Puisi

Hujan Luka

/net.

Pagi ini, aku membuka bait pertama larik hujan,

Mulai gerimis sampai gemuruh.

Awalnya hanya satu, dua rintik,

Kemudian tiga empat lima menjadi prasangka.

Terus turun sampai ke tanah rasa,

Jauh air mengalir menjadi amarah.

Jatuhnya hujan berdetak pada pori tanah terdalam.

Mendarah daging air mengendap,

Hujan, air hujan berawal.

Lalu menjadi salah, prasangka, amarah.

Tidak menyuburkan taman bunga ruksa,

Tuhan rupanya bukan menurunkan hujan sepele,

Dia racik hujan beserta tangis,

Bernama hujan luka.

(Maya Citra Rosa)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah