Features

Jejak Sejarah Era Pemerintahan Palembang Darussalam

Cungkup Utama yang berisi Makam Sultan Mahmud Badaruddin I beserta istri-istri dan gurunya di Kawasan Pemakaman Kawah Tekurep, Kota Palembang, Rabu (14/02/2016).Ukhuwahnews/doc.Ukhuwah.

Saat memasuki gerbang utama komplek pemakaman, mata sudah dihidangkan dengan pohon-pohon besar rindang yang menyejukkan. Untuk tiba di area depan pemakaman para Sultan, kita harus berjalan 100 meter kedalam kawasan pemakaman. Sebelum pintu masuk terdapat pos penjagaan disebelah kiri yang akan menyambut kedatangan pengunjung atau pun peziarah. Pemakaman Kawah Tekurep merupakan jejak sejarah dari para ulama dan sultan di era Pemerintahan Palembang Darussalam.

Kawah Tekurep berlokasi di Jalan Blabak, Kelurahan Tiga Ilir, Palembang. Menurut penjelasan juru kunci, nama pemakaman Kawah Tekurep diambil dari bentuk cungkup atau kawah (bahasa palembang kuali) yang di tengkurapkan, (Palembang: tekurep). Berjarak 100 meter dari sebelah utara Sungai Musi. Kawah Tekurep ini didirikan atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin I, atau Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo pada tahun 1728 Masehi. Komplek kawasan pemakaman terletak lebih tinggi dibandingkan dengan daerah disekitarnya.

Gerbang kawasan Kawah Tekurep memiliki makna pada arsitekturnya, terdapat enam buah kubah berwarna emas berada di pintu masuk sebelum makam utama, yang melambangkan rukun iman. Sedangkan lima buah kubah disebelahnya melambangkan rukun islam. Setiap tiang-tiang besar yang mengelilingi tembok pagar melambangkan 99 Asmaul Husna. Suasana yang begitu teduh dengan pepohonan disekelilingnya membuat para pengunjung akan merasa nyaman saat berziarah.

Dalam kawasan pemakaman ada empat cungkup, tiga cungkup diperuntukkan bagi makam para sultan dan satu cungkup untuk putra-putri Sultan Mahmud Badaruddin, para pejabat, panglima dan hulubalang kesultanan.

Cungkup utama memiliki bangunan yang begitu kokoh, dengan lebar 10 meter, panjang 10 meter dan tinggi 15 meter. Berdasarkan cerita juru kunci juga, ketebalan tembok mencapai 1 m 20 cm sehingga bangunan tidak pernah direnovasi secara besar-besaran karena masih sangat kokoh. Hanya saja pengecatan pada temboknya lebih ditingkatkan. Pintu masuk yang begitu tinggi hingga 3 meter 60 cm. Ada enam makam didalam cungkup utama, satu makam Sultan Mahmud Badaruddin I yang wafat pada tahun 1756 M. Kedua, makam istri pertama beliau yakni Ratu Sepuh atau Raden Ayu Ciblung yang berasal dari Surakarta (Solo, Jawa Tengah). Ketiga, makam Ratu Gading yang merupakan istri kedua beliau berasal dari Kelantan, Malaysia. Keempat, makam istri ketiga Sultan berasal dari Cina yang bernama Mas Ayu Ratu atau Liem Ban Nio. Kelima, makam istri keempat Sultan bernama Nyimas Naimah yang berasal dari 1 Ilir Palembang. Terakhir Makam Imam Sayyid Idrus Al Idrus berasal dari Yaman Selatan yang merupakan Guru Spiritual dari Sultan Mahmud Badaruddin I.

Pada cungkup kedua terdapat makam Pangeran Ratu Kamuk yang wafat pada tahu 1755 Masehi. Selanjutnya Ratu Mudo yang merupakan istri dari Pangeran Kamuk. Terakhir Makam Imam atau Guru Penasihat Sultan bernama Sayyid Yusuf Al Angkawi.

Dalam cungkup ketiga ada makam Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo yang memerintah dari tahun 1758-1776 M, makamnya diapit oleh Imam Sultan Sayyid Abd Rahman Maul Tuga’ah di sebelah kanan dan permaisurinya bernama Mas Ayu Dalem di sebelah kiri. Serta makam keluarga Sultan Ahmad Najamuddin yang tidak diketahui namanya.

Cungkup keempat berada di teras kedua, berisi makam Sultan Mahmud Bahauddin, makamnya diapit oleh makam Imam Sultan Datuk Murni ‘I-Haddad dan makam isterinya Ratu Agung. Di samping itu terdapat makam Pangeran Jaya Wikrama serta orang- orang yang tidak diketahui namanya.

Banyak perbedaan bentuk nisan setiap makam yang ada berada di Kawah Tekurep. Bentuk nisan untuk makam para Sultan termasuk tipe Demak-Tralaya, sedangkan bentuk nisan makam para ulama sultan menggunakan tipe Aceh. Dikarenakan asal-usul Raja atau Kesultanan Palembang berasal dari Jawa, sedangkan untuk makam para ulama atau imam sultan juga menggunakan tipe Aceh, walaupun sebenarnya imam sultan tersebut bukanlah orang Aceh melainkan orang Arab yang bertempat tinggal di Aceh.

Reporter : Wfi

Editor : Mae

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah