H. Donny Mellano,S.H.I.,M.Sy. saat membuka Forum Kajian Ilmiah Syarif Madani Palembang di Aula Gedung Pasca Sarjana,Selasa (31/01/17).

H. Donny Mellano,S.H.I.,M.Sy. saat membuka Forum Kajian Ilmiah Syarif Madani Palembang di Aula Gedung Pasca Sarjana UIN RF, Selasa (31/01/17). ukhuwahnews/septi.

UIN-Ukhuwahnews.com | Mencegah paham Terorisme dan Radikalisme bagi pemuda Indonesia menjadi salah satu tujuan diadakannya Forum Kajian Ilmiah Syarif Madani Palembang dengan tema Peran para Ulama dan Tokoh Agama dalam dan mencegah Terorisme dan Radikalisme; mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin di Aula Gedung Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UIN RF) Palembang ,Selasa (31/01/17).

Salah satu pemateri dalam kajian ini, Sulaiman M. Urif,S.S. mengatakan jika Radikalisme itu berasal dari Yunani yang artinya memaksa, sedangkan di Indonesia sendiri diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis dan sekarang telah digunakan dalam istilah politik.

“Sekarang ini banyak ulama yang dicap radikal dan dikriminalisasikan. Contohnya ketika ulama mengeluarkan fatwa menggunakan atribut keagamaan non-muslim adalah haram, maka ulama tersebut dicap radikal dan bahkan meresahkan masyarakat,” ujarnya saat mengisi Forum Kajian.

Dia melanjutkan bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami kesenjangan dan diperparah dengan ketidakadilan di negeri ini.

“Sekarang ini Indonesia mengalami kesenjangan dan ketidak adilan, serta terjadinya  perang Ideologi sehingga yang memiliki pemikiran yang berbeda dicap sebagai teroris dan radikal. Contohnya seperti kasus Fahmi yang menulis kalimat tauhid di bendera merah putih langsung ditangkap. Padahal jauh sebelum itu, banyak kejadian dimana bendera kita dicoret coret dengan kalimat yang tidak pantas bahkan gambar-gambar yang tidak jelas. Jadi menurut saya, kata terorisme dan radikalisme itu digunakan hanyalah untuk membungkam para aktivis islam saja,” tambahnya.

Sedangkan menurut salah satu pemateri lainnya, dan juga Ketua Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia, Ibrahim Al-Farouq, mengatakan bahwa penyebab munculnya terorisme sangat rumit dan kompleks.

“Secara umum multifaktorial yang terjadi adalah faktor ketidakadilan diberbagai belahan dunia baik sosial, politik,ekonomi maupun budaya yang akan memicu faktor radikalisme. Dan radikalisme akan dipermudah oleh rendahnya pendidikan,kemiskinan, budaya, dan kehidupan sosial. Keterbelakangan pendidikan, perubahan politik, kemiskinan atau rendahnya peradaban budaya dan sosial akan memicu radikal yang berujung dengan kekerasan,” jelasnya.

Dia menambahkan untuk itu peran pemuda sangat penting dalam mencegah terorisme dan radikalisme ini yaitu dengan memberikan pemahaman dan penjelasan kepada masyarakat khususnya pemuda Indonesia tentang kedamaian, tidak ada ajaran agama yang menganjurkan umatnya untuk berbuat kekerasan dan teror, yang kedua dengan menjaga toleransi, yang ketiga dengan mengedepankan dialog antar agama bukan debat. Dengan ketiga ikhtiar itu maka peran pemuda dapat mencegah dan mengurai persoalan radikal dan terorisme di Indonesia.

Sedangkan menurut H. Donny Mellano,S.H.I.,M.Sy, dalam materinya mengatakan terorisme dan radikalisme itu muncul bukan karena urusan agama dan ideologi, karena semua itu sudah diatur pada Undang-Undang Dasar (UUD) pasal 29, namun terorisme dan radikalisme itu muncul karena ketidakadilan.

“Jika kita ingin bicara toleransi, maka Islam telah selesai dengan itu, peletak toleransi pertama adalah Rasulullah, jadi tidak perlu membahas toleransi dengan Islam. Maka dari itu jelaslah Islam bukanlah teroris,” tegasnya.

Dia juga menambahkan bahwa Islam bukanlah ajaran yang keras melainkan tegas, memberikan ketenangan bukan memecah belah umat.

“Jika memang islam adalah teroris dan anarkis, mengapa pada aksi damai 212 tidak terjadi hal yang menakutkan, tidak ada korban. Padahal begitu banyak umat muslim yang datang, dan presiden serta wakilnya ada diistana tersebut, tapi tetap berjalan damai. Kenapa? Karena islam tidak mengajarkan hal-hal keras. Islam mencintai kedamaian. Maka, untuk itu sebagai seorang pemuda kita jangan sampai terpengaruhi oleh orang-orang yang hendak memecah belah Negara Kesatuan kita,” pungkasnya.

Reporter : Jai, Spt.

Editor : Mcr

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah