Kabar Sumsel

Ketua AJI Palembang : Kesejahteraan Jurnalis Sumsel Memprihatinkan

Suasana diskusi AJI Palembang bersama penggiat Pers Mahasiswa dalam rangka memperingati Hari Buruh International (May Day) di Kambang Iwak Park Palembang, Selasa (1/5). Ukhuwahfoto/Nopri Ismi

Suasana diskusi AJI Palembang bersama penggiat Pers Mahasiswa dalam rangka memperingati Hari Buruh International (May Day) di Kambang Iwak Park Palembang, Selasa (1/5/18). Ukhuwahfoto/Nopri Ismi.

Palembang – Ukhuwahnews.com | Kesejahteraan jurnalis Sumatera Selatan (Sumsel) sangat memprihatinkan, dikarenakan sistem gajinya belum sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah (upah minimum regional). Selain itu, masih ditemukan perusahaan yang menerapkan sistem kerja kontrak berkepanjangan pada pekerja jurnalisnya.

Hal tersebut disampaikan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang, Ibrahim saat menghadiri diskusi terbuka dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di taman kota, Kambang Iwak Park Palembang, Selasa (1/5/18).

Selain persoalan penghasilan, menurut Ibrahim, jurnalis di daerah, termasuk Palembang masih memperoleh beban kerja yang berlebihan, serta hak jurnalis masih belum terpenuhi, seperti cuti haid bagi jurnalis perempuan. “Padahal, dengan pekerja jurnalis yang sehat dan sejahtera, maka perusahaan akan lebih kuat,” ungkapnya.

Pada diskusi yang diikuti oleh kalangan pers kampus inipun, Ibrahim dan AJI mengajak jurnalis untuk makin profesional dan mampu menciptakan karya jurnalistik. “Alasanya, karena perkembangan informasi yang pesat dan kompetitif mengharuskan jurnalis bekerja profesional,” terangnya.

May Day merupakan moment para pekerja, termasuk pekerja media untuk mengetahui persoalan yang dihadapi. Karena itu, pentingnya jurnalis berserikat dalam menghadapi persoalan tersebut,” lanjut pria yang biasa dipanggil kak Baim, usai diskusi.

Senada dengan Ibrahim, Ketua Majelis Etik AJI Palembang, Darwin Syarkowi mengatakan, jurnalis sangat penting berserikat. Profesi jurnalis telah memiliki kode etik dan diatur dalam undang-undang, namun masih sangat rentan akan beragam permasalahan, termasuk saat bersengketa yang nantinya bermuara di lembaga Dewan Pers.

“Kalau jurnalis berjuang sendirian tentu berat, maka sebaiknya berserikat. Oleh karena itu, buruh terutama jurnalis harus cerdas,” pungkasnya.

 

Reporter : Nopri ismi

Editor : Alfiansyah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah