Gallery

Kegalauan di Hari Pendidikan

 

Penulis adalah Diding Jalaludin Mahasiswa Program Studi Akhwal Al Syakhsiyah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang.

Penulis adalah Diding Jalaludin, Mahasiswa Program Studi Akhwal Al Syakhsiyah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang.

 

Luar biasa, mungkin itu kata yang pas untuk menggambarkan Bulan Mei 2016. Mengapa luar biasa..?? Karena di Bulan Mei 2016 ini terdapat 3 peringatan hari besar keagamaan, yaitu kenaikan yesus kristus (5/5/2016), isra mi’raj nabi Muhammad Saw (6/5/2016), dan terakhir hari raya waisak (22/5/2016).

Namun disamping peringatan hari besar bagi agama Kristen, Islam, dan Budha tersebut, tak kalah pentingnya adalah kita sebagai Bangsa Indonesia juga memperingati dua (2) hari besar yang beriringan, yaitu hari buruh internasional pada minggu (1/5/2016) dan hari pendidikan nasional pada senin (2/5/2016). Yang kemudian menjadi menarik adalah ketika beriringannya hari buruh dengan hari pendidikan nasional. Ada apa? Beriringannya hari buruh dan hari pendidikan nasional mengandung arti bahwa kaum buruh harus terdidik supaya dapat berkontribusi secara maksimal dalam pembangunan bangsa dan negara. Diakui atau tidak, para buruh yang dikirim Indonesia ke luar negeri merupakan pahlawan devisa bagi Indonesia yang kemudian harus mempunyai skill yang mempuni supaya dapat bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain.

Namun biaya pendidikan yang tinggi menjadi satu dari berbagai faktor penghambat meningkatnya kualitas pendidikan di Indonesia. Selain dari pada biaya, adalah sarana prasarana pendidikanyang belum maksimal dan merata. Misalnya ada satu sekolah di suatu daerah yang ambruk karena setelah sekian lama tidak tersentuh oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kesejahteraan para tenaga pengajar atau guru. Jangan sampai ada lagi guru Taman kanak-kanak (TK) hanya mendapat gaji sebesar Rp. 150.000 tiap bulan. Itulah mungkin segelintir PR yang harus diselesaikan oleh pemerintah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Solusi untuk menekan biaya pendidikan yang tinggi, perbaikan sarana prasarana pendidikan, dan kesejahteraan tenaga pengajar, dalam hal ini pemerintah harus berani mengambil kebijakan untuk menambah alokasi dana APBN untuk sektor pendidikan, supaya program revolusi mental yang digadang-gadangkan Presiden Joko Widodo dapat segera terealisasi.

Selain dari peran penting pemerintah pusat, peran para stakeholder di daerah dan di instansi pendidikan pun sangat di butuhkan. Jangan kemudian menjadi oknum pejabat yang tidak adil, misalnya jika ada bantuan beasiswa dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau instansi lain untuk siswa/mahasiswa sampaikanlah secara terbuka dan transparan. Jangan kemudian yang menjadi sasaran beasiswa tersebut adalah anak, keponakan, atau sanak saudara. Tapi berikan kepada yang berhak, seperti kepada siswa yang tidak mampu atau kepada siswa yang memenuhi kualifikasi dan kriteria untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Selanjutnya, jangan kemudian setelah peserta didik membayar lunas biaya pendidikan, pihak sekolah tidak memberikan fasilitas yang maksimal. Misalnya seragam sekolah yang belum di realisasikan, kurangnya kursi dan meja dikelas, dan lain-lain yang menjadi kewajiban dari pihak sekolah. Jadilah pejabat yang adil dan amanah yang dapat menjadi pengayom dan uswah hasanah bagj masyarakat. Jauhkan diri kita dari budaya KKN yang kuno.

Pendidikan yang berkualitas menjadi satu hal yang sangat penting bagi Indonesia kedepan. Mengapa? Karena Indonesia, negara kepulauan yang membentang luas dari sabang sampai merauke membutuhkan tenaga ahli untuk mengelola sumber daya alam yang sangat melimpah. Kita tahu Indonesia memiliki gas alam, batu bara, kekayaan laut yang melimpah, sampai emas pun ada di Indonesia. Maka tidak salah jika ada yang berasumsi bahwa Indonesia adalah tanah surga, meskipun rakyatnya belum bisa hidup layaknya di surga. Dan tenaga ahli untuk mengelola sumber daya alam tersebut adalah kita, generasi penerus bangsa, jangan sampai orang asing yang secara kontinu mengelola sumber daya alam kita. Kita harus bangun, jangan keenakan di nina bobokan oleh pihak asing.mengapa saat ini sumber daya alam Indonesia masih di kuasai asing? Sebut saja perusahaan tambang yang beberapa waktu terakhir menjadi topik hangat yang melibarkan petinggi negeri ini. karena Indonesia kekurangan sumber daya manusia yang terbaharukan yang mempunyai skill mempuni untuk mengelola sumber daya alam tersebut, dan cara untuk mencetak sumber daya manusia yang terbaharukan tersebut adalah dengan cara mingkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945 pada pembukaan dan pasal 31 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.

***Penulis adalah Diding Jalaludin, Mahasiswa Program Studi Akhwal Al Syakhsiyah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah