Artikel

Diskursus Distingsi UIN Raden Fatah Palembang

Afriantoni, M.Pd.I
(Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Raden Fatah Palembang)

Gedung Rektorat UIN Raden Fatah Palembang. Ukhuwahfoto/Dok. LPM Ukhuwah

Diskursus pemikiran distingsi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah bergulat secara alami. Ragam pemikiran tentang distingsi UIN Raden Fatah adalah fenomena akademik yang masih berkembang sampai saat ini. Antara ide, konsep, teori dan realita yang menjadi tuntutan secara luas. Selain itu, tuntutan pasar dan percepatan pengembangan lembaga merupakan realitas nyata. Demikian pula basis pengembangan yang dihubungkan secara korelatif Islam dengan kerajaan Sriwijaya, serta Islam dengan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pergulatan tersebut “lumrah” adanya, karena pengembangan lembaga untuk merenkonstruksi eksistensi dengan melacak akar historis yang mewarnai para pemikir di UIN Raden Fatah. Dinamika arah “distingsi” perkembangan kelembagaan dan keilmuan memang selayaknya dibicarakan terbuka agar dinamika keilmuan dan kekhasan UIN terbaca di mata publik. Berikut diuraikan distingsi UIN Raden Fatah yang berbeda dengan universitas lainnya, baik dalam konteks lokal, nasional maupun internasional. Diantaranya yang paling jelas adalah berbasiskan Islam.

Berbasis Islam

Kekhasan UIN ini sudah nyata dalam singkatan UIN dengan simbol huruf “I”. “I” adalah Islam. Namun, pendalaman persoalan keislaman ini perlu dimunculkan mengingat, UIN Raden Fatah ke depan bukan sekedar mencetak agamawan, tetapi juga ilmuwan. Walaupun selama ini agamawan dan ilmuwan sudah dikembangkan, namun dengan UIN, tentu aspek keilmuannya akan lebih luas.

Dalam konteks “Rumah Ilmu” yang disepakati sebagai basis integrasi-ilmu untuk UIN Raden Fatah, juga masih relevan dibicarakan. Karena secara menyeluruh “Rumah Ilmu” belum menjadi pijakan akademik untuk diturunkan dalam bentuk kerangka kurikulum dan pengembangan Fakultas. Walaupun dicantumkan dalam proposal pengembangan lembaga, tetapi arah pengembangannya tidak mengacu secara filosofis dan komprehensif terhadap “rumah ilmu” yang sudah disepakati.

Kemungkinan yang dapat dikatakan bahwa basis “Islam” juga masih diperdebatkan, walau tidak secara terbuka. Namun, kontekstualisasi “rumah ilmu” dalam kerangka pengembangan lembaga semestinya dapat dijadikan basis fondasinya. Tidak serta merta menentukan program studi semata-mata yang terkadang tidak ada relevansinya dengan pengembangan studi-studi keislaman. Alih-alih pengembangan menjadi sukses, justru hal seperti di beberapa program studi di UIN mengalami stagnasi, terutama program studi berbasis Islam. Bagaimana upaya pembenahan, perbaikan dan pengembangannya masih dalam tanda tanya.

Melayu-Nusantara

Bagi UIN Raden Fatah Melayu-Nusantara adalah amanah Kementerian Agama RI yang telah disepakati secara bersama oleh UIN Raden Fatah. Untuk itu kajian Melayu Nusantara menjadi distingsi UIN Raden Fatah. Namun demikian, otokritik masih muncul mengingat kontroversinya Melayu di Sumatera Selatan (Sumsel). Bukan hanya itu, karena kajian tentang melayu di Sumsel masih sangat minim. Selain itu, persepektif melayu-nusantara masih dipertanyakan. Jika kajian melayu seperti Hardvard University mungkin tidak masalah, namun untuk Sumsel, memang masih dalam dialektika.

Melayu-Nusantara mengakomodasi nilai-nilai kultural masyarakat setempat dan sejalan dengan nilai- nilai ajaran Islam. Karenanya, kajian dan kekhasan Melayu-Nusantara menjadi sebuah tradisi Melayu-Islam. Pembentukan tradisi ini tidak lepas dari peran para ulama setempat. Setidaknya dalam kelembagaan harus diperkuat dengan sistem yang mengarah ke sana yang berbasis “Islam” telah berhasil.

Persoalannya adalah “ketepatan historis”, sejarah yang memungkinkan sekali dalam kajian adalah kerajaan Sriwijaya yang didominasi ajaran Budha dan Hindu, sedangkan Melayu didominasi ajaran Islam. Tentu meletakan Palembang dan Sumsel serta UIN Raden Fatah merupakan diskursus tersendiri.

Diskursusnya, kajian Melayu sebelum ini sudah lebih banyak diminati oleh pemikiran dari Medan, Padang dan Riau. Secara sederhana juga banyak diminati oleh sarjana Malaysia, Brunai Darussalam, dan Pattani-Thailand. Sebagian besar wilayah Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi. UIN Raden Fatah dengan berani mengambil distingsi ini bagaimana mungkin mengejawantahkan dalam operasionalisasi keilmuan. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan temu pakar yang konsisten dan memiliki visi yang sama untuk menjadikan arah distingsi UIN Raden Fatah agar menjadi clear. Pertemuan lintas keilmuan, lintas provinsi, dan lintas negara.

Dari aspek keilmuan program studi keilmuan politik Islam dan ilmu perpustakaan. Benarkah sudah cocok dan tepat  berada di bawah naungan Fakultas Adab dan Humaniora di UIN Raden Fatah?. Justru setelah mengeluarkan alumni baru dirasakan “pahit” oleh pengguna dan penerima lapangan pekerjaan.

Kemudian, ada juga program studi Sistem Informasi berada di bawah dibawah Fakultas Dakwah dan Komunikasi, tentu menyebabkan Program Studi ini menjadi belum jelas arah dan penerimaan pasar kerja. Benarkah program studi ini tepat diletakan dibawah Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Akankah lebih cocok dititipkan kepada Fakultas Sains dan Teknologi yang telah beroperasi. Jika sebagai pengembangan Fakultas Ilmu Komputer, mungkin bisa masuk akal, tetapi, jika tetap berada disana untuk selamanya, maka perlu reposisi.

Belum lagi, pasca pembentukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Sains dan Teknologi, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, serta menyusul Fakultas Psikologi yang tentu akan merujuk kepada distigsi Melayu Nusantara. Bagaimana kesiapan semua prodi-prodi embrio yang mengarah pembentukan fakultas tersebut sampai dengan hari ini belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Kemudian, terakhir mulai dibentuknya tim pembentukan Fakultas Kedokteran UIN Raden Fatah yang sedang bekerja untuk kekhasan dan kelebihannya. Merespon rencana pembentukan fakultas ini sebenarnya cermin dimana nomenklatur keilmuan di UIN Raden Fatah masih relevan untuk dikaji dan dikembangkan. Tentu saja dengan memperhatikan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal, dan potensi daerah secara komprehensif.

Belajar dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra (pendiri Fakultas Kedokteran dan mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah) pernah menjelaskan tidak mudah mendirikan Fakultas Kedokteran UIN pada saat itu. Kesulitannya mulai dari perizinan, SDM maupun fasilitas yang mahal menjadi tantangan tersendiri. Namun, berkat kegigihannya dengan jaminan dari kerjasama dengan Jepang, membuat fakultas tersebut diizinkan. Kerjasama dengan Jepang menjadi point penting dalam pembukaan fakultas tersebut, bukan semata-mata dukungan SDM, tetapi lebih dari itu Jepang membantu pengadaan fasiltas lengkap untuk pengembangan Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah. Selain itu, terakhir secara khusus UIN Syarif memperoleh dana segar dari Islamic Development Bank (IDB) untuk mengembangkan fakultas kedokteran tersebut.

Tentu, bagi UIN Raden Fatah hal tersebut sama untuk mewujudkan fakultas tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena selain harus menyiapkan SDM, pihak UIN juga harus membangun fasilitas dan kerjasama yang apik dengan lembaga donor yang fokus dalam bidang kedokteran. Langkah awal dengan membangun kerjasama dengan RS Bunda mungkin dapat terus ditingkatkan keberlanjutannya.

Market Sumsel

Selain itu, tantangan berbasis market juga sebagai dasar yang paling “menggiurkan” dalam pengembangan kelembagaan UIN. Mengapa tidak?. Sektor market akan menjawab kemana alumni UIN Raden Fatah setelah selesai kuliah. Memang terkait hal ini, para pemikiran tentang pengembangan UIN selain tim perumus dan para pengkaji lain juga harus padu untuk menformulasikan gagasan dalam konteks pengembangan kurikulum, sibalus, lembaga dan bahkan budaya apa yang akan diwujudkan dengan perubahan UIN tersebut.

Jika memperhatikan kebutuhan untuk market Sumsel, maka sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, energi, kemaritiman, dan kelautan merupakan market potensial untuk mengembangkan wilayah Sumsel. Maka sesungguhnya ada wilayah yang mungkin sudah banyak alumni dan mahasiswanya, misalnya pada fakultas atau program studi pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, energi, dan kemaritiman di perguruan tinggi negeri dan swasta, tetapi fakultas ini sesungguhnya masih dibutuhkan, karena luas lahan di Sumsel pada sektor ini masih terbuka lebar.

Secara khusus misalnya, sektor kemaritiman dan kelautan ini merupakan sektor yang belum digarap secara massal. Karena itu, seandainya, penguatan ada kemaritiman dan energi dipusatkan di UIN Raden Fatah, tentu sektor ini akan mengalami perkembangan signifikan. Bukan semata-mata searah dengan nawacita yang ingin digagas oleh Pemerintah Jokowi-JK, tetapi secara historis sangat tepat karena kerajaan besar Sriwijaya mengutamakan sektor kemaritiman.

Jika kita melihat perjalanan sejarah jauh sebelum kedatangan pelaut Eropa, kita memiliki peranan strategis dalam bidang maritim yang ditandai dengan adanya national estaat yang bernama Nusantara I pada masa kerajaan Sriwijaya dan Nusantara II pada masa kerajaan Majapahit. Meskipun kita masih memiliki kesimpangsiuran data dari kedua kerajaan tersebut tetapi banyak bukti yang menyatakan akan tingginya peradaban dari kedua kerajaan tersebut.

Bahkan  ketinggian kedua kerajaan tersebut disebutkan oleh Soekarno dalam pidato tanggal 1 Juni 1945 yakni “Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu adalah national estaat. Kita hanya 2 kali mengalami national estaat, yaitu di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit”.

Makna yang terkandung dalam pernyataan ini ialah national estate sebagai negeri maritim yang mampu menjangkau seluruh kepulauan yang berada diantara 2 benua dan 2 samudera bahkan mencakup sampai daerah Thailand dan Filipina. Atas dasar itu Negara Indonesia sebagai national estaat yang berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945 melingkupi daerah tersebut meskipun baru sebuah gagasan (cita-cita). Kesinambungan itu berlanjut pada perjuangan-perjuangan berikutnya dalam mencapai gagasan besar tersebut.

Berdasarkan itulah, selain fakultas kedokteran maka sebenarnya sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, energi, kemaritiman, dan kelautan dapat dijadikan andalan oleh UIN Raden Fatah dalam pengembangannya. Tentu dengan mempertimbangkan berbagai sisi yang ada baik market need maupun kebutuhan strategis lainnya. Catatan terpenting semua fakultas dan program studi harus mengacu kepada filosofi UIN Raden Fatah dalam “rumah ilmu” dan distingsinya yakni “Melayu Nusantara”.

Selain itu, terkait masalah budaya, seharusnya nampak dengan jelas budaya-budaya yang dikembangkan. Membandingkan budaya islami yang diterapkan di Universitas Djuanda Bogor. Mungkin UIN bisa mengambil manfaat “distingsinya”. Contoh kecilnya, para dosen selalu menjaga wudhunya. Kemudian, setiap memulai pembelajaran dengan membaca doa, adanya lembaga khusus penjamin mutu keislaman dengan cara menerapkan shalat berjamaah, mengaktifkan masjid kampus, dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk menyamakan persepsi untuk dosen yang mengajar. Jangan sampai terjadi “ketimpangan paham keislaman” dalam menyampaikan materi perkuliahan. Kenyataan sampai saat ini dosen-dosen baru di UIN Raden Fatah belum memahami bagaimana menjadikan “rumah ilmu” sebagai filosofi dalam implementasi perkuliahan. Bahkan beberapa dosen Non-ASN yang baru diterima pun menjalankan rutinitas sesuai dengan pengalaman masing-masing. Bisa jadi persamaan persepsi ini tidak diperlukan.

Tetapi tentang “rumah ilmu” dan “melayu nusantara” seharusnya ada pembinaan khusus untuk dosen-dosen muda dan dosen-dosen baru terlebih lagi basis mereka dari universitas umum. Maka, kalau belajar dari UIN Sunan Kalijaga, dosen-dosen barunya ditatar selama empat bulan tentang budaya dan maksud dari integrasi ilmu dalam konteks jaring laba-laba yang dianutnya. Bagi UIN Raden Fatah, memang tidak perlu sepenuhnya mencontoh UIN Sunan Kalijaga, tetapi setidaknya ada konsentrasi yang mengarah ke arah pengembangan filosofi kelembagaan dan distingsi yang telah disepakati.

Sedangkan untuk mahasiswa, maka dapat belajar dari UIN Maulana Malik Ibrahim dimana penguataan bahasa dan karakter mahasiswa dibentuk di dalam asrama dengan nama Mahad Aly dimana UIN Malang dalam beberapa dekade telah mengeluarkan mahasiswa dengan IPK tertinggi sekaligus Hapal Al Quran 30 juz. Ini berarti mahasiswa tersebut cerdas otak dan hatinya.

Untuk memulai semua  tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Sebab, jangan sampai UIN secara kelembagaan “lepas kontrol” dari keinginan mendasar tentang orientasi lembaga khas Islam. Selain itu, tetap UIN memiliki komitmen untuk tidak menerima paham apapun untuk menjaga stabilitas kelembagaan. Antisipasi seperti ini sengaja diutarakan agar jangan sampai pengembangan kelembagaan menjadi lahan empuk para teroris, fundamental, sekuleris, dan radikal masuk ke dalam UIN Raden Fatah.

(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top
Kancah Kreativitas Ilmiah