Kopi Sumsel Belum Terkenal, Perlu Penanganan Sektor Hulu dan Hilir Kopi

Salah satu narasumber, Dr. Adrian Bolloger sedang memaparkan materi tentang kopi pada cara Coffee Workshop “Hulu dan Hilir Kopi” pada agenda Musi Coffee Culture 2019 di Gedung Jacobson Van Den Berg, Sabtu (6/4/19). Ukhuwahfoto/AdamRachman.

Palembang – Ukhuwahnews.com | Peredaran Kopi Sumatera Selatan (Sumsel), menurut staf khusus Gubernur Sumsel bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, kurang dikenal banyak orang. Maka dari itu, diperlukan penanganan dari sektor hulu dan hilir kopi.

“Selama ini kan kopi Sumsel tidak banyak dikenal orang. Orang lebih kenal dengan kopi Gayo, Toraja, Lampung dan lain-lainnya, sementara produktivitas mereka itu jauh lebih kecil dari kita, dan luas lahannya juga sedikit. Inilah kita butuh penguatan brand kopi Sumsel dengan memperkuat sektor hilir,” ujarnya.

Dari hasil wawancara dengan Eko, seusai acara Coffee Workshop “Hulu dan Hilir Kopi” pada agenda Musi Coffee Culture 2019 di Gedung Jacobson Van Den Berg, Sabtu (6/4/19), lebih lanjut dia menjelaskan, penanganan kopi pada sektor hulu berupa pembenahan perilaku petani dalam pembudidayaan kopi.

“Mulai dari pemilihan benih, varietasnya unggul atau tidak, ber Standar Nasional Indonesia (SNI) atau tidak. Serta jarak tanah juga harus dibenahi, selama ini petani kopi itu asal tanam, jarak tidak diperhatikan, padahal itu penting,” jelasnya.

Adanya jarak tanah dalam penanaman kopi, kata Eko, petani bisa melakukan tumpang sari untuk menanam tanaman lain sehingga penghidupan para petani tidak bertumpu pada kopi, dan pemupukan pun menjadi hal penting untuk diperhatikan oleh petani.

Sedangkan pada sektor hilir, yang harus dilakukan ialah memperkuat brand kopi Sumsel. “Itulah dari sektor hulu ke hilir yang dimaksud, yang akan kita benahi secara bertahap dan diedukasikan kepada petani Sumsel,” tuturnya.

Kendati begitu, menurut Eko, kopi Sumsel ini menjadi yang terbesar di Indonesia dengan produktivitas 110.000 ton per tahun dan luas lahan 250.000 hektar.

Melihat keadaan tersebut, Eko mengungkapkan, kopi Sumsel sudah punya modal utama. “Tinggal bagaimana kita mengungguli kualitas, ini yang kita lakukan secara bertahap, banyak pihak yang kita libatkan selain pemerintah provinsi, seperti: Non Governmnet Organization (NGO) dan mitra pembangunan yang ada di sumsel,” tambahnya.

Senada juga dengan Dewan Kopi Sumsel, Zain Ismed mengatakan, pada kopi Sumsel ini banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, terutama di hulu, karena banyak kebun kopi hampir seluruhnya sudah berusia tua.

“Jadi kita harus berpikir untuk melakukan replanting atau menanam kembali, tapi persoalannya tidak sederhana, kita perlu bibit, beda dengan komuditi lain yang lebih gampang mencari bibitnya. Tapi kopi ini unik, kalau bisa bibit setempat yang unggul, ini perlu proses,” kata Zain saat diwawancarai.

Selain bibit, Zain juga mengatakan perlunya program penanaman kembali atau replanting secara bertahap. “Jika dilakukan sekaligus nanti petani tidak ada pendapatan. Jadi perlunya kerjasama antara pemerintah dan stockholder kopi Sumsel, jika hanya pemerintah, ini tidak akan berjalan,” imbuhnya.

Di akhir wawancara, Zain memaparkan, pada sektor hulu harus adanya perbaikan, budidaya, replanting, dan sebagainya. Setelah kualitasnya bagus, barulah melakukan branding atau masuk ke sektor hilir secara pelan-pelan.

Brand kita berorientasi internal, dalam dunia marketing brand sesuai dengan pasar. Kita masih perlu pikirkan sama-sama, tidak hanya menjadi kebanggaan daerah masing-masing tapi juga masuk ke pasar di Indonesia maupun internasional,” tutupnya.

 

Reporter: Melati Arsika, Indra Sucipta, Adam Rachman

Editor: Wilfi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *