Foto Story : Kampung Songket Ogan Ilir yang Mendunia

Tampak di pingir jalan terdapat plang pegepul songket yang memasarkan produk asli dari pengrajin di Limbang Jaya, Sumatera Selatan, yang berada di Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir, tenun songket sudah menjadi sumber penghasilan masyarakat lokal.

 

Partina (20) sedang memasukan peleper keanyaman benang yang bakal menjadi kain untuk merapatkan benang sutra dan emas. Dia menjelaskan lama pengerjaan kain Songket bisa menghabiskan 7 sampai 14 hari, tergantung dengan ukuran kain dan kerumitan motif yang dibuat. Semakin rumit maka semakin lama pembuatanya.

 

Motif Cantik Manis merupak motif asli kain songket Ogan Ilir dan paling mahal di kabupaten tersebut.

 

Mayoritas penenun saat itu adalah perempuan. Dikarenakan cukup menopang perekonomian keluarga. Aktifitas inipun dilakukan turun temurun

 

Asih (45) sedang menarik salah satu cukit untuk dirapika, sehinnga membentuk motif kembang naga besaung.

 

Kain merah muda merupakan bahan dasar pembuatan songket jenis naga besaung, dimana motif ini paling terkenal diantara motif lainnya, di Sumatera Selatan.

 

Tahap Produksi diproses pengerjaan tenun menggunakan benang sutra dan benang emas ini melewati beberapa tahapan, dengan menggunakan gulungan benang dimasukan kedalam bambum yang sekarang sudah menggunakan pipa.

 

Salah satu proses yang penting dalam pembuatan tenun songket adalah membentuk motif dengan menggunakan cukit untuk menata benang di bidangan, desain songket oleh seorang penenun.

 

Pembuatan menggunakan alat tenun tradisional, sehingga produksi kain tenun yang dihasilkan tidak sebanyak kain yang dibuat menggunakan mesin

 

Proses merapikan benang dasar, sebelum ditenun menjadi sebuah songket.

 

Limbang Jaya dan Tanjung Pinang merupakan 2 desa yang terletak di Kabupaten Ogan Ilir, Kecamatan Tanjung Batu,  Sumatra Selatan. Kedua desa ini sering disebut sebagai kampung songket, sebab hampir seluruh perempuan disini merupakan penenun songket, disamping pekerjaan laki-lakinya sebagai pandai besi. Hampir sebagian penenun di desa ini merupakan keluarga, sehingga pengerjaanya dilakukan mulai dari ibunya sampai pada anak-anaknya. Sejak kecil anak-anak pengarajin songket sudah diajarkan bertenun, sehingga usaha tenun songket dapat berlangsung secara turun temurun dilestarikan oleh keluarga tersebut.

Songket sudah menjadi kehidupan di desa ini, baik Limbang Jaya ataupun Tanjung Pinang, setelah besi-besi yang disulap oleh pandai menjadi perkakas rumah tangga atau senjata tajam oleh warga lelaki. Saat pagi tiba, perempuan disini memulai aktivitas masak atau bersih-bersih dirumahnya, bagi yang telah berkeluarga. Namun untuk remaja perempuan, mereka akan memulai bertenun biasanya mulai dari pukul 07.00 WIB  dan nantinya akan disusul oleh kaum ibu-ibu yang telah selesai dengan pekerjaan rumah. Mereka biasanya bertenun hingga sore.

Partini (20) yang sudah sejak pagi menenun benang-benang perpaduan sutera alam dan emas, menceritakan awal mula ia menjadi seorang penenun. Saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia memang sudah diberi pengetahuan terkait motif atau pola kain songket, dan mulai belajar menenun dengan ibunya yang juga penenun.

“Saya sempat kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta Palembang waktu itu, cuma disuruh ibu kembali kesini untuk melanjutkan pekerjaan tenun songket ini. Biar ada penenrus nantinya,” katanya saat diwawancarai sambil menggerakan tangannya kesana-sini untuk menarik dan merapikan benang.

Selain itu, remaja yang sering dipanggil Tina oleh warga desa ini juga menjelaskan, ada beberapa motif yang terkenal dari desa ini, Yaitu Naga Bersaung, Cantik Manis dan motif yang sedang ia buat.

“Untuk 1 kain itu biasa dihargai senilai Rp.600 ribu sampai Rp.1 juta keatas, tergantung ukuran, kualitas benang dan motifnya. Kalau disini motif yang paling terkenal ada naga bersaung, cantik manis, dan motif yang Saya buat ini. Kalau sudah di puring akan beda lagi harganya. Tapi yang biasa menyulap songket buatan kami menjadi rok, baju dan lainnya itu pengepul tempat kami menyerahkan hasil tenunan. Kami hanya membuat songket saja,” tambahnya kepada saya.

Untuk pengerjaan pola atau motif yang Indah, para penenun menggunakan “cukit” untuk membuat motif yang mereka dapatkan dari membayar orang untuk membuatnya.

“Cukit-cukit ini biasanya kami membayar orang sesuai dengan motif yang kami ingin buat, atau sesuai pesanan konsumen,” jelasnya lagi.

Setelah kain tenunan sudah jadi, hasil kerja perempuan desa ini akan diterima oleh pengepul. Salah satuya Darmo yang dikenal sebagai salah satu tuan songket kedua desa ini yang sempat Saya sambangi kediamannya.

Dalam obrolan kami, Darmo menjelaskan bahwa pengrajin songket di desa ini sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sebab nenek moyang disini juga merupakan pengrajin songket.

“Sekarang sudah masuk generasi 5 keatas. Kain songket disini sekarang juga sudah mendunia. Kami para pengepul, biasanya melakukan penjualan sampai ke luar negeri, salah satunya Malaysia. Kalau untuk lokal, songket disini sudah sampai Kalimantan,” katanya.

Saat ditanya perihal songket disini yang terkenal, Darmo kembali menceritakan sebab orang-orang tahu hanya songket Palembang.

“Wajar jika orang-orang tahunya songket Palembang, soalnya walaupun kami menyalurkan sampai keluar kota atau negeri, tapi tempat penjualan besarnya itu di Palembang.” jelasnya.

Saat ini songket di desa ini tidak hanya dibuat sebagai baju, rok atau selendang saja, tapi ada inovasi baru seperti peci songket, tas songket dan sebagainya.

 

Foto : Mita Rosnita

Reporter : Mita Rosnita

Editor : Fitria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *