi entah kenapa lidahku terasa kelu, bibirku terasa kaku.

***

“Rasanya aku mau kabur saja,” kataku putus asa pada Wika.

“Jangan sembarangan Lon!” jawabnya cepat. Aku hanya menatap Wika datar, sebal melihat reaksinya. Aku sudah terlanjur kesal menghadapi ibu. Aku juga kesal pada kak Zorif. Sebenarnya ini tak ada hubungannya dengan kak Zorif—kakak sulungku. Tapi karena aku tak diizinkan ibu pergi, jadi aku amat kesal pada semua orang, merasa cemburu pada kak Zorif yang diizinkan ibu merantau sampai ke timur Indonesia. Mbak Rissa sebelum menikah dengan bang Andra juga dibiarkan merantau, bahkan sampai ke bumi etam. Tapi kenapa aku tak bisa seperti mereka. Aku sejak dari kandungan sampai sebesar ini tak pernah selangkah pun meninggalkan kota ini. Atau lebih tepatnya tak sejengkalpun aku pernah meninggalkan kabupaten ini.

“Kau kan tahu ini keinginan terbesarku. Menjadi wartawan dan mengelilingi Indonesia, atau kalau bisa mengelilingi dunia. Dan kau tahu kan aku tak pernah selangkah pun meninggalkan kota ini. Ini kesempatanku dan belum tentu akan datang dua kali,” gerutuku pada Wika. Ia menatapku prihatin.

“Harusnya kau bilang dulu pada ibumu sebelum mengirimkan surat lamaran ke surat kabar itu. Dulu saat kau ikut tes untuk kuliah jurnalistik di Surabaya kau diterima, tapi akhirnya tak jadi pergi karena ibumu tak mengizinkan. Lalu saat mau ikut seminar kewartawanan di Jakarta kau juga tak bilang dulu dengan ibumu kan. Juga saat kau ikut tes untuk….”

“Iya, iya, tak usah kau teruskan. Aku masih ingat semua tes-tes, kesempatan-kesempatan itu,” jawabku memotong kalimat Wika. Ia sungguh tak membantu.

Mana aku tahu kalau ibu masih tak mengizinkan aku. Dulu setamat aku SMA, aku banyak mendaftar kuliah di luar kota. Satu-dua ditolak. Satu-dua diterima, tapi terpaksa aku tolak karena terbentur izin dari ibu. Aku kira jika aku sudah mendaftar duluan dan ternyata diterima, ibu akan mengizinkan. Berharap ibu berpikiran sayang kalau kesempatan itu tak diambil. Tapi aku salah besar. Ibu malah tak mengizinkanku kuliah di mana pun kecuali di kota ini. Ketika aku tanya kenapa, jawabannya pendek saja, karena dekat dari rumah. Hanya itu.

Baiklah aku mengalah, mungkin karena aku perempuan ibu khawatir jika membiarkanku merantau semuda itu. Tapi sekarang mana mungkin ibu masih menganggapku anak kecil. Usiaku sudah dua puluh dua. Sudah lebih dari dewasa untuk tahu mana yang baik dan buruk. Sudah lebih dari kuat untuk menjaga diri. Dan ibu jelas tahu aku pemegang sabuk hitam. Ah Ibu, aku sungguh tak mengerti.

***

Bulan sempurna bundar di atas sana, cahayanya berpendar lembut. Langit bersih tak tersaput awan. Gemintang menambah elok rupawan gelap langit malam. Mungkin satu dua membentuk formasi bintang yang tak kukenali nama rasinya. Hembusan angin pancaroba menusuk kulitku. Aku menggigil sesaat. Aku tengah duduk termenung di bawah cahaya bulan di teras belakang rumah. Atau tepatnya sedang mengumpulkan keberanian dan argumen untuk membujuk ibu (lagi).

“Jangan berwajah tegang begitu Lon,” sebuah suara membuat lamunanku buyar.

“Lonia tidak tegang kok,” jawabku.

“Abang tahu kamu mau berusaha lagi, semoga berhasil. Kalau pun gagal lagi jangan menangis saja,” ledek bang Andra. Aku mengumapatnya. Mana mungkin aku menangis hanya karena hal sesepele ini.

Malam merangkak matang. Hembusan angin semakin mencucuk pori-pori. Aku sudah tak tahan melawan dingin. Malam ini semua harus selesai. Semoga ibu belum terlelap.

Ibu sedang melipat pakaian di ruang tengah ketika aku mendekatinya. Bang Andra dan mbak Rissa sedang menyimak televisi di sebelah ibu. Aku duduk tepekur di sebelah ibu. Pura-pura ikut menyimak televisi, padahal otakku sedang menyusun kata untuk disampaikan pada ibu. Aku harus menyusun kalimat sedemikian agar hati ibu luluh.

“Bu,” kataku pelan, suaraku nyaris kalah oleh volume televisi. Ibu menoleh. “Lonia jadi berangkat ke Bandung minggu depan,” sambungku, suaraku kini bagai decitan daun pintu. Gerakan ibu melipat pakaian terhenti. Aku tahu bang Andra dan mbak Rissa juga mendengar ucapanku, mereka hanya pura-pura menonton televisi dengan serius—mana ada orang menonton iklan dengan seserius itu.

“Ibu sudah bilang ibu tak akan mengizinkan, Lonia,” jawab ibu enteng.

“Tapi Lonia ingin Bu,” aku merengek, mencoba memantapkan ucapanku sendiri.

“Sekalipun Presiden yang memintamu pergi, ibu tak akan mengizinkan,” lanjut ibu tegas. Bang Andra tertawa tertahan, mbak Rissa menyikut lengannya, Lonia sedang serius, begitu tatapan mata mbak Rissa.

“Kalau begitu Lonia juga akan tetap pergi walau ibu tak mengizinkan,” jawabku keras kepala. Ibu menatapku tajam. Aku menunduk, tak berani beradu pandang dengan ibu. Aku juga tak berniat mengatakan kalimat itu. Kalimat itu meluncur begitu saja.

“Kau itu perempuan Lonia. Mau jadi apa kau? Wartawan? Itu pekerjaan laki-laki,”

“Sejak kapan wartawan hanya jadi pekerjaan laki-laki? Banyak wartawan perempuan. Ibu, Lonia sudah besar, sudah dewasa,”

“Bandung itu jauh Lonia, kau harus menyeberang selat Sunda,” ibu mulai mencomot berbagai alasan.

“Lonia tahu Bu, karena itulah Lonia ingin ke sana. Melihat sejengkal kota lain di Indonesia, tidak hanya kota ini,” aku mulai ngotot.

“Kau pasti dihasut orang-orang surat kabar itu untuk tetap pergi kan? Sebelumnya kau tak pernah menentang ibu seperti ini,”

“Tidak Bu. Tak ada satupun yang menghasut Lonia. Ini keinginan Lonia. Bu, tolonglah. Selama ini Lonia selalu menuruti semua kata-kata Ibu. Bahkan ketika Ibu tak mengizinkan Lonia menginap di rumah teman, Lonia selalu menurutinya. Hal sekecil itupun selalu Lonia turuti. Ini permintaan Lonia setelah selama ini tak satupun permintaan Lonia Ibu turuti,” pintaku panjang lebar. Air mataku nyaris jatuh. Kalau saja aku tak ingat olok-olok bang Andra tadi, aku pasti sudah menangis. “Lonia pernah membaca kalimat dari Imam Syafi’i, Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan. Lonia bahkan tak merantau sampai ke negeri orang, hanya terpisah oleh selat Sunda Bu,” sambungku. Ini kalimat pamungkasku, jika kalimat dari ulama tersohor ini pun ibu tetap kekeuh, aku sudah tak tahu lagi bagaimana urusan ini.

Lima menit ibu hanya diam. Mbak Rissa dan bang Andra juga terdiam. Menunggu jawaban ibu.

“Ayahmu meninggal ketika meliput berita peperangan di Pakistan,” itu ucapan ibu setelah sekian menit kami menunggu. Aku sungguh tak tahu cerita itu. Yang kutahu ayah meninggal di Pakistan karena kecelakaan, itu saja. Itukah alasan ibu tak mengizinkanku kuliah di jurusan jurnalistik? Tak mengizinkanku menjadi wartawan?

***

“Baik-baik di sana Lon,” kata mbak Rissa sambil memelukku.

“Telepon kalau sudah sampai Lon,” pesan bang Andra.

“Kau hebat kawan. Ini baru sahabatku, berhasil membuat ibunya yang selama ini keras kepala menjadi lumer,” bisik Wika. Aku terkekeh mendengarnya.

Ini hari keberangkatanku. Malam itu, semua kisah tentang ayah sempurna ibu ceritakan, tanpa ditambah-tambahi apalagi dikurangi. Malam itu juga aku berhasil mendapat izin dari ibu.

“Kau memang sudah dewasa Nak, sungguh dewasa. Memahami dengan tepat ucapan ulama besar itu. Ibulah yang selama ini lupa pada hakikat kalimat itu. Maafkan Ibu. Jika itu memang mimpimu, maka jemputlah, Nak. Darah wartawan ayahmu sungguh mengalir dalam nadimu. Selama ini Ibu hanya ketakutan akan kejadian Ayahmu,” itu kata-kata ibu sebelum aku menaiki burung besi yang menerbangkanku. Aku memeluknya lama. Lama sekali.

“Terima kasih Ibu sudah mengizinkan Lonia. Lonia akan pulang sesering mungkin,” kataku tersedu. Dan sungguh aku akan pulang sesering yang aku bisa. Bukan hanya untuk melepas rindu, tapi juga mengatakan pada kotaku jika aku akhirnya berhasil menapaki kaki di kota lain—bukan hanya kota itu saja.

 

***

Nurlaili Ummusnaini, tercatat sebagai Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Tahun 2015. karyanya pernah diterbitkan di Detak Pekan Baru, Pos Metro Prabu, dan telah tergabung di beberapa antologi bersama, diantaranya antologi puisi Cinta Suci, antologi puisi Lagi (Lagi) Rindu, antologi puisi Rindu di Simpang Jalan, antologi Himpunan Aksara Matematika, dll.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah