Hari Perempuan Internasional, Pantaskah Diperingati?

Sumber: Internet

Hari perempuan Internasional, taukah anda kenapa di seluruh negara memperingati hari perempuan Internasional?, atau anda hanya tau di Indonesia saja yang memperingati hari ini?, Sebelum berlanjut panjang lebar tentang hari perempuan Internasional, sebaiknya kita harus tahu dulu  kenapa alasan dunia memperingati hari perempuan ini.

Sebenarnya hari perempuan Internasional bermula dari aksi unjuk rasa kaum wanita di New York yang didukung oleh Partai Sosialis Amerika pada 1857 lalu, saat itu terjadi protes dari wanita buruh yang bekerja di pabrik tekstil di New York. Tindakan semena-mena dan upah rendah menjadi alasan aksi tersebut. Namun, belum ada dampak lanjutan yang signifikan setelah unjuk rasa itu.

Aksi di New York itu memicu gerakan-gerakan serupa di beberapa negara Eropa pada 19 Maret 1909 dengan tujuan sama, yakni memperjuangkan hak pilih untuk kaum perempuan. Jennifer Trainer Thompson dalam bukunya The Joy of Family Traditions (2011) menyebut aksi-aksi ini melibatkan lebih dari satu juta orang dari seluruh dunia. Pada bulan yang sama, terjadi kebakaran di New York yang menewaskan 146 orang buruh perempuan. Musibah ini sontak menjadi sorotan, termasuk kondisi dan perlakuan buruk yang dialami kaum buruh wanita kala itu. Hal ini semakin menguatkan tekad bahwa kaum perempuan sedunia harus bergerak bersama demi kesetaraan.

Di Kopenhagen, sosialis Jerman bernama Luise Zietz mengusulkan agar Hari Perempuan Sedunia segera dikukuhkan. Dikutip dari International Socialist Conferences of Women Workers (1984) karya Alexandra Kollontai, usulan ini disetujui sebagian besar peserta, namun belum diputuskan tanggal peringatannya.

Saat itu masih menjadi perdebatan mengenai kapan tanggal yang paling tepat dijadikan sebagai Hari Perempuan Sedunia. Sebab terjadi dua peristiwa sejarah penting melibatkan perempuan dalam satu bulan, ada dua pilihan. Pertama, tanggal 8 Maret, sesuai dengan tanggal dilakukannya unjuk rasa kaum buruh perempuan di New York pada 1857 atau pilihan kedua tanggal 19 Maret, pilihan ini didasarkan pada digelarnya aksi demonstrasi kaum perempuan secara serentak di beberapa negara di Eropa tanggal 19 Maret 1909.

Tanggal 19 Maret 1911, lebih dari sejuta orang di Eropa, meliputi sejumlah negara termasuk Austria, Hungaria, Denmark, Jerman, dan Swiss, menggelar aksi demi mewujudkan hak politik, hak memilih, serta hak jabatan publik untuk perempuan. Mereka juga memprotes perlakuan diskriminatif, termasuk seks, terhadap buruh wanita di tempat kerja. Ditempat lain para pendukung 8 Maret juga terus bergerak setiap tanggal itu. Di Amerika Serikat, setiap tanggal 8 Maret sudah diperingati sebagai Hari Perempuan Nasional di negara itu, dan terus dirayakan setiap tahunnya. Demikian pula di beberapa negara di Eropa, yakni Rusia, Jerman, Inggris, dan lainnya, digelar kegiatan khusus setiap tanggal 8 Maret, untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.

Proses menuju penetapan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia masih panjang, karena situasi yang masih sering labil lantaran perang panjang pada masa-masa itu. Meskipun begitu, setiap tanggal 8 Maret selalu dirayakan dengan berbagai cara oleh kaum perempuan di berbagai negara.

Hingga akhirnya, tanggal 8 Maret 1975, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mulai memperingatinya walaupun belum ditetapkan secara resmi. Peresmian tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia terjadi dua tahun kemudian, tanggal 8 Maret 1977, dan terus diperingati hingga saat ini.

Nah, dari sejarah singkat diatas dapat kita simpulkan bahwa dunia memperingati hari perempuan Internasional ini bertujuan untuk kesetaraan gender. Namun apakah tujuan ini sudah terealisasi?

Mari kita telaah, menurut saya tujuan ini belum terealisasi secara utuh, contohnya saja upah kerja yang berbeda jauh antara perempuan dan laki-laki, dan perempuan masih belum diperlakukan setara dalam dunia bisnis, pendidikan dan politik, banyak data dari berita-berita menunjukkan kekerasan masih sering terjadi pada perempuan, di Indonesia masih banyak perempuan yang belum mendapatkan pendidikan layak karena faktor penghambat, seperti faktor budaya dan ekonomi. Dari segi budaya ada pandangan bahwa perempuan sebaiknya hanya menjadi ibu rumah tangga, tidak sedikit orangtua yang memiliki perekonomian terbatas lebih mementingkan anak laki-lakinya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik karena pemikirannya yang kuno tentang perempuan hanya untuk di kasur, dapur, dan sumur. Pemikiran tersebut jelas salah besar, pemikiran ini yang menyebabkan langkah untuk maju dan berkarya semakin terbatas. Padahal dari sejarah, banyak contoh bahwa perempuan tidak kalah hebatnya dari laki-laki, contohnya saja Pahlawan Perempuan Kartini, yang mampu terus berproduksi dan berprestasi ditengah minimnya kesempatan perempuan untuk berkarir.

Kesetaraan gender belum terealisasi di negeri ini, lihat saja perempuan-perempuan yang ingin tampil diruang publik. Banyak dari mereka kerap dicibir sebagai pecinta kebebasan, kebablasan, sampai dicap sebagai perempuan tidak layak diperistri, sebab mereka tidak mungkin menjadi seorang ibu. Kalau dalam bahasa agama bukan dianggap sebagai perempuan Shalihah. Sementara perempuan Shalihah itu adalah yang nurut, yang mau diatur suami, yang tidak boleh membantah suami. Karena di dalam keluarga, suami adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Maka MUNAFIKLAH orang-orang yang di ranah publik teriak koar-koar tentang kesetaraan gender, kebebasan, dan hak asasi manusia tetapi tetap menjadikan istrinya atau perempuan sebagai warga kelas dua. Pemikiran tentang perempuan tempatnya cuma di kasur, dapur, sumur, bukan penguasa dan pengendali struktur adalah pemikiran yang tidak pantas lagi.

 

Penulis : Rahmi Widya Lestari (Mahasiswi Jurnalistik 2016 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *