Hargai Kehidupan Anakmu ini Ibu

sumber: internet

Penulis: Siti Srijaya Agustina (Pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah dan Mahasiswi Jurusan Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang).

 

Seorang perempuan berkulit hitam, tinggi semampai dan menggunakan hijab setiap harinya ini, mempunyai 5 saudara, dua saudara laki-laki dan tiga lainnya saudari perempuan. Perempuan itu bernama Tina, dimana kehidupan Tina tidaklah baik dibandingkan saudara lainnya. Selain fisik yang menjadi perbedaan, Tina pun mempunyai kemampuan otak yang tidak sebaik adik-adik dan kakak perempuannya, karena itulah Ibunya selalu membedakan Tina dengan anaknya yang lain.

Tina adalah seorang wanita yang dibilang tidak terlalu jelek, hanya saja jika dibandingkan dengan saudari lainnya, Tina termasuk wanita yang tidak bisa mengalahkan kecantikan dan kepintaran yang dimiliki saudarinya itu. Terutama dengan adik Tina yang bernama Fatimah, seorang perempuan berwajah putih, memiliki hidung yang mancung dan tinggi semampai ini merupakan salah satu kebanggaan ibu Tina yang sangat disayang, bagaimana tidak, Fatimah sewaktu sekolah selalu mendapatkan peringkat tiga besar, beda sekali dengan Tina yang hanya masuk sepuluh besar sewaktu Sekolah Menegah Atas (SMA).

Tina terlahir dari seorang ibu yang sangat galak dan judes dan mempunyai seorang ayah yang egois dan sangat pelit. Kehidupan Tina sangatlah menyeramkan, dimana orang terdekat Tina yang seharusnya menjadi contoh dan pelindungnya malah menjadi penyebab utama keinginan terbesar Tina untuk mengakhirkan hidupnya.

Ibu Tina bernama Tiya, selain sebagai ibu rumah tangga juga sebagai pedagang kecil dirumahnya. Ayah Tina bernama Edwin, seorang wiraswasta yang mendapatkan penghasilan Rp.2. 000.000. 00 juta/bulan yang tidak cukup untuk memenuhi kehidupan lima anaknya dan istrinya. Karena penghasilan yang tidak cukup inilah ibu Tina selalu marah-marah dan tidak asing lagi Tina lah yang harus merasakan kemarahan Ibunya.

Tapi hebatnya Tina dan saudaranya adalah seorang yang berpendidikan, kakak Tina yang kedua merupakan sarjana dari universitas swasta di Palembang, kakak perempuan Tina pertama seorang sarjana dari Universitas Negeri di Palembang, adik Tina bernama Fatimah seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Palembang dan Tina sendiri mahasiswi disalah satu Universitas negeri di Palembang tepatnya sama dengan kakak perempuan Tina yang pertama, tina sendiri  satu  tahun lagi akan menyesaikan kuliahnya.

Akan tetapi, hal ini tidak membuat Tina bahagia. Setiap harinya Tina selalu dimarahi Ibu kandungnya sendiri, yang menjadikan warna kehidupan Tina semakin gelap gurita,  inilah yang menjadi alasan terbesar Tina selalu berpikir untuk mengakhiri kehidupannya selama-lamanya.

Tina selalu dimarahi ibu kandungnya, dalam hal apapun baik itu keuntungan ibunya maupun kebahagiaan saudarinya, iyaaa? Semua apa yang dilakukan Tina selalu salah di mata ibunya, sampai pada suatu hari dimana Tina mulai kesal dan kecewa dengan ibunya yang sangat kelewatan dalam mengutarkan kata kepada Tina saat mereka bertengkar masalah adik Tina yang mulai kurang ajar dengan ibunya dan Tina hanya memarahi adik perempuannya yang bernama Fatimah untuk lebih menjaga sikap dengan ibu nya.

“Dik, lain kali cara berbicara dengan orang tua itu dengan sopan,” ujar Tina.

“Apaan sih luh, seterah gue lah loh siapa,” jawab Fatimah.

Tanpa berpikir panjang, Tina pun mengeraskan suaranya dan menarik rambut Fatimah yang sebagai pelajaran untuk adiknya agar bersikap baik dengan ibunya, mendengar suara Tina ibunya pun mendatangi Tina dan Fatimah yang sedang bertengkar di kamar mereka.

“Hey ada apa ini,” tegur Ibunya sambil membuka pintu

Seketika pun Tina melepaskan tanggannya dari rambut adiknya itu

“Tidak ada apa-apa bu, Tina hanya memberi pelajaran dengan Fatimah untuk menjaga sikap dengan ibu,” jelas Tina.

“Jangan sok ngasih pelajaran Tin, lihat aja hidup kamu yang tidak ada apa-apanya dengan adik kamu sendiri, adik kamu pinter sedangkan kamu cuma bisa ngabisin uang aja lihat adik dan kakak-kakakmu semuanya berkerja semuanya dapat penghasilan sedangkan kamu,” jawab Ibunya dengan nada tinggi.

Tina pun tertunduk dan menangis berseduh

“Ibu, Tina  masih kuliah, Tina juga mau bantui Ibu untuk mencari uang sama seperti yang lainnya tapi nanti bu, ketika Tina sudah selesai kuliah, kuliah ku jadwalnya padat bu, jadi ini alasan Tina untuk tidak mencari pekerjaan dulu tapi fokus dengan kuliah bu,” tutur Tina dengan wajah yang sedih dan kecewa.

“Ahh sudahlah, kamu tidak akan menjadi seseorang Tin, ini aja kami binggung apakah kamu harus dilanjutkan kuliahnya tau berhenti saja, karena sayang juga uang ibu dengan ayah terbuang saja kalau kamu tidak bisa menjadi sukses,” ucap Ibunya.

Ibunya pun menarik tangan Fatimah dan mengajaknya pergi dengan meninggalkan Tina di kamar sendiri.

“Sini nak tinggalin aja ayuk (panggilan kakak perempuan:red) kamu satu ini, percuma dengan orang bodoh sepertinya,” ujar Ibunya sambil memegang tangan Fatimah dan mengajaknya keluar.

Tanpa sadar kata-kata yang dilontarkan ibunya membuat Tina terlalu sakit hati dan mulai melupakan siapa dia dan siapa keluarganya.

Keesokan harinya, Tina dipanggil ibunya untuk membuka toko kecil nya,

“Tinaaaa, Tinna Tinna, mana sih nih orang,” teriak Ibunya.

Dengan wajah kesal, ibunya pun langsung menendang badan Tina yang masih tertidur nyenyak di kasurnya.

“Bangun Tina, tidur saja kerjaaanmu, toko tuh buka, cepat,” ucap Ibunya dengan emosi membara.

“Enggak mauuu, maaf kamu siapa kenapa berani-beraninya menendang, kamu siapa hah,” jawab Tina dengan mendorong ibunya. Seketika sikap dan perilaku Tina pun berubah.

Ibunya pun terkejut dan mengeraskan suaranya sehingga anggota keluarga terbangun dan berkumpul di kamar Tina dan Fatimah.

“APAAAA,” teriak Tina.

“Kamu kenapa hah?,” tanya ayahnya.

“Mungkin anak bodoh ini sedang gila,” ujar Ibunya.

“Hey orang tua, diam jaga mulutmu atau ku sobek mulut mu itu, kenapa kalian heran kah, iyaa ini aku Tina seorang anak yang selalu dibedakan, seorang anak yang hanya merugikan orang tuanya,” jawab Tina.

“Kamu kenapa tin,” tanya Kakak Perempuan tina.

“Jangan sok kamu kak, kamu siapa tidak pernah membela aku ketika dimarah ibu, cukup kemunafikan kalian, iyaa aku sudah sadar, mumpung kalian ada disini  semua hahahha,  lihat ni apa (menujukan pisau) dan seketika keluarga pun tegang,” jawab Tina dengan amarah yang bergejolak.

“Tin lepaskan pisau itu,” pinta Kakak laki-lakinya.

“Tidak,” sanggah Tina

“Buang pisau itu anak bodoh,” pinta Ibunya.

“Hahhaa, aku suka panggilan itu ibu kesayanganku, ibu yang melahirkanku selama 9 bulan, ibu ak terima kasih dengan kebaikanmu yang telah melahirkanku dan mengajarkanku arti kehidupan yang penuh dengan warna hitam. Setiap saat, setiap hari ibu dan kalian semua tidak pernah melihatku, tidak pernah menghargai keberadaanku, kenapa? apa salahku dengan kalian aku berusaha menjadi anak yang baik dan menjadi saudara yang patuh tapi apa yang aku dapat hanya hinaan dan kataan. Bu, aku sangat menyayangi dirimu sangat mencintai dirimu tapi hargailah kehidupan anakmu ini,” ucap Tina mengeluarkan keemosiannya selama ini

Ibunya hanya bisa terdiam

“Hah, lihat pisau ini, lihat apa yang akan saya lakukan ibu demi membahagiakan kamu, ahhhhhhh,” ucap Tina lalu menusukan pisau kebagian tubuhnya.

“TINNAAA,” teriak Keluarganya.

.

.

.

Dengan kejadian itu, Tina pun meninggal dunia ketika diantar ke rumah sakit, tapi hal itu tidak membuat ibu Tina menangis ataupun menyesal dengan  kehilangan nyawa anaknya, Ibunya malah memikirkan uang saja ketika mayat Tina sudah selesai dikubur.

“Dasar anak itu mati aja nyusahi,” gumam Ibunya.

Keesokan harinya, setelah kepergian Tina, ibunya membersihkan kamar dan baju-baju Tina yang akan dibuang, dan terkejutnya ibunya melihat banyak uang di tas Tina dan berisi surat dari pihak kampus karena tidak pernah membayar kuliah dan terpaksa harus diberhentikan, dan terdapat surat didekat foto Tina, yang berisi untuk ibunya.

“Ibu, kamu benar, aku hanya bisa menghabisi uangmu, jadi dari awal sebenarnya aku tidak kuliah, heheh ak malah mencari kerjaan dan ini adalah hasil anakmu ini Ibu, lumayan yah bu , mungkin saat Ibu  membaca surat ini, Tina sudah tidak ada lagi bu, maaf bu, Tina selama ini berbohong dengan ibu dan semuanya, Tina minta maaf sebesar-besarnya.,” tulis Tina dalam surat tersebut.

Setelah membaca, ibunya pun menangis terseduh-seduh, penyesalan terlihat jelas diwajahnya dan ibunya pun bergegas ke makam Tina dan meminta maaf denganTina atas kesalahannya.

“Tina, maafkan ibumu ini nak, Ibu salah, Ibu minta maaf nak (dengan meundukan kepala dan mencium batu nisan Tina), maafkan ibu nak,” sesal Ibunya.

 

END___

 

Pesan Moral dari Penulis: “Anak tetaplah anak, bagaimanapun bentuk anakmu, jelek ataupun cantik, pintar ataupun bodoh, kaya ataupun miskin dia masih anakmu yang akan memelihara dan menjagamu ketika tua nanti, jika dirimu tidak menginginkannya maka lebih baik bunuhlah dia dari awal sebelum lahir, setidaknya masih ada orang beruntung yang tidak melihat aib mu yang ditutupi tuhan sampai saat ini.”

Satu tanggapan untuk “Hargai Kehidupan Anakmu ini Ibu

  • 4 Juli 2019 pada 21:14
    Permalink

    Semua yang terjadi adalah ujian untuk kita. Tetap semangat “Tina” walaupun sering di beda-bedakan. Semua itu akan selalu jadi motivasi untuk kita “Tina”. Keep Smile.
    From : Tetanggamu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *